KRISIS IMPERIUM INGGERIS (1763-1776) DAN PERANG KEMERDEKAAN AMERIKA (1776-1783)

Sebagian  kaum  kolonis  Amerika  dan  orang-orang  Inggeris  berharap  bahwa penandatanganan  Perjanjian  Paris  tahun  1763  akan  menciptakan  ketenangan  dalam  sistem imperium  Inggeris.  Namun  demikian,  kemenangan  tersebut  menciptakan  masalah  baru  berupa imperium  luas  yang  harus  ditangani  dengan  baik.  Bagi  orang-orang  Amerika,  kemenangan tersebut  berarti membebaskan  mereka  dan  ancaman  Perancis  dan  memiliki  kesempatan  luas untuk membuka lahan baru ke arah barat Amerika Utara. Bagi orang-orang Ingeris, kemenangan tersebut  menambah  bebas  dalam  urusan  imperium.  Kedua  belah  pihak  akhirnya  memiliki pandangan yang berbeda mengenai penyelesaian daerah koloni.

Masalah  sistem  imperial  nampak  menonjol  dalam  kasus  Perang  Tujuh  Tahun. Dalam perang  tersebut  dukungan  kaum  kolonis  terhadap  Inggeris  tidak  sepenuhnya  terjadi.  Sebagian pedagangn kolonis melakukan kegiatan dagang dengan Perancis dan sebagain barang dagangan  itu  berupa  bahan  makanan  untuk  mensuplai  kebutuhan  pasukan  Perancis.  Inggeris  tidak  dapat berbuat banyak dalam mengatasi masalah tersebut.

Kebijaksanaan Inggeris terhadap orang-orang Indian juga menunjukkan lemahnya sistem imperiumj Inggeris mengenakan kebijaksanan  yang sama terhadap semua daerah koloni dalam menangani masalah Indian. Perlawanan orang-orang Indian terhadap daerah koloni dan pasukan Inggeris  sering  kali  disebabkan  oleh  ekspansi  yang  berlebihan  di  antara  kaum  kolonis  ke  arah Barat./Untuk mengatasi hal itu Inggeris melakukan konsiliasi dengan orang-orang Indian melalui Proklamasi  tahun  1763  yang  berisi  1)  pelarangan  untuk  membuka  lahan  baru  di  sebelah  barat garis proklamasi yang membentang dari utara ke selatan sepanjang Pegunungan  Appalachian, 2) menempatkan pasukan Ingeris untuk mengawasi perdgangan kulit bidatang dan melarang orangorang  putih  bermukim  di  kawasan  itu,  dan  3)  memberi  kesempatan  kepada  petnukim  untuk menempati Florida dan Quebec.

Dalam praktek, garis proklamasi itu tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. Kaum kolonis melihat bahwa kebijaksanakan tersebut lebih berkaitan dengan masalah tanah daripada masalah Indian.  Oleh  karena  itu  mereka  tetep  melakukan  ekspansi  ke  arah  barat  untuk  memperoleh wilayah  baru  bagi  pertanian  mereka.  Sebelum  tahun  1776,  kaum  kolonis  telah  melakukan ekspansi ke arah barat melalui Pennsylvania, Kentucky dan Tennessee. Sebaliknya, orang-orang Indian juga, yang mendapat bantuan dari orang-orang Perancis, melakukan periawanan. Mereka menyerang pos-pos perdagangan Inggeris serta pemukiman kaum kolonis di sebelah Barat dan Timur garis proklamasi. Perjanjian Fort Stanwik (1768) yang memperluas daerah toritori ke arah barat hanya memberi kesempatan kepada para spekulan tanah oleh kelompok perusahaan besar seperti Grand Ohio Company.

