Lekaq Kidau di Sebulu (Kaltim)

Lekaq Kidau merupakan desa yang terletak di Kec. Sebulu di Kab. Kutai Kartanegara. Desa ini bersebelahan dengan Senoni. Lekaq Kidau dihuni oleh suku Dayak, disini kita bisa menjumpai perempuan dengan telinga yang panjang. Kalau kita datang dari Senoni, maka ke lekaq Kidau kita harus menyebrang dengan perahu.

Ini cerita pengalaman ku berangkat Praktik Kerja Lapangan kesana, dalam rangka mata kuliah Metodologi Sejarah dan Dasar-Dasar Statistik.Kami berangkat kesana dengan menggunakan Bus dari Banjarmasin.

Hmmm, aku berangkat dari kampus  I (Universitas Lambung Mangkurat) di Kayu Tangi (Banjarmasin) menuju terminal Pal 6 (terminal antarpropinsi dan antarkota di Kalsel). Ini pertama kalinya aku menggunakan taksi kuning. Biayanya 6 ribu rupiah, 3 ribu ke PDAM Bandarmasih di daerah Pal 3 an, dari sana naik taksi ke pal 6 juga 3 ribu. Mau jarak pendek ataupun jauh, biayanya juga sama.😀

Kalau sudah sampai di pal 6, cari aja bus tujuan Samarinda. Kalau aku kemarin, sudah beli duluan. Buat kamu yang mau kesana, bisa juga kok dengan menelpon duluan untuk memesan tiket. Nah pas datang diterminal kamu chek in ke travel buat tahu bus mana yang akan kamu gunakan. Kalau kamu sudah tahu bus yang mana, kamu tinggal masuk kedalam bus buat mencari kursinya di tiket. Nah, kalau barang mu banyak tinggal masukan dalam bagasi. Buat barang yang penting, ataupun rawan. Kamu bawa terus, taruh aja dibagasi atas atau dibawah kursi.

Oh iya, kalau kamu naik bus. Ada 2 varian busnya, bus pertama adalah bus non ac dan yang kedua bus full ac plus toilet. Bus yang pertama harga tiketnya 130 ribu, bus yang kedua 150 ribu. Waktu itu aku pilih bus non ac. (hemat-hemat hehehe)

Aku berangkat jam setengah 2 dari Banjarmasin, bis terus melaju pelan menyusuri kota Banjarmasin menuju Banjarbaru. Sampai di Martapura, bis kembali singgah untuk menjemput penumpang di muka Masjid Raya Martapura.  Bis kembali terisi, sepanjang jalan satu persatu kursi terisi dari penumpang yang telah membeli tiket namun menunggu di pinggir jalan, atau menunggu di travel cabang dari Bus ini. Hingga di jalan pemisah antara kursi sebelah kiri dan kanan terisi oleh tempat duduk. Untung saya punya tiket, jadi kami bisa menikmati kursi untuk bersandaran.

Kalau aku pikir, awak bus ini melanggar ketentuan. Sebab bus jadi bermuatan over kapasitas, tapi kalau aku pertimbangkan . Bus menuju Samarinda atau Balikpapan tidaklah banyak yang lalu lalang, sehingga calon penumpang harus sabar dengan keadaan ini. Ditengah maraknya penggunaan kendaraan roda 2, bus masih bisa eksis terus. Tak lain karena trayeknya yang jauh, Banjarmasin-Samarinda (18 jam perjalanan), ataupun rata-rata perjalanan bus yang diatas 12 jam. Berbeda dengan angkutan antarkota dalam propinsi, yang mungkin terpukul dengan kepemilikan kendaraan roda 2 yang banyak, sehingga jumlah penumpang menjadi berkurang.

Saya yakin pemilik atau manajemen travell dari bus ini, mengetahui kerjaan awak bus yang membuat penumpangnya secara over. Namun, mereka mendiamkan saja. Sebab dengan persaingan armada angkutan, dan menyusutnya jumlah penumpang sehingga pendapatan menjadi turun. Dengan “berpura-pura” tidak tahu, setidaknya akan memeberikan uang lelah tambahan untuk supir dan kernetnya. Sehingga pendapatan mereka tetap mencukupi untuk memenuhi kebutuhan selama perjalanan dan sehari-hari. Hahaha, jadi ngelantur kesini.

