Ekspedisi Kacau Gunung Meranting Desa Gunung Batu Kec. Tebing Tinggi Kab. Balangan Prop. Kalsel

gunung meranting

 

Sabtu, 22 Juni 2013.

Seperti direncanakan pada hari jumat, sehari sebelum kegiatan. Saya dan rekan saya berjanji untuk ke Meranting di Desa Gunung Batu Kec. Tebing Tinggi Kab. Balangan Prop. Kalsel. Saya penasaran dengan keindahan gunung ini, ya saya terkesima dengan tugas adik saya membuat sebuah klipping. Dia menggunakan dokumentasi teman satu kelompoknya, untuk tugas bersama. Dan, seketika saya penasaran soalnya pemandangannya indah sekali.

“Pri, tahu gunung Meranting?”

“Rasa pernah mendengar, dulu kawan-kawan ku pernah kesana. Kenapa?”

“Sabtu kalau gak ada kegiatan kita kesana?”

“Oke.” Kira-kira hanya empat percakapan saja untuk mendealkan rencana esok.

Karena saya di minta mama, untuk kepasar. Maka rencana kegiatannya saya undur ke jam 9, setelah saya menyempatkan diri ke pasar dulu. Hari ini Sabtu, ya Pasar Barabai. Kota ini memiliki dua pasar induk yaitu pasar Murakata dan Pasar Baru.

“Fauzah bagaimana?”

“Dia sudah nunggu di BSM (Bank Syariah Mandiri).”

“Okelah.” Kami langsung menuju BSM, awalnya kami berdua. Kali ini kami bertiga, kami memang membuat sejumlah kegiatan akhir-akhir ini.  Biasanya bertujuh, tapi karena saya ada crash sama komunitas yang saya buat sebelumnya. Jadinya kami hanya bertiga saja. Soalnya kalau ngebuat rombongan juga malah jadi lucu, soalnya saya dan apri ini orangnya aneh. Kami berani tersesat dijalan.

Setelah sampai BSM, kami langsung go menuju Gunung Meranting. Karena alamatnya lengkap, kami confidance saja. Sebelumnya kami mengisi minyak di SPBU yang ada di Mandingin, kami melalui jalur Birayang.

“Pri, Tebing Tinggi dimana?” Saya yang menjadi rider, sementara dia menjadi navigator.

“Terus aja, sebelah sana.” Kami melewati Awayan dan memasuki Paringin Selatan.

Kami terus melaju, sementara Fauzah mengiring kami dibelakang. Kami ketawa-ketawa di muka, “kawan kita itu, mau aja dibawa ke gunung. Mending, tahu lokasi. Ini sama-sama buta arah.”

“Kasih tahu dia, kita gak tahu jalan. Gimana mukanya?”

Ku lalu memelankan kendaraan roda 2, dia lalu berada disebelah kami.

“Zah, kami lupa jalan. Bagaimana?”

Mukanya seketika pucat, “yang benar, astaga kalian ini.”

“Pri, di muka simpangan. Belok mana?”

“Tunggu dulu, ambil kiri.”

“Eh, bukannya kiri kita ke Paringin. Lurus.” Kata ku.

“Stop stop, ambil kiri kita lihat marka jalannya.” Kami pun belok kiri, lalu memutar arah.

“Lurus ini ke Simpang Gunung Pandau, itu Masjdi di atas Gunung.” Ku mengingat.

“Belok kiri, Awayan 12 KM Tebing Tinggi 22. Astaga, kita nyasar 22 kilo, gimana ini? Dirimu bilang sebelah sana, haha.”

“Kenapa?” Fauzah nampak berisitirahat sejenak.

“Tu lihat, haha.” Tunjukku.

“Astaga kalian.”

“Aku gak tahu, kan kalau dari Gunung Pandau itu sampainya simpang disini.”

“Ya sudah, kita balik arah aja. Gantian, dirimu ridernya saya navigator. Hahaha.”

