Kenapa Seseorang Bisa di hukum karena memikirkan sesuatu?

Aku sebenarnya bingung, dengan sikap sebagian orang yang menghukum seseorang karena dia memikirkan sesuatu. “what do you mind?”

Facebook menulis seperti itu, dan kita menjawab tentang apa yang kita pikirkan. Kan aneh, orang yang di hukum karena memikirkan sesuatu, logika berpikirnya di mana. Masa saya di hukum karena memikirkan mencuri mangga. Kan, saya belum mencuri dan gak ada bukti saya mencuri. Hanya karena saya memikirkan saja saya sudah dihukum.

Hal yang sama, juga dihadapkan pada sebuah pernyataan yang kadang menyulut emosi. Aku bukan membela orang yang menghina agama, atau sejenis. Tapikan aneh, masa saya berpikir aja bisa dipidanakan atau diperdatakan. Kan beda, kalau orang yang bilang begini, “ntar kamu ku bunuh.” Nah yang begini, bisa dipidanakan karena pengancaman. Selama penghinaan dan sejenis, mana bisa dipidanakan. Kasus gampangnya, tuh orang yang melecehkan agama Islam dan Nabi Muhammad SAW. Mana bisa dipidanakan, karena tidak ada unsur yang memberatkan. Kalau ancaman baru bisa, artinya selama pernyataan itu tidak menyerang satu individu maka tidak bisa dinyatakan juga begitu.

Makian, hinaan kan masuk dalam kebebasan, karena kebebasan individu dalam menyatakan pendapatnya. Kalau mengancam orang, maka kebebasannya mengganggu keberadaan orang lain. Nah, kalau yang begini bisa dipidanakan. Setidaknya, hal ini yang aku pahami dari kasus yang terakhir mendera umat Islam terkait film yang berujung of muslim itu.

Kembali ke topik yang aku bingungkan, kenapa orang bisa disalahkan karena memikirkan sesuatu hanya karena itu terpublikasikan (dalam hal ini facebook). Kalau kata yang dipakai fb itu begini, “apa yang ingin anda katakan?” kan baru bisa berbagai penyataan yang bersifat penghasutan, penghinaan, pelecehan, dan sejenisnya bisa berhadapan pada ranah hukum yang mengatur. Nah, ini pada pertanyaan, “apa yang anda pikirkan?” seseorang tidak bisa dibatasi dalam memikirkan sesuatu, masalah dia menuliskan dan membuat keresahan itukan hal yang berbeda. Ibaratnya ada pisau, kalau dipakai untuk memotong tali yang mengikat orang kan bisa bermanfaat. Resiko lainnya, adalah pisau itu dipakai untuk membunuh orang yang terikat. Mau tidak mau, itu adalah resikonya. Saran saya, status itu berdasarkan apa yang dipikirkan. Lebih baik, kalau ada akun yang tidak anda sukai lebih baik blokir atau anda laporkan saja karena pemikirannya sesat. Atau rubah pertanyaannya menjadi,” apa yang ingin anda katakan?” jadi setiap apa yang ingin anda katakan itu bisa dipertanggungjawabkan. Kan lucu, saya memikirkan mau membom kota Banjarmasin, saya ditangkap karena dituduh teroris. Masalah orang berpikir, itu berada di alam irrasional jadi mana bisa diatur-atur dan siapapun tidak berhak mengaturnya.

Entahlah, saya berpikir begini. Anda tidak bisa melarang saya untuk berpikir begini. Setiap orang berhak berpendapat, dari apa yang di lihat dan dirasakannya. Masalah persepsi itu memang lahir dari hal-hal yang berbeda. Anda bisa menolak, tapi tak bisa melarang orang berpikir. Menurut saya, Facebook memang cukup teliti dan baik dengan membuat kata pertanyaan “apa yang anda pikirkan?” bayangkan, kalau pertanyaan “apa yang anda katakan?” baru buat status, langsung terjadi keributan karena orang tidak setuju. Gondok-gondokan, atau pukul-pukulan. Karena apa saja yang terlontar itu menjadi hal yang bersifat serius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s