BERJANJI UNTUK MASA DEPAN

Dari masa ke masa, tanpa ada batasan ruang dan waktu. Dari pagi hingga malam menjelang, tanpa ada batasan rasa kita menjalani kehidupan. Banyak rasa sakit yang mendera, banyak rasa bahagia menjelma, banyak pula rasa jenuh mengukung dan menghentikan semangat yang kemarin berkobar. Sinarnya menyinari seantero nusantara yang dikenal dengan nama Indonesia.

Hanya ada satu semangat, hanya ada satu mimpi, hanya ada satu harapan, menjadi sebuah bangsa yang bebas, menjadi sebuah bangsa yang memiliki identitas kebesaran, melebihi apa yang bisa kita bayangkan.

Kita bangsa yang tangguh, kita pernah menaklukan Thailand pada era Sriwijaya, wilayah kita meliputi sebagian besar Asia Tenggara pada Era Majapahit. Itulah yang membuat kita menjadi kesatuan secara nasional, pada masanya. Kebanggaan ini membuat kita pantas berdiri sebagai bangsa yang tak pernah padam dalam berjuang.

Kita di tindas, kita dirombak secara sosial oleh kolonial Belanda, kita pun menggeliat dengan perlawanan yang membuat mereka begitu kepayahan ketika itu. Betapa besar biaya perang yang dikeluarkan untuk menghadapi Pangeran Diponorogo, dan berapa lama yang diperlukan untuk menaklukan Banjar dalam perang kolosalnya.

Perubahan sosial yang dilakukan secara revolusioner itu, bak menuai badai yang berkepanjangan. Perubahan secara budaya tak begitu saja mengiringi, penolakan terhadap sebuah sistem ini berkelanjutan. Tak mudah berubah dari sebuah kerajaan berdaulat menjadi bagian dari Hindia Belanda saat itu. “Pemberontakan” kolonial Belanda menyebutnya, dan dengan bangga kita menyebutnya dengan perlawanan. Tampaknya, semuanya berada dalam kacamata yang kita kenal dengan subjektifitas.

Haruskah kita mengingat dengan kesedihan, meratapi bahwa ini adalah bagian dari sejarah yang kelam, ataukah kita melestarikan dendam antargenerasi karena penjajahan itu begitu menyayat hati? Haruskah dalam kesedihan nasionalisme itu lahir? Haruskah kala kehormatan kita diganggu baru kita bangkit?

Rubahlah sedikit paradigma itu, banyak hal yang kita rasakan sekarang ini. Kita menjadi sebuah kesatuan, kita tidaklah menjadi sebuah komunitas terbayang yang tak kita tahu apa itu, hanya sebuah imajinasi. Kita sudah menjadi faktual sejak 28 Oktober 1928, kita secara jelas berikrar di sana. Kita bangkit, kita berjuang untuk Indonesia merdeka. Kita menjadi satu, dengan satu identitas yaitu Indonesia.

Mungkin benar, bila negara kita adalah berkat rahmat Allah yang mahaesa. Coba renungkan, kita di taklukan Belanda agar kita menjadi satu, kita apriori ketika Belanda menghadapi “hajatan” besarnya di Asia Pasifik ketika itu. Jepang datang untuk membebaskan kita dari Belanda, lalu takdir-Nya berkata lagi untuk merdeka. Hiroshima dan Nagasaki di bom atom, Tokyo pun menyerah kepada sekutu. Indonesia pun merdeka sejak 17 Agustus 1945. Mengesankan, kita seperti di design oleh pencipta untuk merdeka, dan para pendiri bangsa berkata, “berkat rahmat Allah yang mahakuasa . . .”

“Mari bangkit, tak ada alasan bagi kita untuk bersantai. Kita harus berjuang, sebab perjuangan kita takkan pernah usai” kata bung Hatta. Kita berueforia dengan rasa bangga ketika 20 Mei kita peringati sebagai kebangkitan nasional. Haruskah kita bangga ? ataukah menyimpan muka di dalam kamar merenungi betapa kita “membohongi” sejarah, bersikap tak adil kepada mereka yang terbaring demi sebuah harapan yang tak pernah mereka rasakan perjuangannya. Haruskah kita malu?