Kami lalu memutar arah, “tanya orang.” Kami lalu menyinggahi.

“Lurus aja, kalau ada pasar lurus aja, pas masjid belok kiri. Pasar Bihara.”

“Makasih, man.”

Kami lalu melanjutnya ekspedisi kacau dan lalau, haha. “Ini Pasar Awayan, terus aja. Tanya orang, tapi jangan yang banyak orang. Ntar malah di ketawain, plus kebanyakan yang ngasih tahu kita yang jadi bingung.”

Kami pun terus melaju, ada ibu-ibu kami singgahi. “Cil, ke Tebing Tinggi lewat mana?”

“Lurus aja, pas Masjid belok kiri.”

“Makasih cil.” Kami melaju, sebuah simpangan.

“Kita nyasar gara-gara gak ada papan penunjuk lokasi. Belok sini.” Kami belok kiri.

Fauzah dengan kalem, dia mengikuti kami. Haha, “pri begitulah teman, walaupun kita sesat, dia tetap ngikut dibelakang. Haha.”

Bihara kami masuki, oh iya Bihara itu nama kampung. “Nanya lagi?” Apri bertanya-tanya.

“Gak usah, jalan aja terus. Sesuai intruksi orang itu, lurus aja. Gak mungkin salah.” Kami memasuki Kec. Tebing Tinggi. Jalannya terus menanjak, tinggi meliuk-liuk.

“Jalan menuju Samarinda itu bagaimana?”

“Sama kaya gini.” Ujar ku.

“Udah, jangan banyak ngomong. Walaupun treknya gak separah kita ke Kiyu, tetap aja dirimu baru disini. Jadi jangan sok tahu jalan, fokus aja.” Kami terkesima melihat barisan gunung batu.

“Gila, gak ada pembatas. Kalau malam ini, bisa langsung masuk sungai orang yang ngebut gak ingat jalan.” Kami melihati sungai yang ada dihadapan sambil mengikuti tikungan.

“Brai Brai, ini kali tempatnya.” Sebuah tempat yang cukup menarik perhatian.

“Kayaknya bukan, dari foto adik ku. Kayanya bukan ini, terus aja brai.” Ku memberitahu, walaupun ragu akhirnya kami terus saja.

“Kayanya yang ini Meranting?” Ku berujar.

“Kayanya enggak, yang tadi. Tu ada wc nya tadi.”

Kami lalu menyinggahi seorang wanita paruh baya, “cil gunung meranting dimana?”

“Ini…”

“Tu kan kita ini gak salah jalan, makasih cil.” Kami lalu berbalik arah.

“Brai, kayaknya bukan disini. Mungkin disimpangan sana tadi.” Dia mengingat.

“Gimana zah?”

“Ku mengiringi kalian aja.”

“Santai Zah, haha.” Ku tertawa sambil berujar kepadanya.

Kami lalu memutari jalan, mengikuti insting  Apri menuju jalan yang dimaksud. “Hah, ini aneh.”

“Apanya?”

“Aku tiba-tiba gak yakin, kita memang biasa melalui trek yang kayak gini.”

“Tu ada acil-acil, kita tanya lagi.” Kami lalu menyinggahi.

“Cil jalan menuju gunung meranting lewat mana?”

“Tu dimuka belok kanan.” Kami lalu dengan penuh semangat.

“Astaga, putar arah. Ku gak yakin.” Kami yang berhadapan dengan jalan sedikit berlumpur.

“Haha, astaga kalian ini. Ku kira kalian tahu.”

“Haha, gak usah nyesal dech. Siapa suruh ikut gabung? Wkwkwk.”

Apri dan Fauzah meneruskan jalan kemuka, lalu putar arah. Sementara aku menunjukkan jalurnya. Kami lalu keluar, setelah suah payah menghadapi treknya.

“Tutup helm pri, memalukan kita. Mutar-mutar di kampung orang gak jelas, hahaha yakin saya tempat yang pertama.” Kami lalu mengambil gambar ke lokasi.

