Terimakasih Kamu Sudah Terus di Sini

Di sebuah ruang ICCU, “Aku nunggu disini. Percayalah, kamu akan baik-baik saja sayang.” Lelaki menatap istrinya yang nampak gusar. Namun, dia tersenyum kecil sebelum masuk ke ruang operasi.

Beberapa dokter telah bersiap, beberapa orang perawat membantu memasang alat bantu pernafasan, dll. Nampak seorang dokter menyuntikan obat bius, sebentar kemudian semuanya menjadi gelap dan wanita itu tak sadarkan diri.

Beberapa jam kemudian, “operasinya berlangsung lancar, bapak bisa masuk.” Dia berjalan memasuki.

“Bu bangun bu, bangun bu…” Seorang dokter menepuk muka istrinya.

Perlahan-lahan wanita itu dengan wajah lemas membuka wajah. “Semuanya baik-baik saja.”  Meja operasi lalu di dorong menuju ruang perawatan.

“Untuk sementara Ibu jangan bergerak. Karena luka operasinya sangat dengan tulang punggung, nanti bisa menderita kelumpuhan.” Kata perawat setelah kami memindahkan ke kasurnya.

“Iya…” Kata suaminya yang menatap istrinya berkaca-kaca.

Tak lama perawat tersebut pergi, hanya lelaki itu berdiri memegang kipas. “Pasti panas dan perih bekas luka operasinya.” Dia mengipasi, wajah perempuan itu masih kelu. Infus di kanan dan kirinya kantong darah sisa operasi masih menggantung.

Sebuah selang kecil, mengeluarkan sisa darah dari perutnya. Istrinya baru saja selesai operasi ginjal, wajahnya suaminya  menahan tangis.

“Maafkan aku sayang, aku terlalu sibuk kerja, sampai kurang memperhatikan mu.” Lelaki itu sesunguk menangis.

“Maafkan aku, kita terlalu jauh merantau. Sehingga pas kamu sakit, tak seorang pun keluarga mu yang datang.” Air matanya menangis.

Wanita itu terenyuh, mereka yang biasanya sering bertengkar kali ini nampak akur. Lelaki itu terus mengipasi istrinya, berdiri kokoh menatap wanita yang disayangnya itu.

Mereka menikah selepas kuliah, karena satu jurusan mereka memutuskan untuk merantau bersama-sama. Ditempat kerja yang jauh ini, mereka mendapati pekerjaan yang layak dan sesuai dengan studi mereka ketika kuliah.

Hampir setiap jam, perawat datang untuk memeriksa kondisi istrinya. Dia masih berdiri mengipasi istrinya, “kuatnya bapak berdiri mengipasi istri.” Perawat yang dari tadi mondar mandir memeriksa.

“Haha, kekuatan cinta yang menguatkan.” Saya tertawa, istrinya hanya melirik matanya. Suaminya berhenti tertawa, mengambil sapu tangan lalu membasahinya. Mengusap ke bibirnya, untuk sementara istrinya belum boleh minum.

Diambilnya sebuah kursi, duduk disebelah sang istri. “Aku mengantuk.” Ujar suaminya, sebelum tertidur di sisinya.

***

Sore itu istrinya sudah bisa duduk, walaupun menahan perih akibat luka operasi. “Aku gak nyangka kamu  bakal ngambil ruang VVIP.” Istrinya yang tranfusi darah.

“Aku pengen aja.”

Suaminya mengipasi, “kemarin kenapa kamu menangis?”

“Pengen aja. Hehe.”

“Lihat kamu nangis aku tenang loh, ternyata kamu sesayang itu dengan itu.”

“Bodoh, setiap suami pasti menyanyangi istrinya.” Ku meliriknya.

“Kamu ini…” Ujarnya sambil memalingkan muka.

“Kamu tahu sayang.”

“Apa?”

“Gak apa-apa.”

“Pasti gitu dech.”

“Haha…”

“Apa?”

“Kamu tahu?”

“Tahu apa?”

“Tahu Sumedang, Tahu Bacem, atau Tahutek.”

Suaminya memandang ke berbagai arah, istrinya melirik. Di wajah itu dia tahu, lelaki itu sedang grogi. Ada sesuatu yang pengen dia bilang, namun tidak bisa untuk di ungkapkan.

“Aku menunggu mu bicara.” Dia tersenyum.

“Gak apa-apa sayang, apapun akan ku lakukan agar kamu tersenyum, bahagia, dan terus disisi ku.”

“Tumben kamu ngomong begitu?”

“Melihat mu terbaring, aku sadar. Aku kehilangan sesuatu yang paling berharga, aku menangis dan berjanji. Aku akan menghabiskan semua yang aku miliki agar kamu bisa sehat.”

“Ih kamu so swett sekali.”

“Haha, itu juga aku baru sadar. Tugas ku adalah menjaga mu, kamu adalah harta ku yang ku jaga. Harta habis bisa ku cari, tapi aku takkan bisa memajangkan umurmu walau hanya sejam, walaupun aku menangis darah sekalipun.”

“Iya ya, benar juga.”

“Gitu doang sayang.” Suaminya menatap.

“Kamu ini, aku sayang kamu. Aku mengikuti mu kemanapun kamu melangkah, sampai kita ada disini. Terdampar di tanah rantau, ku memilih mu dan kamu membuktikan aku tak salah.”

“Aku lupa kapan kita menikmati suasana seperti ini, kalau cuti ntar kita pulang ke Banjarmasin.”

“Iya, aku kangen. Kita nostalgia ya, cepat sehat sayang. Kita ntar seharian, kaya anak kuliahan dulu kita. Aku kangen sayang.”

“Iya aku juga.” Kami berdua saling menatap.

“Terimakasih kamu sudah terus disini.” Ujar sang suami.

“Terimakasih kamu sudah terus disini.” Ujar sang istri yang hampir bersamaan.

Sore itu berubah menjadi senja kuning. Kali ini, sejuta kenangan turun bagaikan flash back yang terlalu dengan cepat. Sebuah kesimpulan, “aku takkan mampu hidup tanpa mu sayang.” Dia menatap dengan lirih ke istrinya yang pucat, aku tak menyangka akan membayar semahal ini untuk menemukan sesuatu yang hilang di dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s