Evolusi Perkembangan Religi pada Manusia

https://i2.wp.com/www.travel-vancouver-island.com/images/500/totem-pole_88.jpg

contoh totem

Pengantar

S

ejarah manusia sudah di tandai ketika  manusia mulai mengenal aksara, zaman sebelum manusia mengenal aksara ini disebut dengan zaman prasejarah, nirleka, ataupun praaksara. Zaman proto sejarah ditandai dengan adanya sumber sejarah yang berasal dari luar masyarakat itu. Misalnya, zaman proto sejarah di Indonesia di tandai dengan penyebutan nama nanhai[1] oleh orang Cina. Karena sumber yang bercerita berada di Cina, jadi sumber yang berkisah itu dari luar negeri dikaitkan dengan zaman protosejarah.

Religi/Agama dan Tuhan

Tentunya akan sangat mengherankan bila kita langsung masuk ke dalam pembahasan tanpa mengindahkan apa itu makna religi/agama yang dimaksudkan dalam artikel ini.

Religi pada awalnya berhubungan dengan kehidupan dan hari kemudian, yang selanjutnya melahirkan sebuah gagasan tentang hubungan antara yang hidup dan yang mati. Gagasan ini merujuk pada kehidupan yang abadi, hubungan antara si mati dan si hidup melahirkan pemikiran tentang adanya kekuatan adikodrati yang mampu mengatur hal tersebut.

Hal ini menunjukkan akan adanya hubungan dunia supranatural dengan manusia.

Bila memperhatikan hal ini maka, kita akan mendapatkan beberapa titik orientasi, yaitu: emosi keagamaan (keyakinan religi), sikap manusia terhadap dunia supranatural, dan upacara supranatural.

Religi diartikan dengan kepercayaan akan adanya Tuhan[2]. Namun pada tahap awal, religi bukanlah agama dengan ritus yang lebih kompleks seperti agama Islam.

Kepercayaan tentang adanya Tuhan/kekuatan adikodrati melahirkan sentimen keagamaan dalam diri manusia.

Tuhan, diartikan sebagai sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb.[3]

Pencarian manusia tentang adanya Tuhan, hanya sampai pada eksistensinya saja namun tak pernah berujung pada subtansinya. Itu karena Tuhan, merupakan suatu yang gaib. Dimana Dia merupakan sesuatu yang mutlak, dan meliputi segalanya artinya tak terbatas ruang dan waktu.

Tanggapan mengenai Tuhan berbeda-beda. Agama kristen mengenal Tuhan dalam wujud manusia yang datang sebagai juru selamat dan mati untuk menebus dosa manusia, namun bagi agama lain (misal Islam) Tuhan tidak dapat ditanggap imejnya.

Kepercayaan terhadap Tuhan, membagi manusia menjadi 3 macam: pertama, teisme (mengakui wujud Tuhan). Kedua, agnotisme (meragukan wujud Tuhan). Ketiga, ateisme (menafikkan wujud Tuhan, artinya Tuhan tidak ada.)

Lalu kapan manusia mulai mengenal adanya Tuhan? Atau dengan kata lain, manusia memulai sejarahnya saat dia mulai memuja adanya Tuhan yang mempengaruhi kehidupannya?

Jawabannya adalah sejak Adam, namun eksisitensi selalu dalam pertentangan, sanggahan, penyangkalan, dan ditukar-tukar dengan sesuatu yang lain.

Konsep Tuhan, mulai dikenal dengan berbagai nama. Semua tergantung dari agama yang dianut masyarakat. Kata Tuhan itu setara dengan Dewa, Ahura Mazda, Apollo atau Dionyses bagi bangsa Yunani , Adonis dan Attis di Frigia dan Syria , Orisis dan Horus di Mesir , Bal dan Astarte di Babylon dan Cartaga . Kepercayaan-kepercayaan dan upacara-upacara agama dalam garis besarnya tidak identik tetapi persamaannya sangat menonjol.

Di Nusantara ketika Hindu belum datang, Tuhan dikenal dengan nama “Ziang”. Kita hanya bisa melihat dalam prasasti Kedukan Bukit yang bercerita tentang asal muasal Kerajaan Nasional pertama kita Sriwijaya.