Dilokasi ini ada eskavator, dan truk batu lalu lalang. “Kayaknya aku ketipu angel gambar dan kameranya, tempatnya biasa aja. Trik pengambilanya.” Ku mengerutkan dahi.

“Udah sampai sini, buruan ambil bukti. No fact no story.” Tambah ku, Fauzah masih dengan wajah polosnya.

“Kamu ini, kami di ikuti. Kami ini sesat, haha.” Apri melihati Fauzah, yang tersenyum.

Saya dan Apri bergantian mengambil gambar. “Haha, udah gak usah kebanyakan pose. Semua foto mu ini cocoknya cuma buat pas foto aja, hahaha.”

“Masa, mana-mana.” Fauzah mendekati.

“Lihat, tinggal crop sedada jadi dech.”

“Iya neh, haha. Dasar yang satu ini, haha.”

“Ayo Brai, kita ke lokasi yang tadi ada bekas wc itu.” Apri mengajak, kami lalu bergegas kesana. Kali ini saya yang menjadi ridernya. Setelah sampai, kami termenung. Selanjutnya kami duduk di muka TPA (Taman Pendidikan Alquran) Gunung Batu.

DSCF0454

“Ini…” Aku mengeluarkan minuman dalam kemasa cup.

“Hahaha…” Mereka menyambut.

“Akhirnya kita sampai juga.” Apri merenggangkan kakinya.

“Iya.” Fauzah menanggapi.

“Pri foto mu ini cocoknya buat pas foto.”

“Haha, masa sich brai.”

“Iya, kalau yang gak ngebuat pas foto bagaimana?” Fauzah melirik sambil menghabiskan air mineral tadi.

diatas batu

“Ya kayak anak yang unyu-unyu itu, pipi di gembungkan, naruh tangan di dagu, pokoknya yang sekira gak cocok buat pas foto. Pake ekspresi, haha.”

“Kita kemuka yo.” Ajak Apri, kami lalu beranjak dari TPA yang berada diseberangnya.

“Ini mirip pagat, sayang sekali kayaknya udah gak dipake lagi.” Apri yang mendahului.

Kami berjalan beriringan, sambil foto-foto juga.

“Kalian ini, cewe gak segitunya juga.”

“Konsepnya adalah foto diambil sebanyak-banyaknya, kan ada yang blur, goyang, gak jelas. Makin banyak diambil, akan makin variatif.” Fauzah berjalan dimuka.

Kami berjalan melintasi jembatan gantung, masuk kedalam gua. Tentu saja foto-foto disana, setelah puas kami lalu kembali ke muka TPA. “Gila disana dingin kaya ada ac nya.”

DSCF0473

“Iya, padahal cuma beberapa meter aja, disini panas banget.” Fauzah menanggapi Apri.

“Gak rugikan kita sampai sini.” Tambah Apri.

“Rugi tetap, kita kelewatan 22 kilo kali 2 sama dengan 44 kilo, itu hampir seliter minyak. Haha.” Ku menanggapi, dia hanya diam.

“Pulangnya singgah di rumah ku.” Ku menimpali, tak berselang lama kami lalu beranjak pulang.

DSCF0456

Kali ini ekspedisi bertajuk Gunung Meranting Gunun Batu berakhir. Dengan perjuangan berat, akhirnya sampai ke tkp. Gunungnya cukup indah, namun sayang objek wisata yang ada sudah ditutup. Nampak bangunan eks lokasi pariwisata disana mulai dimakan zaman, objek wisata ini menjadi lokasi vandalisme. Mungkin juga menjadi tempat muda mudi berpacaran dan melakukan hal yang tak selayaknya mereka lakukan ketika berpacaran. Perjalanan meliuk-liuk, melewati gunung, akan menjadi kenangan dan tantangan yang berarti dikemudian waktu.

DSCF0470

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s