Perjalanan bus terus perlahan-lahan, menyinggahi setiap terminal untuk memberi kesempatan kepada pedagang asongan untuk menjajakan dagangannya. Lepas dari kota paling ujung di Kalimantan Selatan, Tanjung(Kab. Tabalong) (sekitar jam 10 malam bus sampai di kota minyak, setidaknya di Hulu Sungai hanya kabupaten ini yang memproduksi minyak bumi ). Bis melaju kencang menyisir jalan, perjalanan berhenti disuatu rumah makan di dekat Muara Uya. Hmm, disini ada tragedi hilang dompet penumpang bus, pas bis mau berangkat supir dan kernet ribut mencari pencurinya. Perjalanan menjadi delay ditempat transit.  Dompetnya ketemu, namun uangnya sudah hilang. Bis kembali melaju, meyusur liukan jalan meninggalkan kalsel menuju kaltim. Perjalanan seperti roller coaster, hahaha semua penumpang berdoa dalam hati semoga perjalanan selamat. (Rupanya ada pergantian driver, dijalan yang sunyi dan penuh liukan ini). Sang pengemudi seperti sudah hafal dengan rute, dia tahu saat mengerem yang tepat, aku tak habis pikir. Dibawah kendali pengemudi ini, bus yang besar ini seakan L300 yang melaju disiang hari.

Jam 2 pagi, bis masuk terminal Kuaro di Kab. Grogot. Perjalanan berlanjut ke Penajam untuk menyebrang ke Balikpapan menuju Samarinda. Wow, bis kembali melaju kencang dijalan yang sunyi. Sekitar jam setengah 4 bis sampai di Penajam. Bis melaju kencang memasuki pelabuhan, aku gak habis pikir. Bisa-bisanya bis melaju secepat ini, bis berhenti dan masuk perlahan kedalam ferry untuk menyebrang. Wah-wah, busnya tepat memperhitungkan waktu penyebrangan jadi gak perlu antri ataupun menunggu ferry lainnya (sudah ada target waktunya). Jam 5 an, bis sampai di Balikpapan. Dari Balikpapan, sampai di Samarinda jam 8 pagi.

Perjalanan menuju Samarinda membuat kepala ku sakit, bukan karena pusing. Tapi karena benturan dengan jendela, bis meliuk-liuk ditepi bukit. Membuat kepala ku terbentur kesana kemari, hahaha. Jadi keingatan Ajari 6, saat minibus yang ku tumpangi naik turun dikota Bau Bau.

Dari Terminal bis Samarinda Seberang (orang menyebutnya terminal Banjar), kita menyebrang ke Samarinda Kota. Retribusi Dishub 1000 baru, dan perahu penyebrangan 5000. Dari penyebrang dilanjutkan naik taksi hijau A menuju terminal Sungai Kujang biayanya 3000 plus retribusi dishub lagi 500.

Menyebrang dari Samarinda Seberang menuju Samarinda Kota, mengingatkan ku akan perjalanan dari Kota Bau Bau menuju Pulau Makassar. Hahaha, malah jadi nostalgia. Kebetulan disini ada rekan Ajari 6 ku dari Unmul jurusan Hubungan Internasional. Rencananya mau, ku jadikan dia GPS berjalan disini, namun sejak aku mau berangkat ke Samarinda, ku coba hubungi tapi gak bisa-bisa. Ya gak apa-apa, lain waktu kan masih bisa. Banjarmasin-Samarindakan cuma 18 jam, hahaha dekatan ke Surabaya yang cuma 1 jam naik pesawat. Hahaha, oh iya. Kalau dari Banjarmasin ke Pontianak itu, kita harus lewat Jakarta. Jadi nyebrang ke Jawa baru balik ke Kalimantan lagi. Hahaha, gara-gara belum ada penerbangan yang langsung kesana. Bahkan jalan daratnya saja, masih berupa jalan perusahaan sawit. Hahaha, konon katanya aja sich. hehehe

Dari sini (terminal Sungai Kujang), kita tunggu bis menuju Senoni. Sekitar jam 10 bis Senoni  datang, kita tinggal beli tiket didalam bis. Bilang aja ke Lekaq Kidau, ntar kamu diantarkan bis sampai ke lokasi. Ongkos ke Senoni 20 ribu, karena sampai Lekaq Kidau kami bayar 25 ribu. Oh iya, mereka lebih mengenal tempat itu dengan Kidau aja. Perjalanan menuju Kidau sekitar 3 jam baru sampai di lokasi, berangkat jam 11 an, kami sampai jam 3 sore di kidau. Bisnya banyak mengantar penumpang (keluar dar irute perjalanan reguler), jadi gak langsung ke Kidau. Jadi waktu tempuhnya sedikit lebih lama.

Nah, pas diantar ke Kidau. Kami bingung, kenapa diturunkan ditengah hutan? Ternyata eh ternyata, dari tempat diturunkan bis, kami harus jalan sekitar 50 meter menuju penyebrangan. Setelah menyebrang naik ferry, kami sampai dilokasi dengan selamat. Kami lalu mangkal di dermaga, untuk memasak mie saja. Maklum kami tidak melihat masjid didaerah sini, ditambah karena berangkat jam 11, dan sampai jam 3. Perut kami belum lagi terisi.

