Indahnya menggenggam nanas dari masa ke masa

Bila kita berjalan diberanda Gedung Sultan Suriansyah atau kita kenal dengan gedung bundar. Nampak ada sebuah ornamen yang menarik untuk diperhatikan, dan keberadaannya patut kita pertanyakan. Ornamen yang dapat dengan mudah kita jumpa itu adalah sebuah nanas yang memiliki kekhasan apalagi bila kita tinjau secara filosofi. Ada banyak tempat kita bisa menemukan ornamen ini terutama pada design rumah yang menganut tradsional banjar.

Kita mengenal nanas hanya menjadi sebuah sajian pelengkap pada Rujak, terkadang juga tampil di Acar (makanan yang terdiri dari Timun yang dipotong dan direndam diair bercampur cuka dan lombok-pen.), namun dibalik rasa manis dan asamnya buah ini. Tersimpan makna yang dalam bagi arsitektur banjar.

Bila kita memotong kecil-kecil nanas yang masih muda ini lalu kita campurkan dengan air yang seperlunya. Selanjutnya kita masukkan logam yang bekarat kedalam tempat tersebut, maka tunggulah beberapa waktu. Tampak karat-karat yang menempel dilogam tersebut akan bersih, dan logam tersebut menjadi kembali mengkilat. Tak heran, bila benda-benda yang dikeramatkan oleh masyarakat Banjar. Bila sampai ‘waktunya’ untuk dibersihkan, maka akan dibersihkan dengan menggunakan nanas muda dengan cara diatas.

Pada nanas yang sudah matang (masak). Biasa kita gunakan sebagai salah satu bahan untuk membuat rujak. Ketika kita menyantap rujak, maka orang-orang berkumpul untuk menikmati rujak tersebut. Orang-orang yang menikmati rujak ini menyukai nanas yang menjadi salah satu pelengkapnya. Ornamen nanas yang ada di Rumah Banjar, atau bangunan dengan arsitektur Banjar memiliki makna simbolik untuk mengundang setiap orang datang bersilaturrahmi kerumah tersebut.

Ornamen ini bisa kita temukan pada puncak masjid yang berbentuk design tradisional (misal: Sabilal Muhtadin), lalu dapat juga kita jumpai pada tiang yang ada diambang tangga rumah adat Banjar yang bertipe bubungan tinggi (bisa kita lihat pada museum Wasaka yang terletak didekat jembatan Pangambangan (banua hanyar) atau bisa juga dilihat pada model museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru), dan dipagar-pagar rumah penduduk banjar yang mengambil filosofi nanas ini.

Nanas yang muda tadi, digunakan untuk membersihkan logam yang berkarat. Bila hal ini dikaitkan dengan hati manusia yang diibaratkan dengan logam yang berkarat, dan harus dibersihkan dari karat yang menempel. Karat dihati manusia ini dianalogikan sebagai sifat-sifat buruk seperti sombong, dengki, takabur, berprasangka buruk, dan semua sifat jelek lainnya. Dengan filosofis seperti ini, diharapakan hati manusia yang masuk kedalam masjid yang memiliki simbolik ini.

Selanjut bila digunakan dirumah adat Banjar, makna filosofis ini berubah tetap masih memiliki korelasi. Diharapkan tamu yang datang berkunjung ini, memiliki niat yang baik, dan tuan rumah yang menerima dapat menerima dengan segala kebaikan.

Mengingat silaturrahmi (ini merupakan pengembangan ada aspek perbuatan) dan ‘pembersihan batin’ (pengembanga ini pada aspek pola pikir atau ide), serta keduanya merupakan pengamalan praktek keagamaan. Maka kedua aspek tersebut haruslah dalam keadaan yang sinkron, artinya apa yang ada dialam perbuatan haruslah sama dengan apa yang ada dihati.

Harusnya banyak tempat di setiap sudut kota Banjar dan kota-kota yang ada di Kalimantan Selatan ini memasang ornamen nanas. Tanpa mengesampingkan ornamen yang lainnya, ornamen ini memiliki makna simbolis yang khas. Kita tentu berharap, di Unlam ini, kita bisa melihat ornamen tersebut disetiap sudutnya.

Ketika kita melihat ornamen nanas tersebut kita mengingat sebuah kebudayaan kita yang telah berkembang maju pada zamannya, agar timbul rasa bangga menjadi orang Banjar tanpa mengesampingkan kata nasionalisme yang ditanamnkan oleh Hasan Basry dihati setiap orang Banjar.

Nanas merupakan buah yang terasa nikmat, dapat diolah menjadi beragam makanan yang menyegarkan. Dapat tumbuh dimana saja, tanpa memikirkan air yang cukup. Tak heran buah ini mudah dijumpai dimana kita ada, walau Banjarmasin tak menjadi kota nanas, meski memiliki latar sejarah nanas dalam perkembangan kebudayaannya. Banjarmasin sebagai kota seribu sungai, janganlah tercabut dari kebudayaannya. Sungailah tempat kita bermula, tumbuh, dan berkembang. Menjalin persaudaraan, menjalin harapan dari masa ke masa. Meniti waktu ke waktu, melihat mimpi dari semua sisi banua ini.

Menatap dari ketinggian meratus, ada sebuah bintang dimana kota yang indah dengan masyarakatnya yang tak melupakan jas merah mereka, nampak hilir mudik perahu-perahu dan jukung membelah keindahan sungainya. Walau ini Cuma utopis, aku bermimpi ini akan terjadi pada masanya nanti.

 

Bahan bacaan:

Seman, M. Syamsiar dan Irhamna. 2006. Arsitektur Tradisional Banjar Kalimantan Selatan. Banjarmasin: Lembaga Pengkajian dan Pelestarian Budaya Banjar Kalimantan Selatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s