Benteng Keraton sebagai Jejak Peradaban Bahari Kesultanan Buton di Tinjau dari Teori Mahan

Ini merupakan makalah terbaik pertama di acara Arung Sejarah Bahari (AJARI) VI di Sulawesi Tenggara pada 25 maret – 1 mei 2011.

Terimakasih buat Ketua Prodi Pend Sejarah Unlam Bapak Dr. Herry Porda N.P, M.Pd (Saat itu) sekarang Bapak M.Zainal Arifin Anis, M.Hum. Yang menunjuk dan memberikan kesempatan kepada saya untuk mewakili PSP Sejarah JIPS FKIP Unlam. Buat ibu Sitti Maryam, M.A yang memberikan kuliah Sejarah Maritim, yang berbaik hati memberikan materi tentang Teori Mahan nya. Materi untuk S2 kata sidin, yang memberikan gambaran kondisi kerajaan di Nusantara pada abad ke-16. Jadi, teori ini gak familiar bagi mereka yang tak mengkaji kerajaan maritim. Buat teman-teman juga saya sampaikan terimakasih, terutama M. Anshari yang berbaik hati mengirimkan surat izin saya selama mengikuti acara di Sultra. Buat seseorang, juga saya sampaikan terimakasih banyak. Membantu saya melengkapi syarat keberangkatan kesana, saya harap kamu juga senang mengetahui saya menjadi yang terbaik. Buat Luthfia, terimakasih sudah membantu persiapan kesana. Buat ketua Jurusan IPS Ibu Noor Amali, M.Pd terimakasih atas supportnya sebelum berangkat. Buat bapak Nafarin PD III FKIP Unlam, kalau sertifikatnya sudah datang saya akan temui bapak lagi😀, terimakasih atas supportnya pak. Buat kak Wati (AJARI V), kita sama-sama juara pertama. Pian harapan dan saya yang bujur, hehehe😀 Buat ortu ku, terimakasih sudah mengantarkan dan menjemput kedatangan anak mu, untuk doanya juga hehehe. n_n

Akhirnya saya dedikasikan untuk semua civitas akademika PSP Sejarah JIPS FKIP Unlam, orang-orang terdekat saya, dan masyarakat Banjar. n_n Posrtingan ini sama dengan makalah aslinya, semua salah ketik gak ada bedanya dengan yang aslinya. n_n

BAB I

PENDAHULUAN

1.1              Pendahuluan

“. . . Cadas Gua prasejarah di Pulau-Pulau Muna, Seram, dan Arguni, yang diperkirakan telah dibuat oleh manusia Indonesia sekitar tahun 10000 SM. Bagian dalam berbagai bukti sejarah berupa cadas gua tadi banyak dipenuhi dengan lukisan perahu layar sebagai instrumen pokok dalam kehidupan bahari mereka.”[1]

“. . .  pada relief dinding Candi Borobudur masih dapat disaksikan dengan jelas luisan-lukisan perahu layar bercadik dengan kontruksinya yang bertingkat, tiang-tiang layarnya segiempat yang terkesan sangat lebar . . .”[2]

“Pada tahu 1957, tercatat ada kebangkitan baru bagi kebudayaan bahari Nusantara. Indonesia dibawah kepemimpinan presiden Soekarno telah mendeklarasikan Wawasan Nusantara (oleh Perdana Mentri Juanda). . . mengetengahkan ditegaskannya asas “negara nusantara” (archipelagie state).”[3]

Kutipan diatas menunjukkan bahwa kebaharian bangsa Indonesia sudah ada semenjak 11957 (10000 SM ditambah 1957 M) tahun yang lalu. Kondisi geografis yang berpulau-pulau menjadikan Nusantara memiliki kaitan yang erat dengan dunia kebaharian. Hal ini tampak pada jejak-jejak yang ditinggalkan berupa lukisan, relief, dan hukum kemaritiman yang berlaku di Indonesia serta diakui dunia (pada tahun 1982 akhirnya dapat diterima dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut PBB ke-III Tahun 1982 (United Nations Convention On The Law of The Sea/UNCLOS 1982). Selanjutnya delarasi ini dipertegas kembali dengan UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS 1982 bahwa Indonesia adalah negara kepulauan.).[4]