Ungkapan tentang yang maha gaib, yang maha sakti dalam berbagai bahasa Nusantara ini menunjukkan bahwa kata “tuah” yang akhirnya menjadi kata “Tuhan” dalam bahasa Indonesia kita sekarang. Kemudian juga ada ungkapan yang universal dipakai hampir seluruh suku-suku di Indonesia sebelum kedatangan Hindu dan Budha adalah kata “Sanghyang Taya” “Sanghyang Tunggal”. “Sanghyang Tunggal” adalah Tuhan Yang Maha Esa, “Sanghyang Taya” yang dalam bahasa Jawa Kuno “terpelihara” yang dalam bahasa Sunda sekarang “te aya” yang berarti “tiada”, maksudnya dia yang tiada, kasat mata namun ada. Ini adalah kearifan lokal yang membuktikan bahwa sebelum ada tradisi agama besar bangsa
kita sudah bertuhan menurut keyakinannya.

Kita juga sudah mengenal konsepsi ketuhanan yang bersifat tunggal (monotheisme) yang merupakan tahap akhir dari evolusi agama pada manusia.

Fase Satu: Animisme, Dinamisme, dan Totemnisme

Alam menyediakan segala kebutuhan hidup manusia. Manusia memiliki akal dimana dia mampu mengembangkan berbagai alat yang dapat memudahkannya dalam memenuhi beragam kebutuhannya.

Manusia pada awalnya hidup secara nomaden, jadi dalam tahap awal ini manusia tidaklah menetap di suatu wilayah. Manusia kala itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melakukan perburuan terhadap hewan. Pada tahap ini sudah mulai digunakan berbagai alat yang terbuat dari batu, tulang, dan kayu sebagai senjata untuk menangkap buruannya.

Ini pula yang menjadi salah satu teori penyebaran manusia, hewan, dan tumbuhan di Nusantara serta asal mula kaum migran di benua “harapan” bagi kaum yang tanpa sadar menginjakkan kakinya melalui selat Bering di sebuah benua yang disebut dengan Amerika.

Manusia yang melakukan perburuan ini lambat laun mulai menetap, seiring dengan pengamatannya terhadap alam. Kehidupan nomaden berubah menjadi menetap (maden), bersamaan dengan itu kehidupan komunal pun berlangsung lebih intensif.

Era food gathering dan food producing ini manusia mula mengenal religi. Manusia yang melakukan perburuan dan mengumpulkan makanan (food gathering). Mereka tinggal di gua-gua, ataupun di pohon. Sentimen keagamaan manusia mulai lahir pada tahap ini, yaitu ketika manusia pada saat itu tidak mampu menyelesaikan masalahnya. Sentimen keagamaan ini menjadi sebuah pengalaman tentang “keberadaan Tuhan” adalah suatu pengalaman yang menggocangkan.[1]

Dalam evolusi mata pencarian ini, manusia yang mulai menetap, memasuki fase  yang kita kenal dengan food producing, mereka tidak lagi berburu untuk memenuhi kebutuhannya, melainkan menetap dan melakukan cocok tanam. Berawal dari sini “timbullah anggapan bahwa tanah merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan.[2]

Manusia pada tahap ini sudah tidak lagi bergantung pada alam (sebagaimana pada masa perburuan), manusia pada tahap ini sudah mulai menguasai alam (ditandai dengan kemampuan untuk mengolah alam dalam bentuk bercocok tanam yang sederhana) dan melakukan perubahan terhadap alam.

Pada tahap ini sentimen keagamaan (religi) hidup di dalam diri manusia. Anggapan akan adanya kekuatan adikodrati yang mengatur alam ini mulai lahir. Bagian yang paling menonjol itu adalah anggapan setelah manusia itu meninggal.  “. . . . bahwa roh seseorang tidak lenyap pada saat orang meninggal, sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Roh dianggap mempunyai kehidupan di alamnya tersendiri sesudah orang meninggal.[3]

Kepercayaan akan ini melahirkan apa yang kita kenal dengan animisme. Upacara kematian ini mendapatkan tempat yang istimewa, di mana seseorang yang dianggap terkemuka oleh masyarakat akan mendapatkan upacara khusus.