Sikap  tidak  puas  kaum  kolonis  terhadap  kebijaksanaan  Ingeris  antara  lain ditunjukkann oleh  James  Otis  yang  berbicara  mengatasnamakan  pedagang  Boston  tahun  1761. Othis  menentang  kesewenang-wenangan  dan  otoritas  Perlemen  Inggeris  mengenai  beberapa aspek  kehidupan  kaum  kolonis  termasuk  di  bidang  perdagangan.  Demikian  juga  pada  tahun 1763,  Patrick Henry  menentang hak-hak Privi Council mengenai masalah hukum di Virginia. Walaupun  kedua  tokoh  tersebut  tidak  mewakili  aspirasi  orang-orang  Amerika  secara keseluruhaa, sikap yang mereka tunjukkan merupakan bentuk perlawanan kaum kolonis terhadap sistem imperium Inggeris. Demikian juga tidak semua orang Amerika menentang sikap Inggeris. Banyak  di  antara  mereka  terutama  yang  berpandangan  aristokrat  mendukung  kebijaksanan Inggeris.

Menentang Sistem Pajak Iggeris

Untuk  mengatasi  masalah  kisis  keuangan  yang  diakibatkan  oleh  Perang  Tujuh  Tahun, Inggeris  berusaha  menggunakan  daerah  koloni  sebagai  sumber  keuangan.  Pada  tahun  1764 dikeluarkan  Undang-undang  Gula  (Sugar  Act)  yang  mengatur  masalah  perdagangan  gula  di daerah koloni yang dalam beberapa aspek memberi batasan kepada pedagangn kaum koloni di daerahnya. Melalui undang-undang itu Inggeris akan memberoleh masukan dari pajak dan bea cukai perdagangan gula. Pada tahun yang sama Perlemen Inggeris juga mengesahkan  Undangundang Keuangan (Curency Act) yang melarang daerah koloni mencetak uang sendiri.

Kedua  undang-undang  tersebut  menimbulkan  kemarahan  kaum  kolonis  terutama  para  pedagang. Mereka  meminta  agar  parlemen  Inggeris  menarik  kembali  undang-undang  tersebut.

Penduduk  New  York  dan  Boston  memboikot  untuk  tidak  membeli  semua  barang  buatan  Inggeris  sebelum  parlemenn  mencabut  putusannya.  Menghadapi  tuntutan  itu,  pemerintah  dan  parlemen Inggeris menjawabnya dengan dikeluarkannya undang-undang lain seperti  Stamp Act  (undang-undang  prangko  dan  Quartering  Act  tahun  1765.  Stamp  Act  digunakan  untuk memperoleh  pajak  dari  setiap  dokumen  dan  surat  perting  yang  digunakan  dalam  kegiatan  perdagangan.  Sedangkan  Quartering  Act  memaksa  kaum  kolonis  untuk  menyediakan  tempat  tinggal dan kebutuhan makanan bagi tentara Inggeris yang ditempatkan di daerah-daerah koloni.

Diberlakukannya  Stamp  Act  dan  Quartering  Act  yang  lebih  banyak  berkaitan  dengan kepentingan  kelompok  intelektual  seperti  wartawan  dan  ahli  hukum  menyebabkan  perlawanan terhadap  kedua  undang-undang  tersebut  semakin  keras.  Kaum  kolonis  menentang  konsep parlemen Inggeris yang merasa mewakili kaum kolonis Amerika. Mereka akan merasa terwakili oleh  parlemen  Inggeris  apabila  mereka  mengirimkan  perwakilannya  secara  langsung  dalam parlemen Inggeris.

Di  kalangan  bawah,  perlawanan  terhadap  Inggeris  ditandai  dengan  gerakan  organisasi rahasia  yang tersebar di perkotaan. Organisasi seperti  Sons of Liberty,  yang anggotanya terdiri dari buruh, pelaut dan ahli teknik, megecam para pejabat imperium Inggeris sambil memboikot penyebaran perangko.  Semua golongan masyarakat melancarkan protes melalui rapat raksasa di New York,tahun 1765. Mereka menghadiri Kongres Stamp Act dan mengesahkan Declaration of Rights  and  Grievances”  yang  berisi  penolakan  terhadap  keputusan  parlemen  Inggeris  yang mengenakan  berbagai  pajak  terhadap  daerah  koloni  Amerika.  Para  pedagang  seluruh  koloni membuat keputusan untuk tidak menggunakah barang-barang buatan Inggeris sampai perlemen Inggeris  mencabut  Stamp  Act.  Akhirnya  pada-tahun  1766  parlemen  mencabut  Stamp  Act  dan tetap  memaksakan  bahwa  perlemen  Inggeris  merupakan  lembaga  yang  paling  berdaulat  atas seluruh daerah imperium Inggeris.

