Pengusiran Memalukan Portugis di Maluku Utara

Banyak sumber yang berbicara mengenai asal mula nama daerah yang berada di bagian timur Indonesia ini. Menurut Barros, Gulvano, dan Martha nama daerah ini Maloc (dibaca: Muluk) kemudian berubah menjadi Maluco (dibaca: Maluku). Daerah ini (Maluku) terkenal sebagai penghasil rempah-rempah di dunia, terutama Cengkeh. Banyak hal yang menyebabkan Cengkeh menjadi salah satu komoditi perdagangan yang utama, seperti kegunaannya di bidang parfum dan farmasi. Bumbu masakan dan minuman, bila dicampurkan beberapa jenis makanan lainnya (misalnya dicampur dengan susu, maka akan menjadi penambah gairah) atau digunakan langsung dapat menjadi obat yang manjur.
Beragamnya manfaat dari Cengkeh ini, membuat rampah-rempah jenis ini menyimpan eksotis tersendiri bagi yang menggunakannya. Tak heran, bila pada saat itu Cengkeh menjadi primadona bagi masyarakat. Penanaman Cengkeh sudah dilakukan sejak beberapa ribu tahun yang lalu, namun baru mendapatkan tempat (ada tulisannya) setelah beberapa abad terakhir ini saja.
Masuknya Islam melalui alur perniagaan menjadikan Maluku semakin membuka diri dalam perdagangan internasional yang mereka lakukan. Tak mengherankan bila Islam pada awalnya berkembang di daerah pesisir sebelum masuk ke daerah pedalaman. Penerimaan Islam secara damai, melahirkan keharmonisan dalam perdagangan yang dilakukan oleh sesama muslim, sebagai sebuah etnisitas Melayu.
Memasuki abad 16, Maluku mampu menunjukkan diri sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Ditambah sikap Turki yang menutup laut tengah untuk perdagangan di Eropa, membuat Vatikan membagi dunia menjadi 2 dengan mengirimkan ekspedisi ke timur oleh Portugis dan ke barat oleh Spanyol. Tujuan ekspedisi ini terutama dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rempah-rempah yang saat itu sangat diperlukan, walaupun ada motivasi lain yang lazim di sebut dengan 3G (Golden, Gospel, dan Glory), keinginan untuk mengambil resiko berbahaya, dan melakukan petualangan.
Setelah menaklukkan Malaka, Portugis menyadari bahwa daerah itu bukan penghasil rempah-rempah melainkan pusat perdagangan. Kekecewaan ini mendorong mereka untuk melakukan pelayaran ke timur, menuju daerah penghasil rempah-rempah sesungguhnya. Setelah melakukan pelayaran akhirnya Portugis sampai di Maluku pada 1512 di Banda. Terbukanya jalur perdagangan ke Maluku, membuat Portugis berkeinginan untuk menanamkan pengaruhnya terutama untuk melakukan monopoli perdagangan kala itu. Hal ini ditunjukkan dengan melakukan intervensi terutama pergantian Sultan. Dengan sebuah intrik Portugis menjadikan Tabarija pada 1535 sebagai Sultan, namun Tabarija kemudian diasingkan dan naiklah Sultan Khairun sebagai Sultan. Hal yang serupa dilakukan terhadap sultan Khairun, saat Sultan Khairun di asingkan ke Goa, Tabarija dikembalikan ke Ambon. Namun sultan ini meninggal di Malaka sebelum mewariskan kerajaan kepada Raja Portugis sebagai Kerajaan Kristen. Naiknya Sultan Khairun sebagai raja, nampaknya tidak menyenangkan Portugis hal inilah yang mendorong terjadinya pembunuhan terhadap Sultan Kharun oleh Musquita yang memicu pengepungan benteng oleh Sultan Baabullah (putra sulung Sultan Khairun yang dinobatkan sebagai Raja). Kemara han terhadap tindakan Musquita yang membunuh Sultan Khairun dan memotongnya menjadi beberapa bagian yang kemudian dipamerkan di muka Benteng. Membangkit kemarahan besar rakyat Sultan Khairun yang di bawah Sultan Baabullah melakukan pengepungan terbesar yang pernah dialami oleh Portugis.
Setelah 5 tahun bertahan dalam benteng, akhirnya Portugis menyerah dan bersedia angkat kaki dari Maluku utara. Penyerahan terhadap Sultan Baabullah ini menandai kegagalan Portugis, yang kemudian membuatnya menyingkir ke Timor Timur dan perlahan tidak menunjukkan eksistensi yang nyata di nusantara. Pengusiran ini merupakan coretan arang di wajah Portugis, sebagai pelopor pelayaran ke barat. Angkat kakinya Portugis, membuat Sultan Baabullah menobatkan diri sebagai Sultan 72 Pulau, yang memerintah dengan balatentara 130.000 orang dan berkuasa hingga 1583 yang kemudian kedudukannya digantikan oleh putranya Said.
Tampaknya kegagalan Portugis ini lebih ditunjukkan dengan sikapnya menggabungkan antara perniagaan dan agama. Merubah sebuah negara yang Islam menjadi Kristen menunjukkan keangkuhan yang dapat membangkitkan semangat penolakan terhadap Portugis. Keinginan untuk memonopoli dengan jalan melakukan intervensi terhadap urusan birokrasi pemerintahan membuat Portugis terdepak dari Nusantara.
Perbandingan dengan Belanda yang mampu bertahan lebih lama, Belanda lebih mengesampingkan masalah agama sehingga konflik yang terjadi lebih mengarah pada eksplotasi ekonomi. Inilah yang tidak dilakukan Portugis yang melakukan aksi misionaris secara berlebihan.
Kehidupan keraton di Maluku tidak jauh berbeda dengan kehidupan keraton di Nusantara lainnya. Bahwa para bangsawannya mengenakan pakaian yang indah-indah, yang berhiaskan sutra, dan emas. Bagi orang Maluku menginang (mengunyah pinah, sirih, dan kapur) merupakan cara menghormati tamu yang datang. Mereka percaya bahwa menginang dapat mengenangkan diri. Sepak Raga (Takraw) merupakan salah satu permainan dari Maluku yang sampai sekarang kita mainkan.

3 thoughts on “Pengusiran Memalukan Portugis di Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s