Pengadaan upacara yang bersifat khusus untuk mengantarkan roh nenek moyang ini pun (misal di Kalimantan Tengah, pada sebagian suku Dayak disebut dengan Tiwah[4]) dilakukan agar roh nenek moyang itu tidak tersesat. Terkadang juga kita jumpai, penyertaan harta benda dalam penguburan tersebut. Hal ini dilakukan tidak lain agar roh tersebut memiliki cukup bekal.

Lalu siapakah yang berhak untuk dimakamkan secara kedua? Mereka yang kuat secara lahir dan batin, memiliki keunggulan di antara sesamanya, merekalah yang menjadi pemimpin suku. Pemimpin suku yang telah meninggal ini, kemudian dianggap sebagai pelindung dan penghargaannya dilakukan dengan melakukan pemujaan. Roh leluhur ini dianggap berhubungan langsung dengan manusia. Roh ini digambarkan berada di atas dunia yang disimbolkan dengan di atas gunung. Inilah mengapa bangunan menhir dibangun berundak.

Kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang (anima) ini pun dikenal dengan nama Animisme yang dikenalkan oleh Edward Burnet Taylor.

Lalu mengapa kepercayaan terhadap roh nenek moyang ini dipercayai/dilaksanakan?

Itu, disebabkan karena roh tersebut mempengaruhi kehidupan manusia (anak cucu). Mereka perlu di jaga dan dijamu pada hari-hari tertentu agar, roh-roh ini memberikan kemudahan hidup keturunannya (anak cucunya), bahkan bila tidak di jamu dan di jaga roh ini dapat marah dan mengirimkan kesusahan.

Ada dua hal yang bisa kita tangkap di sini, yang pertama, adanya kenyataan bahwa, seseorang yang sudah meninggal tetap memiliki kedudukan yang sama dalam masyarakat. Jadi, sampai mati pun tidak terjadi mobilitas sosial yang bersifat vertikal.

Kedua, religi berhubungan dengan hidup abadi. Tentang adanya kehidupan sesudah mati yang dilalui oleh manusia. Ini menunjukkan, bahwa manusia primitif atau agama purba mengakui hal ini. jadi sangat mengherankan bila manusia modern malah mengingkari adanya Tuhan di alam semesta ini dengan kemajuan teknologinya.

Dinamisme, kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup. [5]

Hal ini berarti bahwa adanya kekuatan suci yang melingkupi benda-benda tersebut. Kekuatan suci ini di sebut dengan hierophanie[6]. Ini menunjukkan bahwa adanya kekuatan suci yang lebih tinggi dari benda tersebut, berarti adanya reinkarnasi kekuatan adikodrati tersebut.

Reinkarnasi kekuatan ini tidak bisa secara asal diimplementasikan. Artinya, reinkarnasi itu berupa penjabaran dari sebuah simbolis tertentu yang bagi manusia modern kadang diabaikan.

Benda-benda, ataupun simbol tertentu memiliki kekuatan. Misalnya: Langit: disimbolkan sebagai lambang kekuasaan.

Matahari: martabat. Bulan: kehidupan manusia, ulangan, regenerasi periodik dll.

Selain penggambaran melalui benda-benda alam, dapat juga berupa pohon kehidupan (Beringin), simpul, ataupun hal lainnya. Benda-benda itu mengungkapkan sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya sendiri.

Totemnisme atau Animalforship adalah paham yang meyakini bahwa manusia memiliki hubungan keluarga dengan binatang.

Lebih lanjut, timbullah sentimen bahwa binatang ini merupakan titisan dewa, hampir semua kepercayaan yang ada di dunia mengenal pemujaan terhadap hewan. Seperti agama Mesir Kuno yang memuja sapi ( lembu ), ular, buaya, kucing dan sebagainya. Mereka meyakini bahwa di antara para dewa ada yang sering kali turun ke bumi dengan menjelma ke dalam bentuk-bentuk bintang, seperti Dewa Horus yang sering menjelma menjadi burung Rajawali, Dewa Ptah (Cahaya) yang sering menjelma dalam bentuk lembu dan lain-lainnya. Yang paling terkenal dari binatang yang dipuja oleh orang-orang Mesir Kuno yaitu lembu APIS yang mereka puja di tempat pemujaan mereka.

Kaitannya juga terhadap konsep makro dan mikro kosmos. Kosmos berarti keteraturan, keserasian, atau keselarasan berlawanan dengan itu adalah chaos[7]. Sementara itu makro berarti besar, luas, dan mikro berarti kecil.