Perkembangan kebaharian bangsa Indonesia ini didorong oleh posisi geografis Nusantara yang “. . . merupakan tempat persilangan jaringan lalu lintas laut yang menghubungkan benua Timur dengan benua Barat. . . . Sistem angin di kepulauan Nusantara yang dikenal sebagai musim-musim memberikan kemungkinan pengembangan jalur pelayaran Barat-Timur pulang-balik secara teratur dan berpola tetap . . . Faktor itu juga turut menentukan munculnya kota-kota pelabuhan dan pusat-pusat kerajaan . . .”[5]

Posisi ini melahirkan pola-pola angin yang menguntungkan dalam pelayaran, terutama keperiodikannya yang relatif sama sepanjang tahun. Hal ini mendorong pesatnya pelayaran dan perdagangan yang terjadi di nusantara pada masa itu. Tak heran kebaharian pada masa itu memegang peranan dalam perkembangan sebuah negara.

Benteng merupakan bangunan tempat berlindung atau bertahan (dr serangan musuh[6]).” Benteng Walio atau disebut juga dengan benteng Keraton Buton merupakan”benteng peninggalan Kesultanan Buton . . . dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Buton III bernama La Sangaji yang bergelar Sultan Kaimuddin (1591-1596). . . . Pada masa kejayaan pemerintahan Kesultanan Buton, keberadaan Benteng Keraton Buton memberi pengaruh besar terhadap eksistensi Kerajaan. Dalam kurun waktu lebih dari empat abad, Kesultanan Buton bisa bertahan dan terhindar dari ancaman musuh.”[7]

Alfred Tahyer Mahan merupakan pewira angkatan laut Amerika Serikat yang menaruh perhatian terhadap pentingnya angkatan laut dalam mempengaruhi jalannya sejarah suatu bangsa. Mahan merupakan “sejarawan angkatan laut yang paling berpengaruh pada masa itu.”[8] Bukunya yang berjudul ““Influence of Sea Power upon History” digolongkan sebagai buku yang telah merobah dunia.”[9]

Teori Mahan yang menggambarkan bagaimana sebuah negara menjadi kuat seiring dengan kekuatan angkatan lautnya saat itu. Diterimanya teori Mahan ini, menampilkan Amerika Serikat sebagai salah satu negara yang kuat secara maritim, hal ni yang menjadi inspirasi bagi Jepang, Jerman, Prancis, dan negara lainnya untuk membangun kekuatan armada laut. Pada masa ini kekuatan armada laut menjadi peranan besar dalam menunjukkan kekuatan sebuah negara dalam pergaulan dunia.

Teori Mahan menunjukkan beberapa hal yang menjadikan sebuah negara berkembang sebagai negara dengan basis maritim dan memiliki armada laut yang kuat dalam menjaga eksistensinya. Hingga sekarang, “sekitar 70% perdagangan barang d dunia diangkut oleh kapal laut. Bahkan untuk muatan cuah dan cair sampai saat ini dan selanjutnya dprediksikan akan terus diangkut oleh kapal laut.”[10]

Hal ini bisa kita hubungkan dengan kesultanan Buton, dengan memperhatikan posisi, desain, serta tujuan dari pembangunan benteng itu sendiri dalam menjelaskan pertahanan Kesultanan Buton terhadap serangan musuh. Lebih 300 tahun, Benteng Keraton menjadi simbol pertahanan yang tak tergantikan di bumi Buton atau Walio.

Nusantara yang semenjak dulu memegang peran kunci dalam perdagangan rempah-rempah dunia tentu sudah menjadi rahasia umum. Pola angin semakin menguntungkan kerajaan/kesultanan yang ada di Nusantara. Tentu saja ini mendorong terjadinya interaksi antarnegara sehingga memajukan pelayaran yang terjadi di nusantara pada masa itu. Sehingga ekspansi politik merupakan hal yang lumrah dalam memperkuat perdagangan, dimana kemaritiman memegang peran terhadap eksistensi sebuah negara.

