Pancuran, pipa bambu ala masyarakat di Desa Sumbai Kec. BAT Kab. HST

pancuran di Desa Sumbai

Satuhal yang menarik, memang ini memang bukan sesuatu yang istimewa. Namun, tetap saja saya pengen menuliskanya. Saya ingin berbagi pengetahuan, secara fisika ini dijelaskan dengan pemahaman tentang gravitasi. Disini memang tidak menggunakan pompa air, namun tak berarti disini pengetahuan tidak mempermudah. Mereka tidak belajar untuk mengerti bagaimana memanaatkan sumberdaya alam dengan sesuatu yang modern.

Entah pendekatan antropologi atau sejarah yang menunjukan bahwa ini adalah local genius. Mereka menjadikan sebelah bambu menjadi begitu bermanfaat disini. Air mengalir terus menerus, walau tak sederas PDAM, disini airnya sejuk. Jernih dan segar ituah yang menjadi pembeda, jadi jangan heran ketika melewati perkampungan penduduk, pipa-pipa bambu melintang diatas kepala kita.

Ah, ini menunjukkan bahwa pipa bambu juga menunjukkan bahwa daerah ini berada dekat dengan pemukiman penduduk. Setidaknya, berada dekat dengan aktivitas penduduk. Misalnya saja, ada sebuah ladang yang baru dibuka, tentu saja didekat situ ada pancuran air, gak percaya lihat aja gambar dibawah ini. Jadi, ini bisa menjadi bukti awal bahwa disini ada aktivitas manusia.

Kalau mau kita perhatikan, mungkin ada hal yang menarik bahwasanya sebuah ladang juga berada didekat sumber air. Bukan untuk minum si pemilik lahan, tetapi untuk menyiram tanaman yang ada. Disini memang masyarakat menanam padi tidak disawah berair tetapi di gunung atau perbukitan, dengan mendirikan pondok bambu untuk berdiam. Biasanya, lahan yang dibuka hanya untuk 2 kali masa tanam (mungkin berbeda tergantung kesuburan tanahnya, lebih subur maka akan lebih lama), sebelum ditinggalkan. Nah, jangan bilang mereka yang menggundulkan hutan. Mereka juga memiliki “kode etik” untuk tidak membuka lahan yang sama pada kurun waktu hingga 25 tahun. Maksudnya, mereka melakukan rotasi penanaman selama 25 tahun hingga ke tempat yang sama. Sehingga kesuburan tanahnya tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Kondisi ini juga mengindikasikan bahwasanya, sebuah perkampungan berada tak jauh. Memang, kalau mau melihat perkembangan sebuah daerah terutama di Kalsel. Beritahu saya, kota dimana di Hulu Sungai atau Banua Anam yang tidak dilalui sungai? Hehe, Sungai sudah menjadi nadi bagi masyarakat kita. Namun, ketimbang orang Banjar sebenarnya (menurut saya) orang Dayak lebih banyak menggunakan sungai sebagai sarana transpotasi. Kalau, mau sedikit kritis. Kan cuma didaerah Alabio, Nagara yang masih menjadikan sungai sebagai sarana transortasi untuk berdagang. Beberapa tahun silamkan, ada kasus kapal terbalik di Sungai Nagara. Kebanyakan sarana ini sudah diganti oleh jalur darat.
Jika anda bertanya, kenapa? Saya akan menjawab karena, pada perang Banjar pemerintah Belanda melakukan relokasi kepada masyarakat yang mediami wilayah sepanjang Sungai Barito, dan Bahan untuk menjauhi sungai. Ini dilakukan untuk lebih mudah melakukan kontrol kepada rakyat (pake bahasa Politik).
Nah, inilah yang menurut saya yang membuat transportasi sungai menjadi kurang begitu populer lagi. Namun, perkembangan kota di Hulu Sungai pasti berawal dari pinggirang Sungai. Contohnya: Tanjung dengan sungai Tabalong yang kita lintasi bila menuju kota, di Kandangan dengan Sungai Amandit, di Amuntai dengan Sungai Nagara (maaf kalau salah, karena sungai Nagara yang menghubungkan dengan kota ini.) di Tapin iya juga, tapi saya lupa nama sungainya, kalau di Barabai itu Sungai Muntiraya.

mengambil air di pancuran, perjalanan menuju lokasi PKL

Dari pancuran air, saya membahas kemana-mana, hoho. Oh iya ini bisa juga dijadikan sebuah indikasi bahwa ketika anda tersesat, anda hanya harus menyusuri sungai untuk menemukan sebuah perkampungan. Nah, kalau sudah ketemu anda hanya harus bersosialisasi saja😀 oke dech, artikel ini cuma sampai sini aja ya. See you next time,😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s