Makrokosmos selalu di identikkan dengan alam semesta, atau dunia atas dimana kekuatan adikodrati bersemayam.

Mikrokosmos selalu diartikan sebagai kehidupan manusia semata saja, sehingga orientasi kita kadang hanya pada dunia.

Konsep makro dan mikro kosmos ini juga diwakili oleh totemnisme. Misalnya saja pemahaman tentang dunia atas (pada orang Banjar) yang diwakili oleh burung Enggang yang menyimbolkan mengenai seorang laki-laki, dan binatang Tambun (sejenis Kerbau, yang bentuk dan rupanya tidak pernah ditemukan. Namun diyakini adanya, memiliki sayap, dan tinggal di sungai.) yang mewakili dunia bawah dalam hal ini adalah perempuan. Kepercayaan seperti ini bisa disebut dengan totemnisme. Kita dapat menyimpulkan bahwa totemnisme tidak hanya pemujaan/pengkramatan terhadap hewan, melainkan juga perlambangan makro dan mikrokosmos.

Ada juga yang mengaitkan totem ini dengan reinkarnasi manusia. Kehidupan manusia yang abadi akan senantiasa mengalami daur kehidupan, mereka yang jahat diyakini akan reinkarnasi menjadi sesuatu yang buruk. Kaitannya adalah bahwasanya reinkarnasi manusia itu tidaklah mulu menjadi manusia, melainkan menjadi hewan. Inilah mengapa? Agama Budha cendrung vegetarian, mereka khawatir akan memakan tubuh saudara/keturunan mereka yang reinkarnasi menjadi binatang.

Dari uraian ini (animisme, dinamisme, dan totemnisme) menunjukkan bahwa, religi merupakan pengakuan terhadap adanya kekuatan adikodrati yang melingkupi atau mengitari manusia.

Kekuatan adikodrati inilah yang digunakan untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh manusia. Dalam hal penggunaan kekuatan adikodrati inilah kemudian melahirkan perbedaan antara magi dan religi (dalam artian mudah adalah agama).

Magi merupakan kekuatan gaib;  upacara yang bersangkutan dengan ilmu sihir.[8]

Magi menunjukkan penguasaan terhadap kekuatan adikodrati tersebut, berbeda dengan agama yang bersifat memasrahkan diri kepada kekuatan adikodrati. Agama memiliki kecendrungan untuk masyarakat (misal: zakat dalam Islam), sementara magi bersifat perorangan (misal: pelet/teluh).

Magipun tidak selamanya bersifat destruktif, tetap ada juga yang bersifat progresif. Artinya tergantung dari si pemakainya saja yang ingin memanfaatkannya (apakah baik (magi putih) ataukah jelek (magi hitam). Pemanfaat kekuatan adikodrati ini terbagi menjadi 2 bentuk, yaitu magi tiruan (misalnya: vodo) dan magi sentuhan (misalnya: mencelakakan orang dengan menggunakan potongan kuku, rambut, dll.)

Intinya, manusia dalam fase ini memanfaatkan kekuatan adikodrati sebagai jawaban terhadap masalah yang dihadapinya. Baik terhadap pemujaan terhadap roh nenek moyang, benda-benda, dan binatang yang dikeramatkan. Pemahaman seperti ini, meliputi semua bangsa, artinya semua manusia di muka bumi mengalami hal ini pada awalnya. Orang menyebut 3 aliran itu sebagai agama purba. Pemahaman tentang pemujaan terhadap roh (anima) mencapai puncak pada era megalithikum.

Fase kedua, Polytheisme dan Paganisme.

Seiring dengan kepercayaan manusia tentang adanya roh leluhur yang meningkat menjadi dewa dan mempunyai spesialisasi. Artinya, dewa mereka memegang jabatan tertentu. Al-Lat adalah dewi kesuburan dan
peperangan. Al-Uzza adalah dewi yang memberi kekuatan, dan Manat adalah Dewi Nasib.

Di sini roh leluhur mulai terpisah dari objek, dan memiliki eksitensinya dalam bentuk karakter tersendiri.

Paganisme merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tradisi kepercayaan kepada banyak tuhan, dewa dan dewi atau agama masyarakat jahiliyah.