1.2              Rumusan Masalah

Makalah  “Benteng Keraton sebagai Jejak Peradaban Bahari Kesultanan Buton di Tinjau dari Teori Mahan” memiliki hal menarik yang menjadi pokok permasalahannya. Adakah hubungan kebaharian Benteng Keraton dengan Kesultanan Buton dilihat dari Teori Mahan?

1.3              Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini, antara lain:

  1. Untuk memperkenalkan Benteng Keraton sebagai sebuah benteng yang menunjukkan eksistensi kebahariannya Kesultanan Buton.
  2. Untuk mengetahui hubungan Teori Mahan dengan Keraton Buton dalam melihat kebaharian Kesultanan Buton.
  3. Untuk memenuhi syarat sebagai peserta Arung Sejarah Bahari (Ajari) VI yang akan diadakan 26 April—1 Mei 2011

1.4              Manfaat

Melalui makalah yang memuat sejarah singkat Keraton Buton, Kesultanan Buton, dan Teori Mahan. Penulis berharap adanya paradigma baru dalam memandang sebuah sumber kebendaan sejarah (artefact) dengan melakukan analisis dan tidak sekedar diskripsi semata. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, local genius bangsa Indonesia di bidang kebahariannya haruslah memiliki tempat tersendiri dalam  membangun Indonesia yang lebih baik kedepannya.

BAB II

ISI

2.1       Benteng Keraton Sebagai Jejak Bahari Kesultanan Buton

2.1.1. Benteng Keraton

“Benteng Keraton yang sudah 300 tahun lebih yang menjadi keagungan dan kebanggan Buton, dan mungkin satu-satunya di seleruh Indonesia benteng yang di buat oleh penduduk asli atas perintah Rajanya . . .”[11]

“Keraton memiliki bentuk arsitek yang unik dibangun dari Batu Kapur, dikelilingi benteng berbentuk lingkaran dengan panjang 2.740 m. Diperkirakan merupakan benteng terpanjang di Indonesia.”[12]

Pembuatan benteng tersebut menggunakan batu, pasir, dan kapur. Disumber lain menyebutkan bahwa digunakannya putih telur sebagai perekatnya.

Benteng ini berdiri ketika Sultan ke-4 Kesultanan Buton Dayanu Ikhsanuddin (1597-1631)”[13] dan pembangunannya berakhir pada masa Sultan La Buke pada 164.

“kota dengan Benteng terluas di dunia . . .”[14] ini menunjukkan bahwa Benteng Keraton merupakan kebanggaan masyarakat Buton, dan merupakan jejak peradaban Kesultanan Buton.

2.1.2.   Jejak Bahari

Secara etiminologi, jejak : bekas tapak kaki; bekas langkah”[15]. “bahari ark n (mengenai) laut; bahri; kebaharian n segala sesuatu yg berhubungan dng laut”[16]

Jejak bahari dalam hal ini merupakan bekas peninggalan kebaharian dari kesultanan Buton yang berupa Benteng Keraton. Tidak semua benteng merupakan peninggalan kebaharian, karena benteng merupakan media untuk menjamin keamanan, maka orientasi ke bahari (maritim) menjadi tekanan dalam melihat fungsi benteng ini dalam menghadapi ancaman musuh yang menjadi alasan pembangunan benteng ini.