Nah, untuk pulangnya. Kami mesan tiket via telpon untuk keberangkatan menuju Banjarmasin. Kami pilih keberangkatan jam setengah 2, sebab kami memperhitungkan kedatangan pagi (sektar jam 8an di Banjarmasin), kalau berangkatan jam 9 pagi dari Banjarmasin. Kami khawatir sampai tengah malam atau dini hari di Banjarmasin. Gak ada angkot, bisa naik ojek atau menginap diterminal.

Jam setengah 6 kami berangkat dari Kidau menuju Samarinda. Bis yang kami tumpangi  adalah bis yang sama saat kami datang. Jam 7an bis berangkat dari Senoni, dan jam setengah 10 kami sampai di Samarinda (terminal Sungai Kujang). Karena jam setengah 2 bis berangkat, dengan asumsi kami datang paling lambat jam 1 di terminal untuk melaporkan tiket yang dipesan, selain untuk membayar tiket dan mencari tahu bis mana yang kami gunakan.

Karena masih ada waktu sekitar 2 jam an, kami habiskan dengan melihat-lihat kota Samarinda. Saya singgah di tepian sungai sungai Mahakam, maklum disini tepiannya seprti taman kota, enak untuk disinggahi. Berjalan terus menelusuri tepian sungai Mahakam, saya tertegus melihat Islamic Senter di kota ini. Melihat kemegahan masjid ini, saya jadi teringat dengan Masjid Raya Martapura, sejenak saya berpikir. Karena di tempat saya juga ada, dan tak terasa istimewa jadinya. Dalam perjalanan menelusuri, saya bingung mau kemana. Nah pas ada distro (distributor store), dibawah nama distro itu ada tulisan Mall Lembuswana. Jadilah saya kesana, sSaat masuk kesalah satu pusat perbelanjaan (Mall Lembuswana) saya terkejut, di Banjarmasin untuk gadget gak begitu banyak variannya. Disini malah lebih lengkap.

Di Banjarmasin, untuk orang berjualan Handphone, kebanyakan ada ditoko, store, dan shop saja (beberapa tempat penjualan Hp di Banjarmasin yang lumayan bernama yang saya tahu, Anastakin, Tiara Ponsel, dan Hape World) . Jadi kalau mau beli gadget kita bisa datang ke toko, ataupun outlet resmi dari satu produk. Misalnya: kalau mau Iphone atau Ipad, kita bisa datang ke storenya yang ada 1 (setahu saya, namaunya Ifive bukan Apple Store) di Kayu Tangi. Di Samarinda malah mudah ditemukan, dijual seperti kue. Hahaha, termasuk Macbook. Masalah harga hmmm Banjarmasin megang, sebab lebih murah, ketimbang di Samarinda. Itu pengalaman saya tentang gadget.

Setelah dari Mall Lembuswana kami menuju Pasar Pagi (tempat penyebrangan menuju terminal Samarinda Seberang), tarif taksinya 3000. Tarif taksi kota, jauh dekat tetap sama. Pas kita mau ke Samarinda Seberang, biaya untuk nyebrangnya 10000. Naik 4000 dari berangkatnya, pas masuk terminal kita bayar 500. Jam setengah 2 berangkat menuju Banjarmasin, ada sekitar 1 jam kami delay di pelabuhan penyebrangan menuju Penajam. Jam 5  sore lewat kami baru menyebrang dari Balikpapan, dan sekitar jam 7an kami menukarkan kupon makan di Penajam.

Dari Penajam ke terminal Kuaro, sampainya jam 11 malam, dan sampai di Muara Uya (Tanjung) jam 2 an, sekitar jam 3 an bis kembali go ke Banjarmasin. Jam setengah 8 kami sampai di Banjarmasin dengan selamat. Sekitar jam 8an kami sampai di Kayu Tangi, markas besar kami bersarang.

Perjalanan yang seru, buat kamu traveller boleh dicoba. Rutenya menuju Lekaq Kidau (Desa Budaya), Banjarmasin-Samarinda (130 ribu)-Nyebrang ke Samarinda Kota (6 ribu)-angkot (hijau huruf A, terminal sungai kujang, 3 ribu)-senoni/lekaq kidau(20 ribu: senoni/25 ribu: lekaq kidau). Nah buat pulangnya, tinggal putar aja rutenya. Totalnya adalah 168 ribu, dikalikan 2 adalah 336 ribu, atau sekitar 340 ribua aja biaya kamu kesana. Mungkin dengan 500 ribu, itu cukup buat kamu termasuk makan (penginapan 20 ribu permalam di terminal), plus mutar-mutar di kota tepian, sambil rekreasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s