Karena cinta itu “Awesome”

Ini cerpen

Masalah pertautan hati itu melampaui jangkauan logika, dan kehebatan berpikir yang “awesome” sekalipun.

Ku berjalan menelesuri  serpihan kenangan. Denting musik menggema melalui headset, “kali ini aku sadari, aku telah jatuh cinta. Dari hati ku terdalam, sungguh aku cinta pada mu. Cinta ku bukanlah cinta biasa, jika kamu yang memiliki.”[1] Hatiku menjadi sendu entah kenapa? Aku sudah cukup lama sendiri, yang ku tahu hati ku masih sedih. Entah mungkin sangat sulit untuk aku jabarkan.

“Semua yang kau lakukan is magic, semua yang kau berikan is magic, bagi ku, kau yang terindah.”[2] Suara itu menggema dari sebuah distro yang ku lewati, aku berjalan menelusuri sepanjang pusat perbelanjaan Pasar Ujung Murung di kota Banjarmasin. Hati ku lalu berubah, seperti ada semangat baru, entah kenapa sepertinya aku kembali ke dalam semangat ku yang dulu hilang.

Disini aku dan dia pertama bertemu, waktu itu aku masih ingat dengan jelas.  Ya, di Pelabuan Martapura ini. Memang rada aneh dengan nama pelabuhan, kota ini Banjarmasin tapi pelabuhannya Martapura. Waktu itu, “ting tong, ting tong,” suara kapal barang dan penumpang memberikan isyarat untuk merapat. Sayangnya itu suara pengamen, yang sedang mencari sedikit uang. Detik selanjutnya, liriknya berubah. Aku saat itu memandang air yang bergelombang, sedikit sampah, enceng gondok, dan limbah kayu. “Aku langsung tlah jatuh cinta, saat kita bertemu, hingga terasa begitu, gila. Aku terasa gila, gila karena kamu, getarkan isi hati ku. Sayang, aku telah cinta. Cinta pandang pertama jumpa di pelabuhan Martapura. Nanana, rasa, rasa ku telah gelisah, merasuk ke jiwa ku hanyut memikirkan kamu. Hingga, rasa cinta ku pada mu tak perdulikan waktu, pengin langsung bilang i love you.” Ku menghela nafas panjang, ku kasih waktu itu uang sebesar  5000 karena mempresentasikan hati ku yang sedang terpesona. Dia turun dari kapal, rupanya dia termasuk dalam satu tour. Entah, acara apa yang dia ikuti. Suasana pelabuhan menjadi ramai, ku lalu menjauh dan masuk ke dalam lokasi pasar.

Hati ku, selalu bernyanyi “ku rasa, ku sedang di mabuk cinta. Nikmatnya, kini ku di mabuk cinta. Ku rasa, ku sedang di mabuk cinta. Ku rasa ku sedang di mabuk cinta. Nikmatnya, kini ku di mabuk cinta. Ku rasa, ku sedang di mabuk cinta.”[3] Perasaan ku menjadi berbunga-bunga, dan aku ingin tersenyum saja.

Selesai menelusuri lorong-lorong di Pasar Ujung Murung. Ku putuskan untuk pulang ke Kayu Tangi dengan menggunakan taksi, tapi aku mau ke pal 6 saja dulu, membuang waktu sebentar. “sejenak aku terpaku, tak biasa, menatap mu aku membisu, yang ku rasa. Mungkinkah ini ada cinta yang melawan hati ku, dahulu aku yang tak pernah bisa. Tak mungkin benar, rasa dihati ku, berdetak keras, jantung tak menentu.”[4] Saat dia naik juga tepat di muka Mitra Plaza yang menjadi jalur taksi ini. Wanita yang digambarkan oleh pengamen (pelabuhan cinta).

Hati ku semakin kacau saja, aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan. Wajah ku hanya bisa memerah, sementara itu headset itu gak bisa aku dengarkan lagi suaranya. Tiba-tiba semuanya menjadi hening yang ku rasa, debaran ini menjadi tak menentu.  Ku urungkan niat ku untuk pulang, ku lirik jam baru menunjukkan pukul 3 sore.

“Bang, kiri.” Ujar ku dengan sedikit gugup aku turun. Di depan ku ini adalah satu-satunya mall di kota seribu sungai ini. Aku berjalan menyeberang jalan 6 lajur ini, untungnya aku menggunakan jembatan penyeberangan. Sekitar 20 menit kemudian, aku sudah sampai di bioskop 21.

“Oh Tuhan, jodohkan aku dengan dia.” Ku pejamkan mata, sejurus kemudian  melihat poster film yang tayang. Aku dari jauh, memandang jadwal tayang film. Seperti aku lagu Bruno Mars, “today my life is begins” aku menjadi semangat lagi.

