Bertarung Pada Objektifitas yang Buram

Objektifitas selalu menjadi nada dalam banyak hal, dalam sebuah pendapat ataupun artikel. Objetifitas selalu menjadi dilema yang membuat siapun menjadi serba salah, hal ini tentu terkait tentang ke arah mana kebenaran yang ingin kita tuju. Setidak ini hanya sebuah rujukan yang berputar dalam otak ku, yang sedang galau karena proposal penelitian. Membuatku kembali berminat untuk menulis, sehingga blog ini enggak kehilangan ide buat terus ku kembangkan. (hahaha, berpikir secara duos merentangkan antara harapan dan kenyataan yang menjadi lebih faktual dari sekedar mimpi ataupun bunga tidur.)

Senang kembali bersemangat  seperti ini. Menulis tentang objektifitas yang menuju kebenaran. Mungkin baru kali ini aku kepikiran. Objektifitas bisa ku justifikasi tidak ada, dan subjektifitas yang ada. Hmmm, sebuah pengingkaran bahwa ketiadaan kebenaran yang bersifat mutlak atau selamanya benar.  Oh iya ada pengecualian, yang benar secara mutlak bukanlah pemikiran manusia. Jadi lepas dari kenyataan tanpa tafsir dan Firman Tuhan semuanya adalah kebenaran (setidaknya sejauh ini aku pahami seperti ini). Misalnya:  matahari itu panas, menurutku itu kebenaran mutlak yang tak ditafsir. Maksudnya, kalau pake tafsiran yang menunjukan kwalitas panasnya tentu berubah menjadi subjektifitas. Entah kamu entar make kata Celcius atau Fahreinheit, mana aja boleh.

Hmmm, kembali ke objektifitas. Sebagai orang persma (pers mahasiswa), ataupun mewakili kalangan akademisi (mahasiswa, hahaha selalu murung bila melihat aksi demo yang berujung anarkis baik di lingkungan sendiri maupun diluar kampus sendiri yang disponsori oleh mahasiswa. Masalahnya yang dirusak itu punya negara, yang dibangun pake uang rakyat, eh malah dirusak-rusak, emangnya bisa maju dengan cara begitu, kalau orang sibuk memajukan kampusnya melalui beragam prestasi, dan manfaatnya dirasakan masyarakat luas, kita malah baru membangun, mending kalau kita merekontruksi (memperbaiki yang ada) dan dekontruksi (memperbaiki yang diperbaiki). Nah yang dekontruksi itu keren. Malah gak pernah kuat pondasi yang ada, hmmm). Kembali ke objektifitas tadi. Objetifitas kali ini berkaitan dengan penulisan tulisan.

Sebuah tulisan, mau tulisan ilmiah ataupun non ilmiah, berita ataupun apapun genrenya selalu berkaitan dengan objektifias dan subjektifitas. Dimana subjektifitas selalu menjadi kunci utama. Why??? Mudahnya aja, misal: kalau kamu membuka buku apa saja yang menyertakan footnote dan isinya tentang refrensi. Maka objektifitas yang disebut itu sudah menggambarkan subjektifitas seseorang (refrensi tadi). Sehingga, objektifitas selalu berkaitan dengan pendapat orang lain tentang apa yang kita tulis atau kita salin pendapatnya. Hmmm, dengan kata lain objektifitas hanyalah ketidakakuan aku untuk diakui atau bisa dikatakan secara gamblang adalah kebenaran yang bukan dari saya (subjek).

Misalnya: ““Dia adalah calon ketua BEM yang baik, ramah, dan supel. Sehingga banyak disukai oleh pemilihnya.” Ungkap Sukma mahasiswa Geografi.” Hmmm, disini apa yang disampaikan oleh penulis itu adalah subjektifitas dari narasumber semata. Maksudnya, kalau ditanyakan ke narasumber yang berbeda, maka pendapatnya berbeda dan mungkin tidak senada.

Penulis selalu menganggap itu objektif bila dia melepas keakuan dari tulisannya. Walaupun tak pernah ada yang benar-benar objektif, dan subjektif di dunia. Namun kebenaran selalu mendekati itu, dan tak pernah sampai.

Berbicara kebenaran, sebenarnya seperti bicara tentang kesepakatan saja. Kenapa??? Karena kebenaran itu hanyalah kesepakatan orang banyak, sehingga tak pernah bisa disepakati oleh setiap orang. Hmmm, sedikit menjelimet ne. Contoh: “Budi menilai kemiskinan merupakan permasalahan di Kota Banjarmasin. Jadi perlu di tanggulangi.” Apa yang dipikirkan Budi adalah benar, selama orang banyak menganggap itu benar. Jadi, bisa saja apa yang dipikirkan Budi menjadi satu kesalahan ketika banyak orang mengganggap itu tidak benar. Mungkin contoh lain bisa lebih gampang, “Android merupakan paltform yang terbuka dalam pengembangannya, sehingga lebih banyak memiliki pengguna.” Pernyataan ini benar, karena banyak orang yang mengamini. Namun, menjadi salah ketika banyak orang menyatakan salah.

Hmmm, lalu apa kaitannya objektifitas dan kebenaran. Keduanya memiliki perbedaan yaitu sama-sama menujukkan ketidakakuan. Sehingga hasil akhir selalu bisa diterima oleh banyak pihak. Perbedaan berikutnya, berkutat pada batas ruang dan waktu. Sesuatu menjadi benar selama yang lain adalah salah, dan salah adalah selama yang lain menjadi sesuatu yang benar. Sehingga tidak pernah menjadi kebenaran maupun kesalahan yang mutlak, sepanjang waktu. Layaknya sebuah pemikiran yang dapat menjadi abadi, selalu benar, berdasarkan konteks ruang dan waktu semata.

Sehingga semua di dunia ini seperti buram saja, maksudnya sekali waktu menjadi objektif dan benar, padahal disebelah sisi yang lain itu adalah sesuatu yang subjektif dan salah (walau tidak selalu bersanding seperti itu, bisa juga tukar pasangan). Ungkapan Sukma tadi itu adalah subjektifitasnya semata memandang calon ketua Bem. Dan menjadi objektifitas ketika dituliskan kembali oleh penulis. Hmm, tulisan itupun menjadi subjektif ketika subjektifitas seseorang saja yang disampaikan dan tidak bicara tentang keburukan melalui subjektifitas yang lain.

Objektifitas tak bisa menjadi kebenaran, sebab berada pada garis horison antara langit dan bumi, antara angel dan devil, makro dan mikrokosmos. Objektifitas itu buram, tidak A ataupun B ketika berada dalam dua pilihan atapun banyak pilihan. Kebenaran tak pernah menjadi mutlak ketika di interprestasikan. Bicara objektivitas bicara tentang subjektifitas buram (ketiadaan kebenaran), dan bicara kebenaran adalah subjektifitas jernih komunal. Intinya adalah subjektifitas. Kesana kemari kita membahas banyak hal, semua kembali ketitik nol yaitu subjektifitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s