Jejak kebaharian dalam hal ini benteng Keraton yang merupakan hasil peradaban dari kesultanan tentunya, “dilahirkan karena tantangan dan jawaban (challenge-and-response) antara manusia dengan alam sekitarnya.”[17]

2.1.3.   Kesultanan Buton

Kerajaann Buton di dirikan oleh Mia Patamiana (si empat orang) yaitu Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, Sijawangkati yang oleh sumber lisan mereka berasal dari Semenanjung Tanah Melayu pada akhir abad ke – 13”[18] “Puteri Wakaakaa adalah raja walio yang pertama.”[19]

Jadi pada awalnya, Kesultanan Buton merupakan Kerajaan Buton. Sebuah kerajaan yang “diperintah oleh 6 (enam) orang raja diantaranya 2 orang raja perempuan yaitu Wa Kaa Kaa dan Bulawambona.”[20] Raja Buton yang keenam masuk Islam, Halu Oleo.[21]

Setelah masuk Islam, Kerajaan Buton berubah menjadi Kesultanan Buton dengan Sultan pertamanya Sultan Marhum[22]. Hingga 1960, “Buton diperintah oleh berturut-turut ada 37 Sultan yang memerintah di Kesultanan Buton.”[23]

2.2       Benteng Keraton di Tinjau dari Teori Mahan

2.2.1. Mahan

Mahan merupakan “perwira Angkatan Laut Amerika Serikat, geostrategist, dan pendidik. Ide-idenya tentang pentingnya laut memengaruhi kekuatan angkatan laut di seluruh dunia, dan membantu mendorong pendirian kekuatan angkatan laut sebelum Perang Dunia I.”[24]

“Influence of Sea Power upon History” merupakan buku yang “ditujukan kepada bangsa dan Pemerintah Amerika Serikat.”[25] Mahan menaruh perhatian khusus terhadap Amerika Serikat yang tak berkembang menjadi kekuatan besar dunia. Dengan melakukan uraian yang panjang Mahan menganalisa berbagai peristiwa sejarah Maritim. Pemikiran Mahan ini kemudian mendapatkan tempat setelah dijadikan legalisasi untuk melakukan ekspansi keseberang lautan, hal ini mendapatkan dukungan dari Pemerintah dan rakyat Amerika. “Sejak itu Amerika Serikat muncul sebagai kekuatan dunia yang besar.”[26]

Pengaruh buku Mahan ini kemudian menyebar keberbagai negara, Jepang dan Jerman merupakan salah satu negara yang kemudian membangun armada angkatan laut yang modern. Seiring dengan itu terjadi peningkatan armada perang laut Inggris yang mendapat dorongan kuat dari teori Mahan.

2.2.2. Teori Mahan

Menurut Mahan ada enam unsur yang menentukan dapat tidaknya suatu negara berkembang menjadi kekuatan laut: (1) kedudukan geografis, (2) bentuk tanah dan pantainya, (3) luas wilayahnya, (4) jumlah penduduk, (5) karakter penduduk, dan (6) sifat pemerintahannya.[27]

Menggunakan 6 indikator ini,  saya meninjau posisi Benteng Keraton Buton sebagai jejak peradaban bahari Kesultanan Buton.

2.2.3.  Benteng Keraton di Tinjau dari Teori Mahan Teori Mahan

2.2.3.1 Kedudukan Geografis

Benteng Keraton atau disebut juga dengan Benteng Walio terletak di puncak bukit. Di dalam bangunan ini terdapat batu Walio, batu papaua, masjid agung, makam Kaimuddin, Istana Badia, dan meriam-meriam kuno.

Ini menunjukkan bahwa Benteng Keraton menjadi pusat pemerintahan, dan pertahanan yang memungkinkan untuk melakukan pengawasan ke pemukiman penduduk dan kapal-kapal yang berlayar di selat Buton. Desain seperti huruf “dhal” dalam aksara Arab, sehingga ada bagian benteng yang tidak saling bertemu. Bagian ini merupakan kawasan yang berbatu curam. Posisi yang seperti menunjukkan bahwa benteng ini merupakan tempat pertahanan terbaik pada masa itu.

