Orang Banjar dan Sungai

Hubungan antar tempat, kontak antar penduduk hanya dapat berlangsung dan di laksanakan melalui jalur air seperti sungai, danau, perairan pantai, dan selat yang memberikan akses yang mudah dalam pelayaran dan perdagangan.

Posisi Banjarmasin sebagai pusat percaturan pelayaran komersial dalam lingkup nusantara dn mancanegara di dukung oleh kondisi alam dan posisi geografisnya yang bagus.

Hal ini mendorong meningkatnya volume perdagangan , hal ini semakin mendukung untuk terjadinya penyatuan secara internal antara orang Banjar dengan sungai yang semakin intens.

Banjarmasin telah masuk perdagangan regional, dan internasional dengan penyuplai bahan baku perdagangan dari daerah pedalaman, terutama dari daerah-daerah Sampit, Kotawaringin, Pagatan, Batulcin, Kotabaru, Samarinda, mapun Banjarmasin itu sendiri. Proses pengangkutan melalui pelayaran dengan jalur perairan daratan (inland-waters) sudah terjadi sejak abad ke XVI.

Posisi Kalimatan Selatan yang startegis secara posisi, dan dukungan sumber daya alamnya membuat Kalimantan Selatan memiliki kekuatan bergaining dalam perdagangan dunia sebagai tempat hubungan maupun tempat persinggahan pelayaran niaga berskala besar.

Banyaknya sungai yang ada di Kalimantan Selatan, membuat jalur periran daratan memegang peranan penting dalam dunia kemairitiman di Kalimantan Selatan.

Sungai memiliki peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan (bahkan dalam perang-perang di bumi Banjar, sungai merupakan salah satu tempat perang dan perebutan.) Begitu pentingnya sungai bagi orang Banjar, banyak kanal buatan yang dibangun untuk mempelancar transportasi periaran daratan. Namun, seiring dengan waktu. Para generasi mudanya mulai melupakan kemampuan para pendahulunya.

Begitu pentingnya kanal-kanal dalam media tranportasi bagi masyarakat Banjar, terdapat banyak istilah yang digunakan untuk penyebutan nama lain dari kanal yang dibangun seperti: anjir, handil, saka, tatah, dan antasan. Hal ini semakin jelas, dengan penamaan kampung yang berbau sungai sepert, sungai Kuripan, Sungai Gadang, Sungai Bilu, dan Sungai Belitung menunjukkan nama sungai yang menjadi nama kampung.

Semenjak dulu Banjarmasin telah menjad pusat perdagangan, dan sektor ekonomi pertanian dengan mengandalkan kanal sebagai penyuplai airnya. Namun seiring dengan perjalanan waktu, kanal-kanal itu kemudian tertutup, sebab pembangunan rumah yang semakin menjorok dan menutupi sungai, sampah, maupun pendangkalan akibat faktor lainnya. Berpindahnya orientasi masyarakat Banjar dari sungai ke daratan semakin mendorong mundurnya kebudayaan sungai orang Banjar. Tak mengherankan bila generasi mudanya, semakin tidak mengenal lagi tentang apa itu Sundak (linggis, alat yang biasa digunakan untuk membuat kanal), maupun berbagai istilah yang berkaitan dengan perairan darat.

Semenjak dulu, bagi masyarakat Banjar sungai merupakan bagian terpenting, bukan hanya sebagai alat transportasi, pelayaran, perekonomian, tapi juga sebagai sumber kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s