Ada perbedaan antara Polythiesme dan Paganisme. Polyheisme merupakan pemujaan pada dewa dengan keeksklusifan kekuatannya. Paganisme ini merujuk pada dewa-dewa yang merupakan suatu keluarga. kesimpulannya, dewa pada tahap polytheisme masih bersifat individual saja, namun pada paganisme sudah bersifat komunal ( berkelompok yang ditandai dengan adanya ayah, anak, dan roh suci).

Paganisme memuja pada lebih dari 1 Tuhan antara lain
dengan komposisi sebagai berikut :

  • · Tuhan Bapak, Tuhan Anak
  • · Tuhan Bapak, Tuhan Ibu, Tuhan Anak
  • · Tuhan yang terdiri dari berbagai kekuatan Roh-Roh(Spirit).

Tuhan Kepala dan Tuhan Anggota Percampuran dari point-point diatas.

Sebagai contoh kita dapat melihat beberapa ajaran
PAGANISME dengan komposisi Tuhan :

Arab pada zaman sebelum Rasulullah: Al-Lata(Tuhan Bapak),
Al-Uzza (Tuhan Anak Lelaki) Manah (Tuhan Anak Perempuan) merupakan trinitas.

Israel pada zaman sebelum Isa a.as : Hublaa (Dewa Bulan), Baal (Dewa
Hujan), Yam (Dewa laut), Asyera(Dewi Kesuburan), Mot (Dewa Kematian) dan Dewa-dewa lainnya.

Yunani : Zeus (Chief of God), Neptunus(Anggota) dll

Persamaan lainnya adalah, dewa-dewa itu memiliki nama yang berbeda-beda, tergantung karakteristik. Pemujaan itu dilakukan terhadap berbagai dewa terjadi pada masa kerajaan. Disini telah terjadi hirarkis (tingkatan) dalam pembagian dewanya, hal ini menunjukkan akan adanya kompleksitasnya dalam perkembangan agama saat itu.

Di dalam pemujaan berbagai Dewa ini dikenal adanya mitos yang terkadang menjadi rasionalisasi terhadap asal muasal manusia.

Mitos (dari Greek μύϑος mythos) menurut pengertian Kamus Dewan, adalah “cerita (kisah) tentang dewa-dewa dan orang atau makhluk luar biasa zaman dahulu yang dianggap oleh sesetengah golongan masyarakat sebagai kisah benar dan merupakan kepercayaan berkenaan (kejadian dewa-dewa dan alam seluruhnya).”[9]

Sementara itu Kamus Besar Indonesia (2008) menyebut mitos sebagai: cerita tentang dewa-dewa yang berhubungan dengan bermacam kekuatan gaib; cerita tentang asal-usul semesta alam atau suatu bangsa yang mengandung hal-hal yang ajaib.

Terkadang mitos ini tidak bisa dibantahkan. Mitos bukanlah sejarah, kita tidak menemukan fakta sejarah untuk membenarkannya, namun masyarakat yang mempercayai mitos inilah yang menjadi sejarah.

Mitos juga digunakan sebagai rasionalisasi untuk mempertahankan kekuasaan seorang raja. Dapat kita jumpai tentang cerita Ratu Junjung Buih pada masyarakat Banjar, ataupun cerita tentang Nyi Loro Kidul pada masyarakat Jawa. Keterkaitan dengan kekuatan adikodrati inilah yang menjadi sarana untuk melegalkan kekuasaannya.

 

Fase ketiga, Monotheisme/Panteisme

Keyakinan akan banyak Dewa itu berubah menjadi satu Dewa saja. dewa-dewa yang memiliki banyak karakter itu berubah menjadi satu yang meliputi semuanya (Panteisme).

monoteisme (berasal daripada Greek μόνος “satu” dan θεόςDewa“) merupakan kepercayaan kewujudan hanya satu dewa, atau keesaan Tuhan. Dalam konteks Barat, konsep “monoteisme” cenderung didominasi oleh konsep Tuhan dari agama Ibrahimiah dan konsep Tuhan Plato seperti yang dicadangkan oleh Pseudo-Dionysius si Areopagite.[10]

Panteisme (bahasa Greek: πάν (pan) = segala + θεός (theos) = Tuhan, artinya “Tuhan adalah Segalanya” dan “Segalanya ialah Tuhan”) ialah kepercayaan bahwa segalanya membentuk satu Tuhan abstrak yang ada di mana-mana dan menyelubungi segalanya; ataupun alam semesta, atau alam semula jadi, bersamaan dengan Tuhan.[11]

Pemahaman lahir di era demokrasi, dimana mistik/spriritualitas mulai berkembang. Hal Ini menunjukkan, bahwa agama mulai mengalami evolusi di dalam diri manusia. Hubungan manusia dan Tuhan tidak lagi memiliki perantara.

