Catatan Pulang ke Barabai

Sebelum pulang ke Barabai dari Banjamasin. Hujan deras mengguyur kota seribu sungai. Ku terdiam sejenak, ku ambil air lalu ku jalankan hak Allah atas diri ku. Hujan pun mereda, dan aku bersiap untuk pulang ke Barabai.

Sejenak sebelum berangkat aku terdiam, berdoa agar jalanku menuju tempat dimana aku akan berada pada beberapa jam kemudian, semoga di mudahkan-Nya, dengan penuh keyakinan aku beranjak pergi meninggalkan rumah. Hujan gerimis melanda langkah ku, untuk beberapa saat aku kebasahan. Ku lihat sebelah kiriku, langit cerah menunggu ku. Aku tak berhenti, gerimis takkan menghentikan ku (sebab aku berpikir butuh badai yang membuatku terdiam). Aku punya alasan, hujan memang di sini, tapi aku tahu di sebelah sana ada langit cerah menanti ku. Karena itu aku akan terus berjalan, dan tak berhenti di sini apalagi untuk kembali. Perjalanan ku menuai hasil, langit cerah mengeringkan tubuh ku yang basah. Aku tersenyum, harapan selalu menjadikan aku lebih kuat dan mampu bertahan lebih lama dari kebanyakan orang.

Suatu ketika, hujan deras membuat ku berteduh. Ku hanya terdiam, termangu, meratapi hari. Aku tak kuasa melawan, karena ada tanggung jawab yang membuatku harus menjaga apa yang dikuasakan atas ku. Aku belajar, terkadang aku harus menyerah agar tak melukai orang yang ada di sekitar ku.

Suatu saat, hujan tak membuat ku berhenti. Alasan mengapa aku menembus hujan, membiarkan tubuh ku kuyup. Suatu sebab, mengapa aku terbaring sekian waktu di kamar. Aku tak bisa menunggu hujan mereda, akan ku hadapi dengan semua risiko. Ini takdir ku, aku takkan menyerah di sini. Ada yang menunggu dan mencemaskan kedatangan ku. Aku akan bertahan, selama yang bisa aku lakukan, melebihi kebanyakan orang yang mampu eksis menantang zaman. Bila aku menyerah, aku hanya pecundang sepanjang zaman. Aku akan tetap berusaha, karena kekalahan hanya saat kita berhenti untuk berusaha serta membiarkan diri ini menyerah. Tak ada yang tahu, takdir apa yang akan kita jalani. Kitab itu tak dibentangkan di hadapan mu, tapi kita yang menulisnya. Pelajarannya, kita adalah kreasi kegagalan ataupun kesuksesan yang kita jalani. Kita yang menjalani hidup atas keputusan yang kita buat, bukan mereka yang membisikkan. Sebuah jawaban, mengapa aku keras kepala terhadap beberapa hal dalam hidup ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s