Keberhasilan  protes  kaum  kolonis  tahun  1766  tidak  menyurutkan  Inggeris  untuk  tetap menggunakan daerah koloni sebagai sumber keungannya. Inggeris menugaskan seorang pejabat keuangan,  Charles  Townshend,  untuk  mengusun  program  fiskal  baru.  Hasilnya  adalah Townshend Act  yang berisi ketentuan bahwa pemungutan pajak dari daerah koloni diperketat, pengenaan bea masuk kertas, gelas, timah, dan teh yang diekspor dari Inggeris ke daerah-daerah koloni. Hasil pajak tersebut akan digunakan untuk membiayai gubernur koloni, hakim, petugas bea cukai dan tentara Inggeris yang ditempatkan di sana.

Menghadapi  aturan  baru  tersebut  kaum  kolonis  melancarkan  protes  yang  sama  seperti protes terhadap  undang-undang  terdahulu.  Salah  seorang  di  antaranya  adalah  John  Dickinson  yang  menerbitkan  Letter  from  a  Farmer  in  Pennsylvania  (1767)  berupa  kritikan  terhadap tindakan Inggeris yang mengenakan pajak terhadap kaum kolonis. Dia memprotes bahwa tidak selayaknya pemerintah Inggeris mengenakan pajak pada petani Amerika. Para pedagang sepakat untuk  tidak  mengimpor  barang  Inggeris.  Sebagian  penduduk  kota  sepakat  untuk  hanya menggunakan semua barang yang mereka buat dan oleh karena itu mereka tidak perlu membayar pajak. Ketika pejabat Inggeris ditugaskan ke Boston untuk memungut pajak, penduduk Boston langsung  mengeroyoknya.  Hal  itu  menimbulkan  kemarahan  pejabat  Inggeris  yang  langsung menugaskan  resimen  untuk  meredakan  huru-hara.  Kehadiran  pasukan  tersebut  menimbulkan perlawanan yang semakin keras. Puncaknya adalah peristiwa  Pembantaian Boston  tahun 1770 yang memakan lima orang korban sipil.  Peristiwa tersebut menggambarkan betapa pemerintah kolonial Inggeris telah memaksakan kehendaknya terhadap rakyat Amerika.

Dicabutnya  Townshend  Act  pada  tahun  1770  dapat  meredakan  ketegangan.  Namun demikian, kehadiran pasukan Inggeris di daerah koloni yang mengawasi kegiatan perdagangan dan mencegah terjadinya penyelundupan menimbulkan rasa tidak senang kaum kolonis. Kapal patroli Inggeris Gaspee, yang melakukan pengawasan di sekitar Rhode Island dibakar oleh kaum patriot  dan  membuat  takut  pejabat  Inggeris  yang  harta  miliknya  ikut  hancur.  Para  juri  kolon menolak  bekerjasama  dengan  para  pejabat  kerajaan  dalam  mengakhiri  perdagangan  ilegal.  Ketika  Gubernur  Massachussetts,  Thomas  Hatchinson  menyatakan  tahun  1772  bahwa  para hakim akan dibayar dari uang kerajaan, timbul protes dari berbagai kalangan. Salah seorang di antaranya adalah tokoh Boston, Samuel Adams, menentangnya dengan cara membentuk panitia korespondensi  untuk  mengkordinasi  berita  dan  serta  keluhan  kelompok  masyarakat  yang berkaitan dengan tindakan pemerintah kerjaaan Inggeris.

