Pendidikan dalam Kesederhanaan di Desa Sumbai di Kec. Batang Alai Timur Kab. Hulu Sungai Tengah

siswa SD Sumbai, mereka tampak ceria bersekolah

Pendidikan mengajarkan kita untuk menggunakan perasaan, memahami sesuatu tidak melulu menggunakan otak tetapi juga menggunakan hati.

Pendidikan merupakan cara bagaimana kita meriwayatkan sebuah tradisi yang ada didalam masyarakat. Pendidikan menjadi wadah untuk memperkaya dan mempertahankan tradisi yang sudah ada, agar terus dikenal. Pendidikan bukan sekedar, bagaimana kita mengola otak, ataupun bersikap kritis. Pendidikan mengajarkan kita untuk menggunakan perasaan, memahami sesuatu tidak melulu menggunakan otak tetapi juga menggunakan hati. Sehingga kita memiliki jangkauan pemikiran yang lebih luas, memahami segala dengan lebih baik. Karena terkadang ada hal yang hanya bisa dipahami dengang menggunakan hati yang tenang, bukan dengan logika yang kasar.

Pendidikan bagi sebagian masyarakat tidaklah menjadi bagian yang penting dalam keseharian mereka. Namun, kita sebenarnya salah jika berpikir demikian. Karena pendidikan bukanlah apa yang diajarkan oleh sekolah, ataupun guru kepada siswa. Pendidikan merupakan cara bagaimana seseorang bisa bersikap baik dengan akal pikiran dan perasaanya. Pendidikan itu sesuatu yang dijalani sepanjang hayat, bukan sekedar duduk didalam sebuah ruangan.

satu ruangan untuk dua kelas

Mereka menganggap pendidikan itu penting, tetapi pendidikan yang bagaimana? Bukankah kita selama ini selalu terpaku dalam standart buku yang kaku, di Desa Sumbai kita banyak belajar tentang pendidikan yang sederhana. Tak ada yang hebat disana, selain satu semangat untuk mengabdi dan menjadikan setiap sudut kehidupan manusia menjadi lebih pandai.

Desa Sumbai merupakan sebuah perkampungan di kaki Gunung Meratus yang membentang dari HST hingga ke Kota Baru. Seperti banyaknya perkampungngan di kaki gunung, Desa ini dihuni ole Suku Dayak Meratus yang mendiami secara berkelompok. Setiap desa, memiliki Balai Adat atau kita kenal dengan rumah adat. Disinilah, berbagai perayaan diselenggarakan oleh masyarakat. Upacara pesta panen, ataupun ritual pengobatan dan lain-lain.

Siswa dan Siswi bermain volley dimuka kelas menunggu guru

Sebelum dibangun SD, masyarakat Desa Sumbai menyekolahkan anaknya ke Desa Hinas Kiri yang berada sekitar 4 km atau 1 jam perjalanan kaki. Karena jumlah siswanya yang masuk kategori sedikit, Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan baru membangun SD Pembantu Desa Sumbai pada tahun 2005. Perhatian semakin besar diberikan pada tahun 2007 (dan semenjak saat itu) Dana BOS setiap tahun diberikan. Namun, apa yang terjadi dengan dana itu, lemari buku saja kosong gak ada isinya. Sementara kapur, buku pelajaran, buku tulis, didapatkan secara swadaya antara guru dan masyarakat,

Ketika awal berdiri, sekolahan ini hanya memiliki 3 ruang kelas, baru tahun 2007 ruang kelas bertambah 1 dan kantor. Totalnya ada 6 ruang, dengan 5 kelas dan 1 kantor. Setiap kelas di isi oleh 2 kelas, hanya kelas 5 dan 6 yang satu kelas. Kurangnya jumla guru, membuat anak kelas 6 membantu gurunya untuk mengajar dikelas 1. Sekolahan ini memiliki 3 orang guru, 1 diantaranya adalah Pegawai Negeri. Memprihatinkan adalah guru yang di gaji lewat pajak dan retribusi daerah itu hanya datang 3 kali seminggu, sementara guru honorer lah yang mengajar setiap hari. Hanya dedikasi yang mengajarkan bahwa perasaan mengalahkan logika.

