Pemiskinan Budaya Banjar

Globalisasi, kata yang akrab ditelinga kita. Kata ini mirip dengan kata evolusi, bedanya bila evolusi semua berawal dari satu maka globalisasi berarti menjadi satu. Jadi,  globalisasi merupakan suatu keadaan yang menjadi satu, ini menunjukkan ketidakadaannya sekat antar bagian. Misalnya: kalau di Yunani hujan abu yang mengganggu penerbangan udara di Eropa, kita tahu dalam hitungan jam atau menit saja di sini.

Bila menjadi satu, otomatis terjadi penyeragaman. Apa yang bisa menjadi seragam? Karena terjadi kontak sosial, maka perubahan sosial dan budaya pun mengiringinya. Ingat, tak ada suatu masyarakatpun yang benar-benar terisolasi, sebagaimana tidak adanya suatu masyarakat yang tidak mengenal stratifkasi sosial.

Lihat di dunia ini, kebanyakan negara yang “ngaku” demokrasi menggunakan sistem pemerintahan parlementer atau peresidensil dalam melaksanakan pemerintahannya.

Lalu, budaya pun sudah terdampak, kita mengenal jeans, levis, kemeja, jas, handphone, dll. Globalisasi tak berarti apa yang terjadi dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir. Melainkan semenjak manusia melakukan migrasi dan mengisi daerah-daerah kosong pada zaman es. Itulah mengapa beberapa penemuan, selalu saling kait mengait, dan memiliki benang merah. (untuk yang ini, jangan terlalu dipercaya. Cuma hipotesa seorang mahasiswa pendidikan sejarah semata.)

Lalu apa kaitannya dengan pemiskinan budaya Banjar? Bukankah akan semakin kaya? Coba pahami, bila kebudayaan yang datang itu bersifat progresif (positif) maka akan diterima oleh masyarakat, sebaliknya bila regresif maka akan ditolak oleh masyarakat tersebut. Penerimaan ini pun terbagi jadi tiga, yang memadukan (akulturasi),  menggeser, dan melahirkan yang baru (asimilasi).

Langkahkan kaki mu, beberapa langkah ke pinggir jalan. Lihatlah akan banyak orang berpakaian jeans, artinya ada penerimaan dan menggeser pakaian Banjar dalam keseharian. Pada moment yang sama, orang berpakaian jeans itu menggunakan kerudung dan baju hanya sampai lengan tangan. Disini nampak perpaduan antara Islam dan Barat (jadi lebih modis, trendi, gaya, dan apapun itu, walau Islam memiliki batasan tersendiri dalam hal berpakaian), artinya terjadi akulturasikan. Bedanya, ada yang nentang dan ada yang menerima. Kebanyakan sich menerima, dan ini menjadi sebuah problema sosial bagi sebagian masyarakat.

Apa hubungan Islam dan Banjar? Ini sama saja bertanya, apa hubungan Yahudi dan Israil? Keduanya sama-sama menjelaskan, kaitan antara agama dan etnis. Identitas etnis sama dengan identitas agama. Artinya: orang banjar itu Islam (walau tak berarti orang Islam itu orang Banjar.)

Bermain musik modern lebih menyenangkan, tinggi gengsinya, mudah mendapatkan pamor, dan terkesan elegan (apalagi pas parade band, banyak pengunjung, dan sebagian dari pengunjung itu adalah teman-teman kita sendiri. Jadi, anak muda Banjar ramai-ramai mendirikan group band, mulai dari Hujan Band, Cermin Band, dll. Dalam sosiologi ada yang dikenal dengan dampak laten (dampak yang tak langsung, sebab menyerang sistem nilai, norma, dan tradisi ), dampak ini menyentuh musik tradisional. Ya, musik pantingpun menjadi sajian seremonial, semakin menjauh, dan memudar dari pemuda banjar yang berkewajiban melestarikan itu semua.

Kuliner Banjar saja yang nampaknya semakin membaik di era ini. Soto Banjar, menjadi makanan wajib orang yang berkunjung ke Banjar. Bingka Kentang, menjadi salah satu kue favorit. Jadi, dari sejumlah sample kuliner ini, nampaknya Banjar tetap eksis dengan sejumlah koreksi yang tentunya membuat kuliner Banjar itu semakin kaya variasi dan variannya.

Nampaknya, untuk bertahan dalam era globalisasi kita harus membangkitkan kekuatan etnisitas kita agar tetap berjaya. Artinya, sikap primordialisme ini membelah kita dalam pluralitas yang terlalu tajam. Lagi-lagi nasib naas menimpa, nasionalisme. Nasionalisme menjadi korban, kita tak bangga dengan Indonesia tapi kita bangga dengan Banjar. Wah-wah, globalisasi membuat kebudayaan lokal bertahan, menggeliat dengan berbagai usaha untuk melestarikannya. Nasionalisme berada dalam pertaruhan. Bangsa yang heterogen ini, semakin dirundung masalah saja. semakin tak menemukan jawaban, dan terjerembab di dasar sungai apalagi bila penerusnya yang sedang kuliah ini hanya sibuk dengan hal yang tak bermanfaat, tak mengingat air mata, darah, dan jerih payah para pahlawan yang gugur serta orang tua kita yang percaya dengan kita selama menempuh studi beralmamater kuning dengan “Garuda” di dadanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s