Sikap  pemerintah  kerajaan  Inggeris  masih  tetap  keras.  Inggeris  mengeluarkan  Undang-undang  Teh  yang  memberikan  hak  monopoli  kepada  East  India  Company  untuk  melakukan eksport  ke  suluruh  daerah  koloni.  Tindakan  ini  dijawal?  oleh  kaum  kolonis  dengan  cara memboikot seluruh produksi teh Inggeris yang dihasilkan ke daerah koloni dan menganjurkan para  agen  untuk  tidak  mendual  tehnya  ke  pasar  Amerika  serta  mengirim  kembali  teh  yang diterimanya  ke  Inggeris  atau  ditimbun  di  gudang.  Banyak  agen-agen  dagang  Inggeris,  yang mendapat dukungan gubernur,  yang menolak tuntutan kaum kolonis. Mereka memaksakan diri untuk  menurunkan  muatan  kapal  the  Inggeris  di  Pelabuhan  Boston.  Kaum  kolonis  yang mendapat  dukungan  dari  Samuel  Adam  menjawab  sikap  keras  para  agen  itu  dengan  cara kekerasan. Pada malam tanggai 16 Desember 1773 kaum kolonis yang menyamar sebagai Indian Mohawk  menaiki  tiga  kapal  Inggeris  yang  akan  berlabuh  di  Pelabuhan  Boston  dan  segera menceburkan  muatan  teh  ke  laut.  Peristiwa  yang  dalam  bahasa  kaum  kolonis  sebagai  “Bosto Tea Party” tersebut sangat menjengkelkan Inggeris.

Kongres Kontinental dan Pernyatan Kemerdekaan.

Pada  tahun  1774,  diselenggarakan  Kongres  Kontinental  yang  dihadiri  oleh  delegasidelegasi  dari  semua  daerah  koloni,  kecuali  Georgia.  Kongres  yang  diselenggarakan  di  kota Philadeplhia dimaksudkan untuk merundingkan keadaan daerah koloni yang semakin memburuk.

Akhirnya  semua  delegasi  sepakat  untuk  mengeluarkan  “Deklarasi  Hak  dan  Keluhan” (Declaration of Right and Grievances) berupa pernyataan akan tetap setia kepada Raja dan tetap menentang hak Parlemen Inggeris untuk mengenakan pajak terhadap darah koloni Amerika.Setelah melalui perdebatan panjang peserta Kongres sepakat membentuk Assosiasi atau persatuan Kontinental (Continental Association) berupa perhimpunan seluruh daerah koloni dan menyepakati tidak mengimpor, mengeksport dan mengkonsumsi semua barang buatan Inggeris. Kongres  juga  sepakat  untuk  membentuk  panitia  lokal  yang  bertugas  untuk  mengawasi  para pedagang  untuk  mentaati  kesepakatan  Kongres.  Sebagian  panitia  lokal  tersebut  dikuasai  oleh kelompok  radikal  yang  memaksakan  boikot  perdagangan  dengan  Inggeris.  Mereka  juga menentang  pemerintahan  konservatif  di  setiap  provinsi  (daerah  koloni)  yang  masih  saja mengikuti jalan politik Inggeris.

Di Massacussetts kelompok radikal membentuk pemerintahan provinsi baru, membentuk pasukan sendiri dan mengumpulkan suplai makanan dan senjata. Pada bulan April 1775, Jenderal Thomas  Gage  yang  ditunjuk  sebagai  gubernur  militer  di  Massachusetts  ditugaskan  Inggeris untuk melucuti senjata yang telah dimiliki oleh kaum minutemen atau kaum kolonis bersenjata, terutama di Concord. Kaum mimtemen Massachusetts segera mengadakan perlawanan Terjadilah pertempuran  di  Lexington  Green.  Kaum  minutemen  akhirnya  berhasil  memaksa  pasukan Inggeris menarik diri ke Boston.  Berita mengenai pertempuran  yang memakan korban sekitar. 273  di  pihak  Inggeris  dan  sepertiganya  di  kaum  kolonis  tersebut  segera  menyebar  ke  seluruh daerah koloni dan menjadi berita yang paling menarik perhatian kaum kolonis.