“Butun sebagai kekuatan politik yang cukup dikenal dalam tulisan-tulisan ekonomi dan politik di Nusantara. Butun merupakan titik yang strategis dalam rute perdagangan rempah-rempah dari Jawa dan Makassar ke Maluku. Yang penting pada masa ialah perdagangan Budak.”[28]

“Keraton berada pada koordinat 05°28’ 22’LS-122°36’06’BT sekitar 3 km ke arah selatan dari kota BAU-BAU.”[29]

 

2.2.3.2 Bentuk Tanah dan Pantainya

“dataran-dataran tanah yang ada di Sulawesi Tenggara pada umumnya dapat dijadikan areal pertanian. Pada bagian-bagian lain kurang menguntungkan untuk dijadikan areal pertanian, karena tanahnya berpasir kwarsa dan porous.”[30]

“Karakteristik Wilayah Kota Bau-Bau untuk wilayah utara cenderung subur dan bisa dimanfaatkan sebagai wilayah pengembangan pertanian dalam arti luas, yaitu meliputi wilayah Kecamatan Bungi, Sorawolio, sebagian Kecamatan Wolio dan Betoambari. Wilayah selatan cenderung kurang subur diperuntukan bagi pengembangan perumahan dan fasilitas pemerintahan. Sementara wilayah pesisir untuk pengembangan sosial ekonomi masyarakat.”

 

2.2.3.3 Luas wilayahnya

“Kerajaan Buton menurut catatan Belanda mencakup Pulau-Pulau Buton, Muna, Kabaena, Kepulauan Tukang Besi, dan sejumlah pulau kecil lainnya.”[31]

Wilayah yang terdiri dari pulau-pulau ini menunjukkan bahwa Kesultanan Buton berorientasi pada kemaritiman, sehingga pembangunan Benteng Keraton benar-benar menjadi simbol keamanan wilayah yang dikuasai oleh Sultan.

2.2.3.4 Jumlah penduduk

Tidak diketahui jumlah penduduk pada masa pembangunan Benteng Keraton. Berdasarkan sumber yang ada, pembangunan Benteng Keraton selama 13 tahun menggunakan tenaga kerja laki-laki yang bemalam dilokasi benteng sehingga mengalami penurunan tingkat kelahiran pada masa itu.

Pada masa itu tidak terjadi emigrasi penduduk, hal ini disinyalir bahwa jumlah penduduk pada masa itu tidak terlalu besar sehingga Pulau Buton masih bisa mencukupi semua kebutuhan penduduk yang ada disana.

2.2.3.5 Karakter penduduk

Suku yang mendiami pulau Buton “suku Deutro Melayu adalah suku bangsa Tolaki, Muna, dan Walio . . .”[32]

Memahami karakter penduduk Buton, bisa dilihat dari tempat mereka bermukim, “pada bagian daratan. Dengan tanahnya yang tidak subur sebabsebab wilayahnya terdiri dari hamparan lembah yang diairi oleh sungai-sungai yang besar. Sebagian wilayahnya terdiri dari iringan bukit dan gunung yang ditutupi oleh hutan rimba leba. Keadaan alam yang demikian ini menciptakan udara yang sejuk serta membawa kelembutan hati penduduknya . . .”[33] “Berbeda dengan keadaan wilayah dibagian kepulauan, yang terdiri dari gunung-gunung berbatu. Masyarakatnya harus bekerja keras menghadapi tantangan alam lingkungannya. Maka tumbuhlah secara jiwa kebudayaan yang sesuai dengan jiwa dan keadaan lingkungan mereka.”[34]

Hal ini mendorong lahirnya berbagai corak kebudayaan dan peradaban yang beragam serta tidak monoton. Pembangunan Benteng Keraton merupakan respon tantangan alam lingkungan, yang saat itu sangat rawan terhadap bajak laut. Inisatif pembangunan ini lahir dari kalangan minoritas dalam hal ini elite pemerintahan[35]. “Jumlah kecil (minority) itu menciptakan kebudayaan; dan massa (mayority) meniru.”[36]