Film yang ingin aku tonton baru tayang pada jam 4.15 sore. Sambil menunggu aku memutuskan untuk ke toko buku. Aku berdoa, semoga musik relaksasi yang di putarkan bisa menjadi soundtrack cinta ku yang berbunga-bunga ini. Namun, keberuntungan dan lingkungan tidak memberikan sedikitpun restunya lagi.

“Adakah yang bisa, melawan energi cinta. Seperti yang ku rasa, menggelora di jiwa, adakah yang bisa, menolak hasrat ku untuk selalu bersama mu, mengarungi cinta, berlayar dengan mu untuk selamanya. Di sini, janji terukir saling setia dengan mu. Di sini aku yakini, jadi teman hidup mu, di sini kita hadapi, badai yang akan menghadang, dan kita takkan pernah terpisahkan.”[5] Lagu ini melampaui ekspetasiku tentang dia, baru juga ketemu tadi, kenal saja tadi enggak, tapi aku percaya. Masalah pertautan hati itu melampaui jangkauan logika, dan kehebatan berpikir yang “awesome” sekalipun.

“Kau sempurnakan hidup ku, sejak pertama bertemu. Dengan tatapan mu, ku langsung tahu, aku cinta pada mu.” Sekali lagi, yang diputar di ruangan ini membuat ku semakin semangat. Cinta itu tak punya logika, bahkan logika pun dikalahkan dengan sekali K.O.  Karena cinta itu, “awesome”.

Sekitar 10 menit sebelum tayang, aku kembali ke bioskop 21. Menunggu risalah satu teather, duduk sekitar 5 menit sebelum pengumuman bahwa “teather 8 sudah di buka, kepada pengunjung yang mempunyai tiket, dapat memasuki ruangan teather.” Aku lalu beranjak, kali ini ada sekitar 20 orang yang nonton, biasanya 10 orang saja gak sampai. Nonton di sini kaya nonton di tv, masa iya saya beli tiket untuk melihat iklan juga. Kalau trailer film yang mau saya tonton, sich masih mending.

Entah berada di tahun berapa, sambil menunggu. “Bila, esok hari datang lagi, coba untuk hadapi semua ini, meski tanpa mu.” Lagu yang dipopulerkan oleh Hijau Band, namun di nyanyikan ulang oleh Luna Maya. Hati ku berharap, besok bisa bertemu kamu. Hanya butuh sekejap saja untuk tahu bahwa aku sedang jatuh cinta.

Lagu yang tadinya dibunyikan, perlahan berhenti. Suasana gelap, dan film akan ditayangkan. Walau seru, namun bayangan ku kemana-kemana, semua orang menjerit ketakutan, tegang, dan sendu. Aku malah wajah datar, tanpa ekspresi. Saat semua orang ketakutan, aku malah tersenyum, aku malah bingung kenapa grafisnya seperti nyata. Wow, teknologi 3D ini membuat ku malu kalau mengingat film Indonesia menjual kontraversi bukan kualitas filmnya. Minimalkan, kualitas cerita kalau secara grafis dan teknologinya ketinggalan. Tetap saja, adegan yang buat aku bergidik adalah saat pedang menembus lemari, lalu pas di cabut dia menggores muka, dan tokoh utama menyapu bekas darah di pedang itu dengan tangannya. Saat salah satu tokoh antagonisnya mengobrak-abrik lokasi persembunyian. Bayangkan aja, pedang itu menyayat wajahnya.

Selesai nonton, aku ke lantai 1 untuk mencari makan. Aku tertegun, memilih antara KFC atau Texas Chiken. Ku putuskan di KFC karena, di jam sibuk seperti ini, di sana lebih banyak menyediakan kursi. Sesuai terkaku, memang benar antrian ku cukup panjang. 20 menit kemudian, aku baru duduk untuk makan. Aku memilih di area balcon, yang menghadap ke banyak bangunan yang menjulang di kota ini.

“Boleh gabung.” Suara itu menyapa ku, memang di sini hanya meja ku yang berpenghuni satu sisanya full. Atau bisa saja, hanya aku yang nampak ramah di sini.

“Silakan.” Rupanya, dia yang tadi siang aku jumpai di Pelabuhan Cinta. Tiba-tiba angin surgawi berhembus, “Tuhan hanya memberikan kesempatan sekali.” Hembusan itu membuat ku terpaku, ke sebuah hotel.

Sementara itu, dari area pelataran parkir. Ada panggung hiburan, mungkin ada launching produk terbaru. “aku tak tahu, apa yang kurasakan, dalam hati ku, saat pertama kali bertemu, lihat diri mu, melihat mu, seluruh tubuh ku terpaku dan membisu, detak jantung ku berdebar tak menentu…”[6] Lagu ini yang ku nilai menggambarkan suasana kekinian di hatiku.