Walau kita tidak menafikan pada fase sebelumnya, agama juga mengalami proses pematangan yang berjalan melalui pendewasaan diri manusia. Dimulai sejak manusia itu berada dalam kandungan. Sentimen keagamaan disentuhkan oleh orang tua kepada bayi yang ada di dalam kandungan. Inilah mengapa, dalam Islam anak yang berada dalam kandungan didengarkan surah-surah dalam Al-Qur’an. Fase terpentingnya itu berada pada fase anak-anak, walaupun tanpa adanya kritik namun pengalaman pada fase memberikan andil terhadap pemahaman terhadap agama yang disadurkan dalam usia remaja dalam pematangannya.

Namun pada fase ini, pemahaman manusia lebih bersifat individualistik. Maka pada ajaran agama yang bersifat satu ini mengalami evolusi sesuai pemahaman si penganutnya. Bisa kita rasa pada ajaran agama Islam yang terbagi menjadi berbagai mazhab. Secara aplikatif berbeda, namun secara esensi adalah sesuatu yang sama.

Didalam Islam, pemahaman tentang satu Tuhan yang meliputi segalanya disebut dengan tauhid.

Tauhid ini terbagi menjadi 2 yaitu:

Tauhid Rububiyah bermaksud Allah ialah Tuhan pengatur segala sesuatu, Dia pemiliknya, Dia pencipta aturannya dan pemberi rezekinya. Sesungguhnya Dia yang menghidupkan, yang mematikan, yang memberi manfaat, yang mendatangkan hukum mudarat dan Dia menerima doa terutama dalam kesukaran.

Tauhid Uluhiyah adalah peng-Esaan Allah dalam ketuhanan. Ketauhidan ini dibina atas dasar ikhlas karena Allah semata-mata, bersama rasa cinta, takut, mengharap, tawakal, gemar dan hormat secara menyeluruh hanya kepada Allah.

 

Kesimpulan

Religi berintikan akan pengakuan terhadap kekuatan adikodrati.

Pemisahan dalam religi membedakan antara agama dan magi. Pembedaan itu terletak dalam peletakan kekuatan adikodrati itu. Dalam agama, kekuatan itu diposisikan sebagai sebuah subjek. Dimana manusia pasrah dan tunduk terhadap kekuatan adikodrati itu. Kondisi terbalik terjadi pada magi, artinya kekuatan itu dipandang sebagai objek yang dapat dikuasai dan memaksa.

Religi dalam fase satu, menunjukkan akan adanya kekuatan adikodrati yang mengitari manusia, benda, tumbuhan, dan hewan. Kekuatan adikodrati ini bersifat suci, maka bila masuk atau mengitari sesuatu menyebabkan sesuatu itu lebih berharga dari benda tersebut. Misalnya: sebuah parang hanyalah sebuah benda biasa, ketika parang itu dimasuki ataupun di lingkup oleh kekuatan suci yang dikenal dengan nama hierophanie. Maka benda tersebut menjadi sakral.

Memasuki fase dua, manusia mulai memisahkan antara kekuatan adikodrati dan subjek. Artinya kekuatan adikodrati ini mulai berdiri sendiri, dan tidak lagi mengintari suatu benda. Fase ini mulai mengenal dewa yang memiliki karakteristik yang khas. Fase ini juga mengalami transformasi, dimana paganisme mulai masuk. Paganisme ini mirip dengan politeisme yang membedakannya hanyalah pada karakternya saja. paganisme mulai menganggap akan adanya “keluarga Dewa/Tuhan.”