2.2.3.6 Sifat pemerintahannya

“Empat wilayah asal kerajaan Buton yang dikepalai masing-masing oleh seorang Bontoamat menentukan dalam hal penunjukan dan pengangkatan Raja (Sultan) Buton. Empat Bonto ini dalam perkembangannya menjadi sembila dan wilayahnya disebut sebagai Sio Limbona (sembilan negeri) Dewan sembilan negeri ini yaitu 9 orang Bonto bertindak sebagai Dewan Legislatif Kerajaan Buton, walaupun secara sendiri-sendiri adalah pelaksana (Eksekutif) dalam kedudukan sebagai kepala wilayah, . . .”[37]

“Akhirnya setelah selesai pembuatan benteng dalam tahun 1645 dan telah memberikan jaminan keamanan dan keselematan pada rakyat . . .”[38]

Bentuk pemerintahan Kesultanan Buton ini bisa dikatakan demokrasi, pemerintahan yang berorientasi kepada rakyat dan memerintah atas kesepakatan dari yang diperintah. Hal ini menunjukkan bahwa keabsolutean penguasa dapat ditekan, bahkan penguasa dapat dihukum karena melakukan pelanggaran.[39]

Bentuk pemerintahan seperti ini mirip dengan Eropa Laut yang demokratis sementara Eropa Daratan yang masih tertutup dalam belenggu absolutisme dan dogmatis. Tak mengherankan Inggris telah menjelajah dunia, sementara di Prancis, Belanda, Portugal, masih sibuk berperang. Kebanyakan negeri yang berorientasi kemaritiman memiliki pemerintahan yang demokratis sebab perdagangan ataupun jasa transito menjadi nadi perekonomian. Berbeda dengan negara yang berbasis pada agraris dengan perekonomian yang subsistem. Pembangunan Benteng Keraton menunjukkan bahawa orientasi Kesultanan Buton ke maritim untuk menjamin keamanan perdagangan yang dilakukan disekitar perairannya.

BAB III

KESIMPULAN

Riwayat kebaharian kita telah ada semenjak zaman prasejarah, dimana jejak peradaban dilukiskan dalam sebuah gua Cadas. Perkembangan dalam dunia kebahariannya ini terus terjalin dalam pasang surut, hingga Indonesia diakui dunia sebagai negara kepulauan dewasa ini.

Nusantara merupakan kumpulan negara maritim, walau negara agraris menjadi produsen terhadap kebutuhan dunia akan rempah-rempah yang kala itu merupakan komoditas yang sangat laku.

Kedudukan Nusantara kala itu menjadi daerah pemasok sekaligus transito dari perdagangan barat dan timur. Lahirnya berbagai negara berbentuk kerajaan dan kesultanan tak bisa dilepaskan dari pesat pelayaran masa itu terutama yang dilakukan oleh para pedagang muslim.

Benteng Keraton Kesultanan Buton merupakan media pertahanan dan keamanan menghadapi ancaman dari pihak luar. Desain benteng ini, memiliki sentuhan Islam dari segi bentuknya, serta arstektur kala itu.

Benteng Keraton menggambarkan bahwa Kesultanan Buton memiliki orientasi pemerintahan ke arah maritim, hal ini didukung oleh:  kedudukan geografis,  bentuk tanah dan pantainya, luas wilayahnya, jumlah penduduk, karakter penduduk, dan sifat pemerintahannya.

Hal ini mencerminkan bahwa Benteng Keraton Kesultanan Buton merupakan reprentasi dari Jejak Kebaharian. Benteng Keraton memegang peranan kunci dalam mempertahankan Kesultanan Buton selama beberapa kurun waktu tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

A. B. Lapian, Teori Mahan dan Sejarah Kepulauan Indonesia, Bhratara, Jakarta, 1974.

Achdiati Ikram, Istiadat Tanah Negeri Buton (Edisi Teks dan Komentar), Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta,  2001.