“Kalian yang di Pelabuhan Martapura tadikan?”

“Iya, kok tahu?”

“Aku juga di sana, ada acara apa?”

“Itu, pemotretan Naga Banjar. Aku dan dia kebagian urusan akomodasi.” Aku mengangguk saja.

“Kenalin, aku Nano.”

“Aku Erna.”

“Aku Wanda.” Perempuan yang menarik perhatian ku ini adalah Wanda.

“Kalian kerja di mana?”

“Di Dinas Pariwisata, kamu?”

“Aku kuliah masih, sambil kerja di Konter HP. Hari ini kena libur kedua-duanya.” Jawabku sebelum mereka bertanya.

“Wah kebetulan Wan, coba tunjukkan hp mu itu.” Erna meminta.

Dia lalu mengeluarkan, dan menyodorkan sebuah benda. “Blackberry 8550, tipe Curve. ICT nya rusak.” Aku menimang-nimang hp ini.

“Hebat kok tahu?”

“Hp ini baru aja mati, masih terasa sedikit hangat.” Ungkap ku sekenanya.

“Masa segitu aja kamu bisa tau?”

“Kalau kalian tadi siang itu pulang ke kos atau kantor, harusnya sempat untuk mencharger walau sebentar saja. Ini sudah habis battery nya.” Aku yang sebenarnya hanya menebak saja.

“Dimanapun kamu beli, ini barang ilegal dan tak bergaransi resmi.” Aku mengembalikan HP itu.

“Kamu bisa memperbaikinya?”

“Bisa.”

“Bisa kamu perbaikan?”

“Kamu datang aja ke sini, aku kerja di sana. Kalau kamu mau ketemu aku, cari aja Nano. Tapi aku besok kena sore sampai malam, jam 2 -8 malam, silakan saja kamu datang.” Aku tersenyum.

“Kalau kamu bawa aja sekarang bagaimana?”

“Jangan, aku baru kamu kenal.” Aku menolak.

Selanjutnya, di antara kami terjadi obrolan ringan. “Tanpa terasa kau curi hati ku, dengan berbeda cara mu, menaklukan hati kecil ku, berjuta rayuan, yang pernah aku rasa, namun tak pernah tersentuh, tak ada yang mengesankan ku, tapi semua berbeda, saat kau ada di sini, mempesonakan aku selalu. Hanya kamu yang bisa, membuat aku jadi tergila-gila, karena tak ada yang lain seperti mu.”[7]

Ku tersadar, jam menunjukkan pukul 8. Mana ada taksi kuning yang merupakan angkot, masa aku harus mengambil kocek lebih dalam menggunakan yang berargo.

Ku berdiri di tepi jalan, hembusan angin. “Kau datang dan jantung ku berdegub kencang, kau buat ku terbang melayang, tiada ku sangka getaran ini ada, saat jumpa yang pertama, mata ku tak dapat terlepas dari mu, perhatikan setiap tingkah mu…”[8]

“Ku suka dia, tapi ku tak tahu untuk, bilang kepadanya, jika aku suka, jatuh cinta kepadanya, dia cinta yang pertama, dia yang bisa buat aku, merasa deg deg kan, berdebar di dada, diam  saat mengingatnya.”[9]

“Masih suka melamun?” Sapa seseorang dari samping ku.

“Mengenang awal kita bersama.” Kami duduk menatap sungai Martapura dari siring.

“Masih ku ingat senyum, di sana kapal itu berlabuh, masih ku ingat bintang itu, di sana malam yang dingin menjadi hangat. Sayang, aku masih ingat cinta pandang pertama saat kita jumpa.” Nyanyiku, sementara dia bersandar di bahu. Kali ini, lagu itu ku buat sendiri untuk nya. Aku merasa, lengkap sudah. Aku dan dia adalah awesome, “kau sempurnakan hidup ku sejak pertama bertemu.”[10]


[1] Bebi Romeo feat Rossa, bukan cinta biasa, single rilis November.

[2] Lyla, magic, 2010, album: lebih dari bintang.

[3] Armada. Mabuk cinta. 2012. Album: Satu hati sejuta cinta.

[4] Davinci. Tak mungkin benar. 2010. Album:-.

[5] D’cinnamons. Teman hidup. Album:-.

[6] Ungu. Percaya Padaku. Album: 1000 kisah 1 hati.

[7] Tiket. Hanya kamu yang bisa. 2008. Album:-.

[8] Raisa. Coult it be. 2011. Album:-.

[9] The Junas Monkey. Jatuh Cinta. 2011. Album: OST. Pocong Juga Poconggg.

[10] Nidji. Lagu Cinta. 2011. Album: Liberty.

2 thoughts on “Karena cinta itu “Awesome”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s