Desa Kiyu: persinggahan menuju Alau Alau

859249_537643336255803_1552870036_o

Desa Hinas Kiri gerbang menuju Desa Kiyu

 

Desa ini memang tidak populer, mungkin orang akan mengenal Desa Hinas Kiri. Hinas kiri terletak 25 KM dari kota Barabai (yang merupakan ibukota dari Kabupaten Hulu Sungai Tengah). Hinas Kiri sendiri merupakan sebuah Desa yang berada di Kecamatan Batang Alai Timur (Tandilang) yang sebelum tergabung dengan Batang Alai Selatan (Birayang) .

Otonomi daerah yang marak pada awal tahun 2000-an memicu daerah yang tertinggal untuk memekarkan diri dan menjadi kecamatan tersendiri. Walau ketika itu santer juga isu yang beredar, pemekaran ini bertujuan untuk mendirikan kabupeten sendiri. Namun, nampaknya ini hanya isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Batang Alai Timur sendiri merupakan daerah yang relatif tertinggal baik pembangunan fisik maupun nonfisik. Hal ini bisa kita lihat, buruknya infrastruktur jalan menuju tempat ini. Rumah penduduknya yang masih menggunakan atap rumbia. Jalan yang bergunung-gunung, mungkin menjadi penghambat pembangunan di daerah ini. Potensi daerah disini nampaknya masih mengandalkan sektor perkebunan terutama menyadap karet, pertanian seperti menanam padi gunung (manugal), maupun budidaya pertanian lainnya. Potensi pertambangan nampaknya masih berada di golongan kelas C yatu pasir dan batu yang sangat mudah untuk kita jumpai di sepanjang jalan. Pertambangan masih dilakukan secara tradisional, dimana masih menggunakan skop, cangkul, untuk memasukan bahan galian ke truck.

Kondisi ini mencerminkan kalau masyarakat masih kuat memegang tradisinya, disamping secara ekonomi nampaknya masih belum mampu. Nampaknya, pendapatan dari sektor ini memegang peranan yang besar dari PAD HST, tidak seperti potensi pertanian dan perkebunan yang sumbangan PAD berasal dari pajak atau retribusi terkait. Misalnya: truck melalui pajak kendaraan bermotor. Semua pertambangan ini harus memiliki izin dari Dispenda HST.

Hinas Kiri sendiri merupakan desa yang sudah bisa dikatakan maju ketimbang daerah lain dalam lingkup Batang Alai Timur.  Hal ini ditunjukan dengan adanya jenjang pendidikan dari SD sampai SMP disini, walau untuk studi lebih lanjut biasanya ke Birayang. Hal ini bisa dimaklumi, karena kesadaran untuk pendidikan sebagai prioritas utama tidaklah penting disini. Mereka tak salah, keadaan memang memaksa mereka. Menilik dari sisi ekonomi, Hinas Kiri merupakan daerah pusat yang didukung oleh berbagai desa yang menjadi pendukungnya. Misalnya: Desa Kiyu yang berada sekitar 2 KM atau 30 menit berjalan kaki.

Desa Kiyu: Balai Adat

Sebenarnya masih banyak Desa yang kondisinya bahkan lebih “mengkhawatirkan” daripada Kiyu. Kiyu sendiri kemungkinan besar, merupakan nama sungai yang melintasi desa ini. Seperti kebanyakan daerah dinamakan berdasarkan sungai melintas. Kiyu merupakan tempat persinggahan saat kita akan mendaki ke Alau Alau melalui jalur Hinas Kiri.

Home Stay di Desa Kiyu yang juga merupakan Pusat Belajar

Desa ini memiliki homestay yang merupakan hasil dari PNPM Mandiri. Tujuan dari homestay ini sendiri sebagai wadah kepada para pendaki, aktivis, atau pelancong untuk istrahat maupun bermalam disini. Nampaknya, Desa ini sudah diarahkan menjadi Desa Wisata. Tak mengherankan, kalau Hinas Kiri yang menjadi gerbang untuk menuju Kiyu sudah diproklamirkan sebagai Desa Wisata. Potensi dibidang wisata nampaknya memang menjanjikan, mengingat jalur pendakian ini dikatakan paling menantang untuk ditaklukan. Tak mengherankan banyak UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Pencinta Alam melakukan pendakian, ataupun menjadi objek penelitian budaya, seperti yang saya lakukan beberapa bulan lalu. Alau Alau sendiri merupakan salah satu puncak pegunungan Meratus yang paling tinggi di Kalsel. Pegunungan Meratus sendiri merupakan deratan pegunungan yang melintasi sejumlah kabupaten di Kalsel. Suku yang mendiami daerah ini adalah Dayak Meratus yang memiliki tradasi yang berbeda dengan suku Dayak yang berada diluar wilayah Kalsel.

TK Bangun Meratus

Desa Kiyu hanya menyelenggarakan pendidikan tingkat PAUD-TK saja, nampaknya kesadaran akan pendidikan sudah mulai ditanamkan sejak belia. Jarak desa Kiyu ke Hinas Kiri menjadi kendala bagi anak-anak ini untuk melanjutkan sekolah. Walaupun begitu sarana dan prasarana masih sangat terbatas.

Kondisi inilah yang kemudian mempertahankan Desa Kiyu tetap tertinggal. Kita harus menciptakan satu generasi yang terampil, peduli, dan berkeinginan kuat maju. Kelak ditangan merekalah, Desa Kiyu menjadi desa yang maju. Dengan peduli kepada mereka saat ini untuk mereka disana, kita bisa meningkatkan gairah mereka untuk belajar, membangun motivasi yang kuat, dan keinginan untuk maju. Kita  harus peduli karena lahir dan hidup di bumi yang sama Indonesia.

Studio untuk siaran amatir hasil kerja sama dengan LPMA

 

Kesuksesan yang terjadi saat ini bukanlah kesusksesan yang kita usahakan saat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s