David Dwi Marta, Wisata Murah Sulawesi, Kata Buku,Yogyakarta, 2010.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Direktorat Jendral Kebudayaan, Sejarah dan Adat Fiy Darul Butuni (Buton) I, Proyek Pengembangan Kebudayaan,  Jakarta, 1997.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Proyek Media Kebudayaan, Album Seni Budaya Sulawesi Tenggara (Cultural Album of South-East Sulawesi), Proyek Media Kebudayaan, Jakarta, 1982/1983.

Djoko Pramono, Budaya Bahari, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008.

Rustam E. Tamburaka, Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat dan Iptek, PT Rineka Cipta Jakarta, 2002.

Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Adat Istiadat Daerah Sulawesi Tenggara, Jakarta, Balai Pustaka, 1992.

Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1600-1900 Dari Emporium sampai Imperium Jilid I, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa, Jakarta, 2008.

Tim Penyusun, “Keraton Kesultanan Buton”, Atlas of Indonesia From Space (Atlas Indonesia Dari Angkasa), Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), 2006.

Website/Blog:

“Alfred Tahyer Mahan”, http://id.wikipedia.org terarsipkan di: http://id.wikipedia.org/wiki/Alfred_Thayer_Mahan, diakses pada: 21/02/11 20:36 WITA

“Benteng Keraton Walio”, http://fatawisata.com terarsipkan di: http://www.fatawisata.com/wisata-sejarah/benteng/813-benteng-keraton-wolio, diakses pada: 22/02/11 18:05 WITA

“Hukum Maritim Indonesia”, http://kemaritiman-indonesia.com dipostkan: 3 Juli 2008, terarsipkan di: http://kemaritiman-indonesia.com/index.php?option=com_content&task=blogsection&id=9&Itemid=44, diakses pada 20/02/2011 1:50 WITA.

“Hukum Maritim Indonesia”, http://kemaritiman-indonesia.com dipostkan: 3 Juli 2008, terarsipkan di: http://kemaritiman-indonesia.com/index.php?option=com_content&task=blogsection&id=9&Itemid=44, diakses pada 20/02/2011 1:50 WITA.

“jejak”, http://pusatbahasa.diknas.go.id/ terarsipkan di: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php diakses: pada: 22/02/2011 18:25 WITA.

Johdy Yudono, “Benteng Keraton Buton Terunik di Dunia!”, www.oase.kompas.com dipostkan: Minggu, 22 Agustus 2010 | 01:46 WIB terarsipkan di: http://oase.kompas.com/read/2010/08/22/01460529/Benteng.Keraton.Buton.Terunik.di.Dunia, diakes pada: 22/02/2011 12:14 WITA.

“Sejarah Buton (Waliao)”, http://id.wikipedia.org terarsipkan di: http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Buton_%28Wolio%29, diakses pada: 22/02/2011 06:58 WITA

“sejarah singkat”, http://www.baubaukota.go.id terarsipkan di: http://www.baubaukota.go.id/statik/23/Sejarah.Kota.Bau.Bau diakses pada: 22/02/11 21:13 WITA.


[1] Djoko Pramono, Budaya Bahari, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008, h.3

[2] Djoko Pramono. Op.Cit, h.5

[3] Djoko Parmono. Op.Cit, h.8

[4]“Hukum Maritim Indonesia”, http://kemaritiman-indonesia.com dipostkan: 3 Juli 2008, terarsipkan di: http://kemaritiman-indonesia.com/index.php?option=com_content&task=blogsection&id=9&Itemid=44, diakses pada 20/02/2011 1:50 WITA.

[5] Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1600-1900 Dari Emporium sampai Imperium Jilid I, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993, h.1

[6] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, “Benteng”, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta, Pusat Bahasa, 2008, h. 179

[7] David Dwi Marta, Wisata Murah Sulawesi, Kata Buku,Yogyakarta, 2010, h.179

[8] “Alfred Tahyer Mahan”, http://id.wikipedia.org terarsipkan di: http://id.wikipedia.org/wiki/Alfred_Thayer_Mahan, diakses pada: 21/02/11 20:36 WITA

[9] A. B. Lapian, Teori Mahan dan Sejarah Kepulauan Indonesia, Bhratara, Jakarta, 1974, h.7