Kita bersantai, sementara mereka berlari di buru dewa kematian. Kita makan enak, sementara mereka mati dalam lumbung beras. Kita minum untuk menyegarkan dahaga, tapi mereka mati kehausan dalam sebuah kolam. Tak mereka rasakan apa yang mereka perjuangkan, tapi apa yang mereka perjuangkan itu demi kita semua. Demi mereka yang dengan gagah berdiri di pangkuan ibu Pertiwi sekarang, yang lalu tanpa perasaan mencabik perasaan para pejuang. Pembangunan ini adalah warisan sejarah meraka untuk kita, sadarlah bahwa mereka ingin negeri menjadi besar, bebas, jangan biarkan kita terbelenggu lagi. Menangslah Indonesia, ketika satu generasi, satu rakyatnya berkhianat, memiskinkan sesama, negeri ini bukan milik penguasa, negeri ini milik kita semua.

Lalu bagaimana kita membalas perjuangan mereka yang gugur di bumi persada? Apalah arti sebuah “liang anggang”? apalah makna jasad yang tertimbun tanah itu? Apakah kita bisa bangga dengan almamater kuning dengan sebuah simbol Enggang di dada kita? Kata Netral, “garuda di dada ku . . .” Kita bisa bangga, kita bisa bangga tanpa bisa berkata-kata, kita berbakti dalam perbuatan. Perbuatan, ya perbuatan. Hanya melalui perbuatan kita bisa dikenal, mulut bisa berkata tanpa bukti. Tapi, perbuatan tak bisa di ingkari dengan mulut.

Kita berdebat tentang BU (Budi Utomo) dan SI (Serikat Islam), dari mereka siapa yang pantas dianggap sebagai “pemicu” kebangkitan nasional yang tahun kemarin begitu meriah dirayakan, seantero Indonesia bergemuruh dalam sesaat.

Baik BU dan SI sama-sama punya sandungan untuk dikatakan sebagai awal kebangkitan nasional. BU tersandung dengan Jawa sentrisnya, SI tersandung dengan gagasan pengikatnya yaitu Islam. Bagi sebagian saudara kita beranggapan, Islam dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Jadi, apa yang diperjuangkan SI, adalah apa yang diperjuangkan Indonesia, pantaslah dianggap sebagai awal kebangkitan nasional. Sangkal menyangkal, ikrar mengikari, bantah membantah dilakukan oleh sarjana, magister, doktor, dan profesor di bidang pergerakan nasional. Secara statistik kedua organisasi ini sangat berbeda, yaitu 10.000 ribu (BU) dengan ± 300.000 orang ada yang mengatakan setengah juta. Berapapun angka itu, yang pasti sudah sangat membedakan dengan jelas antara BU dan SI. Lalu siapa yang menggugat? Hanya Asvi dan sebagian peneliti lain yang dinilai tak bisa dijadikan sandaran sebab mereka bukan ahli di bidang sejarah, artinya dia bisa kalangan umum yang berminat dengan sejarah dan menulis buku tentang itu. Sementara yang lain lebih suka berpolemik saja pada tataran bawah, seperti saya. Melakukan seminar, perenungan, dan diskusi yang tak memberikan perubahan apapun. Sejarah gagal dalam merekotruksikan dirinya, sejarawan kita  “gagal.”

Bila begitu sejarah, semboyan stasiun TV dapat digunakan, “kami menyampaikan, anda yang menentukan.” Sebab tak mudah merubah apa yang dinilai “baku,” merubah nya hanya membuat kita menjadi salah.

Jadi, biarkan kita meluruskan apa yang salah, toh kita tak mudah lagi untuk di bodohi seperti dulu. BU dikatakan sebagai awal kebangkitan nasional, karena para pemimpin sudah mulai memikirkan nasib rakyat, mungkin determinasi mereka dengan orientasi pada Jawa bisa dimaklumi, karena konsep nusantara apalagi Indonesia belum mereka kenal.

Baik BU atau SI, kita harus bisa menangkap arti perjuangan mereka. Perayaan hari kebangkitan pemuda dengan semarak, membuat kita “malu” apakah nasionalisme kita ini kering? Hingga perlu di siram agar kembali subur. Kita beda generasi dengan mereka yang berjuang dahulu, tapi semangat itu harus kita pertahankan. Semangat itu tak pantas untuk tumbuh dan tak pantas untuk hilang berganti.

Membangun semangat yang membara dari awal sampai kaputing. Membangun semangat yang tak luntur ditelan waktu, ruang boleh berubah, gedung boleh menikam langit. Tapi hati kita tetap satu, membangun Indonesia yang maju. Mencintai Indonesia, sebagaimana kita mencintai orang tua kita.

Disini kita berjanji untuk membangun negeri demi kebanggaan dan senyuman bangga. “Inilah kakek ku, dia berhasil merubah perkampungan kumuh ini.” Bukan “semua karena kakek mu, perkampungan kumuh itu ada.” Memalukan bila ini terjadi, apakah kita hanya berada dalam romantisme masa lalu nan indah itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s