karena mendadak, pengajaran seadanya dilakukan oleh Ervina, Desi (yang berkerudung), dan Piah (yang duduk) di bawah bimbingan saya (admind), hihihi

Di SD Sumbai ini, sebuah kelas dibagi menjadi 2. Satu baris untuk kelas 1 dan satu baris untuk kelas 2, jadi seorang guru pada saat yang sama mengajarkan siswa dua kelas yang berbeda, sementara itu ada 4 kelas yang harus diajarkan. Bukankah guru tersebut guru yang hebat, saya saja yang coba mengajar masih terbingung-bingung bagaimana cara mengajar pakai dua papantulis dan memperhatikan apakah siswa ini mengerti. Dan akhirnya kelas bubar, dan suasana jadi garing.

Beruntung saya, karena mahasiswa yang dapat tugas untuk mencari tahu tentang pendidikan di Desa Sumbai mau mengajar. Sekedar mencari pengalaman, dan memperhatikan para siswa yang penuh senyum polos ini tertawa girang melihat para guru baru mereka.

Kali ini semua siswa kami rapel jadi satu, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 (siswa kelas 6 disini ada 3 orang, dan hari ini hanya 1 orang yang masuk.) Pelajaran pertama yang diajarkan adalah bahasa Inggris, karena semua ini berada diluar rencana, maka persiapan hanya seadanya. Mereka semua sangat senang, dan kami turut bahagia (happiness) melihat perhatian mereka. Ervina Suaryana yang mengajarkan Bahasa Inggris, dengan pengetahuan terbatas, pelajaran ini berlangsung meriah. Selanjutnya, Desi yang mengajarkan matematika, interaksi dengan para siswanya cukup lancar. Siswa-siswa disini tidak begitu pemalu untuk maju kemuka, sekedar menjawab ataupun melakukan demontrasi seperti percakapan berbahasa Inggris. Terakhir, Rapiah yang mengajak para siswa untuk terus bersemangat dan kembali bersekolah dengan bernyanyi walau sebagian dari lagu mereka kami tidak tahu. Beda masa kecil, jadi lagu pun berbeda.

juara dua, lomba bola velley tingkat SD se HST. Tetap berprestasi walau terisolasi, n_n

 Sekolahan ini memiliki 42 orang siswa, hanya sekitar 20 orang yang bersekolah. Mengapa siswanya kurang dari separuhnya? Siswa yang bersekolah adala siswa yang tidak pergi ke ladang, misalnya saja ada rumah yang memiliki 2 anak yang usia sekolah. Hanya satu yang sekolah, dan yang lainnya ke ladang membantu orang tua, mereka akan bertukaran seperti itu setiap hari.

Penduduk desa ini bekerja sebagai petani ladang dan menyadap karet, penghasilan dari sinilah yang mendanai kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga sumber daya manusia sangat mereka butuhkan untuk membantu dalam kegiatan sehari-hari. Tak heran bahwa anak usia sekolah sudah bekerja untuk membantu orang tua mereka, jangan bawa standart kaku yang biasa kita jadikan patokan bahwa anak usia sekolah hanya belajar dan bermain. Bagi mereka, alam sudah mengajak mereka untuk bermain.

agama Hindu, merupakan mayoritas yang dianut.

Balai juga digunakan sebagai sarana untuk mewariskan tradisi dan adat istiadat, pendidikan nonformal diselenggarakan disini oleh kepala adat kepada masyarakat terutama anak-anak. Pendidikan agama Hindu diberikan disini, ketika anak-anak tersebut bekumpul. Banyak hal yang bisa menjadi sesuatu yang mengesankan, seandainya kita bisa lebih arif dalam menyikapi sesuatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s