[10] Djoko Pramono, Op.Cit h.11

[11] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Direktorat Jendral Kebudayaan, Sejarah dan Adat Fiy Darul Butuni (Buton) I, Proyek Pengembangan Kebudayaan, Jakarta, 1997, h.21

[12] Tim Penyusun, “Keraton Kesultanan Buton”, Atlas of Indonesia From Space (Atlas Indonesia Dari Angkasa), Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), 2006, h. 227

[13] “Benteng Keraton Walio”, http://fatawisata.com terarsipkan di: http://www.fatawisata.com/wisata-sejarah/benteng/813-benteng-keraton-wolio, diakses pada: 22/02/11 18:05 WITA

[14] motto web pemkot BAU BAU, http://www.baubaukota.go.id/

[15]“jejak”, http://pusatbahasa.diknas.go.id/ terarsipkan di: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php diakses: pada: 22/02/2011 18:25 WITA.

[16] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, “Bahari”, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta, Pusat Bahasa, 2008, h. 119

[17] Rustam E. Tamburaka, Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat dan Iptek, PT Rineka Cipta Jakarta, 2002, h.66

[18] “Sejarah Buton (Waliao)”, http://id.wikipedia.org terarsipkan di: http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Buton_%28Wolio%29, diakses pada: 22/02/2011 06:58 WITA

[19] Achdiati Ikram, Istiadat Tanah Negeri Buton (Edisi Teks dan Komentar), Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta,  2001, h.7

[20] “sejarah singkat”, http://www.baubaukota.go.id terarsipkan di: http://www.baubaukota.go.id/statik/23/Sejarah.Kota.Bau.Bau diakses pada: 22/02/11 21:13 WITA

[21] Putra Raja Muna yang menjadi menantu Raja Buton dan kemudian mewarisi kerajaan ayah mertuanya. (Achdiati Ikram, Op.Cit h.8)

[22] Nama yang diberikan setelah Raja/Sultan Halu Oleo wafat.

[23] Achdiati Ikram, Op.Cit h.8

[24] “Alfred Tahyer Mahan”, Op.Cit.

[25] A.B. Lapian. Op.Cit, h.7

[26] A. B. Lapian. Op.Cit h.7

[27]A. B. Lapian. Op.Cit, h. 5

[28] Achdidiati Ikram, Op.Cit, h.6

[29] Atlas of Indonesia from Space (Atlas Indonesia dari Angkasa), Op.Cit h.227

[30] Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Adat Istiadat Daerah Sulawesi Tenggara, Balai Pustaka, Jakarta, 1992, h.11

[31] Achidiati Ikram, Op.Cit, h. 6

[32] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Proyek Media Kebudayaan, Album Seni Budaya Sulawesi Tenggara (Cultural Album of South-East Sulawesi), Proyek Media Kebudayaan, Jakarta, 1982/1983 h.3

[33] Album Seni Budaya Sulawesi Tenggara (Cultural Album of South-East Sulawesi), Op.Cit h.8-9

[34] Album Seni Budaya Sulawesi Tenggara (Cultural Album of South-East Sulawesi), Op.Cit h.9

[35][35][35] “Di Buton golongan pemimpin terdiri dari dua jenis, yaitu golongan lakina . . . dan golongan  Bonto . . . Golongan Bonto ini dengan pengikut-pengikutnya merupakan kelompok-kelompok pendatang yang memasuki Buton dari seberang lautan.” (Adat Istiadat Istiadat Sulawesi Tenggara, Op.Cit h.123-124)

[36] Rustam E. Tamburaka, Op.Cit h.66

[37] Adat Istiadat Daerah Sulawesi Tenggara, Op.Cit h.125-126

[38]Sejarah dan Adat Fiy Darul Butuni, Op.Cit h.156

[39] “Pengganti La Cila (1647-1654) menarik perhatian karena ia diturunkan dari takhta dan kemudian dihukum mati.” (Achadiati Ikram, Op.Cit h.9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s