Pemahaman tentang fase dua, berlanjut pada fase akhir yaitu Monoteisme dan Panteisme. Evolusi religi manusia berakhir, di mana manusia mengenal satu Tuhan saja. Didalam Islam dikenal dengan nama Allah, sementara di Zoroaster dikenal dengan nama Ahura Mazda, dll (setiap agama yang monoteisme berbeda). Dalam Islam konsep ini dikenal dengan nama Tauhid.

Jadi secara sederhana dapat dibuat skema tentang perkembangan Religi pada manusia.

Manusia Ü Kekuatan Adikodrati Ü Subjek (meliputi suatu benda) Ü Objek (beragam, memilki karakter, dan kekuatan tertentu) Ü Integrasi (semua kekuatan berintikan satu kekuatan saja).

Kritik

Ada yang menarik di sini, bila kita memperhatikan pemahaman terhadap agama yang monoteisme dan panteisme misalnya: Islam. Maka kita menemukan kenyataan bahwa Monoteisme berada pada tahap awal Panteisme. Dimana semenjak Adam (manusia pertama), ajaran Monoteisme sudah dikenal.

Artinya, ada tradisi yang lepas dan sebuah pemikiran mengalami perubahan dari generasi ke generasi. Pemahaman itu mengalami pengurangan, dan penambahan.

Nampaknya, religi itu tidaklah stagnan melainkan dinamis. Baik berevolusi dalam diri manusia, dan mayarakat. Dalam diri manusia, sejak dia dalam kandungan dan hingga dia meninggal. Dalam masyarakat itu sejak purba/prasejarah hingga modern seperti sekarang ini.

Bisa saja seorang Karl Marx tidaklah mencetuskan Sosialisme, namun para pengikutnya menafsirkan pemikirannya secara ekstream dan melahirkan komunisme.

Melihat berbagai penemuan di bidang antropologi budaya terutama di bidang religi maka agama kemudian terbagi menjadi 2 yaitu agama samawi yang berasal dari wahyu Tuhan dan agama ardi yang berasal dari kreasi manusia dalam upaya menyelesaikan setiap masalahnya.

Ini membuat buram tentang artikel ini sendiri. Sebab, melihat pola yang ada maka akan berbeda perkembangan religi manusia yang berada pada line up awalnya itu adalah animisme dengan monoteisme. Maksudnya, kalau dalam Agama Islam maka titik awalnya adalah tentang Nabi Adam AS, yang sudah monotheisme. Namun, disisi lain perkembangan religi atau agama dalam agama ardi.

Namun, ada sebuah kesepakatan bahwa semua masyarakat di dunia pastilah mengalami apa yang disebut dengan agama purba.

Namun tulisan ini secara umum menguraikan bagaimana manusia memperoleh ke bahagian di dunia dan di akhirat. Perkembangan religi inilah yang menjadi jawaban atas setiap ketidakpuasan dalam sentimen keagamaan. Perasaan beragama adalah perasaan yang terus tumbuh, dan menuntut adanya jawaban. Akhirnya, ada manusia yang mengingkari adanya Tuhan, dan ada pula yang mengakuinya. Ada yang mengakui eksistensi dan pula mengingkari. Sementara itu di lain pihak ada yang menggambarkan subtansi. Semua itu dilakukan untuk memenuhi rasa bahagia yang menyelimutinya.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Website

Admin. 2008. “Asal Usul Agama” diperoleh dari: http://lovewatergirl.wordpress.com diakses pada: Tuesday May 04, 2010, 8:21:24 AM.
Admin. 2005. “Agama-Agama Purba Re: (islamkristen) Kristen dan Paganisme” diperoleh dari: http://www.mail-archive.com diakses pada: Friday, April 30, 2010, 11:10:20 AM.
Admin.-. “Agama Asli Nusantara” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 7:24:35 AM.
Admin.-. “Ateisme” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 7:27:00 AM.
Admin. 2008. “Manusia Itu Makrokosmos” diperoleh dari: http://wongalus.wordpress.com  diakses pada: Friday, April 30, 2010, 11:10:00 AM.
Admin.-. “mitologi” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 7:27:33 AM.
Admin.-. “monoteisme” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 7:27:11 AM.
Admin. 2006. “pagan bukan agama” diperoleh dari: http://einjil.com diakses pada: Friday, April 30, 2010, 11:11:06 AM
Admin.-. “panteismediperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 7:27:26 AM.
Admin.-. “paganisme” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 7:26:36 AM.
Admin.-. “panteisme” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, May 04, 2010, 7:27:26 AM.
Admin. 2008. “Religi dan Seni Pada Masa Prasejarah.” diperoleh dari: http://one.indoskripsi.com diakses pada: Wednesday, April 14, 2010, 2:27:26 PM.
Admin.-. “Roh” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 7:24:35 AM.
Admin.-. “Sejarah Ketuhanan” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 7:19:04 AM.
Admin.-. “Tauhid” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 7:27:18 AM.
Admin.-. “tradisi” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, April 20, 2010, 8:44:02 AM.
Admin.-. “tuhan” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, May 04, 2010, 7:20:12 AM.
Admin. 2009. “Teori Mengenai Ilmu Gaib dan Religi.” Diperoleh dari: http://teoriantropologi.blogspot.com Diakses pada: Wednesday, April 14, 2010, 2:27:26 PM.
Admin. 2009. “Totemnisme: Ajaran Pemujaan Kepada Binatang.” Diperoleh dari: http://dakwah.net46.net Diakses pada: Monday May 03, 2010, 10:33:04 AM
Admin.-. “Zaman Prasejarah Indonesia.” Diperoleh dari: http://www.topcities.com diakses pada: Monday, May 03, 2010, 10:17:01 AM
Arif Saiful. 2008. 7 teori agama menurur atheis dan theis.
Djawara Putra Petir. 2009. “asal mula agama.” Diperoleh dari: "http://www.kompasiana.com Diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 8:26:58 AM
Hanyandi. 2010. “Asal Usul Agama dan Tuhan di Nusantara” diperoleh dari:http://hanyandi.blogdetik.com Diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 8:16:18 AM.
Hairullah. 2008. Kisah Sejarah Perjuangan Agama Islam Candi Agung Amuntai. Barabai: CV. Sari Murni II.
Irawati. 2009. “Perkembangan Jiwa Beragama Pada Masa Anak-Anak dan Remaja.” Diperoleh dari: http://fauzi2000.blogspot.com diakses pada: Monday, May 03, 2010, 11:17:44 AM.

 

Sumber Buku:

J. Van Baal. 1988. Sejarah dan Pertumbuhan Antropologi Budaya (Hingga Dekade 1970). Jakarta: Penerbit Gramedia.

Koentjaraningrat. 2009 edisi revisi. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1992. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.

Nugroho Yuananto. 2008. Selayang Pandang Kalimantan Tengah. Jakarta: PT Intan Pariwara.

R. Soekmono. Tanpa tahun. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia. Tanpa kota dan penerbit.

Teguh Imam Prasetya. 2008. “Studi Religi dan Ritual- Antro.” diperoleh dari: http://teguhimanprasetya.wordpress.com Diakses pada: Wednesday, April 14, 2010, 2:35:23 PM.
Sartono Kartodirjo. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Pendekatan Sejarah. Jakarta Gramedia.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Wajidi. 2008. Mozaik Sejarah dan Kebudayaan Kalimantan Selatan Banjarmasin: Debut Press.

Yuslani Noor. 2010. Timur Tengah (Asia Barat Daya) Dalam Panggung Sejarah. Banjarmasin: Percetakan D’Junjung Buih.


[1] J. Van Baal. 1988. Sejarah dan Pertumbuhan Antropologi Budaya (Hingga Dekade 1970). Jakarta: Penerbit Gramedia. Hal: 193.

[2] Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1992. Sejarah nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka. Hal:204.

[3] Op.cit hal:205.

[4] Upacara pemakaman kedua (sekunder) pada etnis dayak.

[5] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa.Op.cit. Hal: 355.

[6] Dari bahasa Yunani heiros, suci dan phainein, menunjukkan.

[7] kekacauan

[8] Tim Penyusun Kamus Pusat. Op.cit hal: 893.

[9] Admin.-. “mitologi” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 7:27:33 AM.

[10] Admin.-. “monoteisme” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 7:27:11 AM.

[11] Admin.-. “panteisme” diperoleh dari: http://wikipedia.org diakses pada: Tuesday, May 04, 2010, 7:27:26 AM.

 

4 thoughts on “Evolusi Perkembangan Religi pada Manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s