Ditengah-tengah  ketegangan  antara  Inggeris  dan  kaum  kolonis,  Kongres  Kontinental Kedua diselenggarakan tanggai 10 Mei 1775 Walaupun delegasi kongres kedua itu lebih banyak dihadiri  kelompok  radikal  dibandingkan  dengan  delegasi  pada  kongres  yang  pertama,  tidak dicapai  kesepakatan  mengenai  pernyataan  kemerdekaan  kecuali  menyepakati  perlunya  angkat senjata  melawan  Inggeris  seperti  diusulkan  oleh  John  Dickinson  dan  Jefferson  Kongres  yang dipimpin  oleh  John  Hancock  dan  dihadiri  juga  oleh  Benjamin  Franklin  tersebut  menyepakati perlunya  dikirim  pasukan  ke  Massachusetts  untuk  membantu  kaum  kolonis  di  sana  dan menugaskan  George  Washington  sebagai  pemimpin  pasukan  Kontinental  untuk  memimpin pasukan ke Boston untuk melindungi kota yang sedang dikepung pasukan Inggeris. Sebelum  pasukan  Washington  tiba  telah  terjadi  pertempuran  antara  pasukan  Inggeris dengan pasukan Amerika di Bunker Hill dan Breed’s Hill. Walaupun berhasil menguasai daerah tempur,  pasukan  Inggeris  menderita  korban  jiwa  yang  cukup  banyak.  Jenderal  William  Howe segera  mengganti  Gege  di  Boston,  dans  etelah  mengijinkan  pasukan  Washington  memperkuat benteng  pertahanannya,  Howe  menarik  pasukarmya  ke  Nova  Scotia  pada  bulan  Maret  1776. Satu  pasukan  Amerika  berhasil  meriduduki  Montreal  dan  satu  lagi  gagal  merebut  Quebec. Sedangkan di Selatan, pasukari Karolina mengusir invasi pasukan  Inggeris di Charleston pada bulan Juni 1776.

Konflik  militer  terbuka  antara  pasukan  Inggeris  dengan  pasukan  Amerika  telah mengurangi kemungkinan diadakannya kompromi antara kedua belah pihak. Namun demikian, masih saja sebagian orang Amerika termasuk para delegasi  yang nadir dalam Kongres enggan untuk memutuskan hubungan dengan Imperium Inggeris dan mengkhawatirkan timbulnya akibat buruk  dan  kemerdekaan.  Demikian  juga  kaum  konservatif  memandang  gerakan  kemerdekaan akan menimbulkan kekerasan sipil di perkotaan. Pendudukan  gedung parlemen di Pensylvania oleh  warga  sipil  sangat  mengkhawatirkan  kelompok  elit  di  seluruh  daerah  koloni.  Namun demikian,  beberapa  kejadian  selama  musim  dingin  antara  tahun  1775-1776  menjadikan kemerdekaan sebagai susuatu yang logis yang harus dilaksanakan.

Pada  bulan  Desember  1775,  parlemen  Inggeris  menyatakan  bahwa  semua  pelabuhan daerah  koloni  ditutup  untuk  kegiatan  dagang  sampai  kaum  kolonis  mengakui  kedaulatan Pemerintah Kerajaan Inggeris. Tuntutan kemerdekaan politik oleh kaum kolonis akan merupakan bunuh diri secara ekonomi bagi banyak orang Amerika. Pada bulan Januari 1776 kaum kolonis mulai  curiga  terhadap  itikad  baik  Inggeris  setelah  mengetahui  bahwa  Raja  Inggeris  telah menyewa  tentara  bayaran  Hessian  untuk  melakukan  perang  di  daerah  koloni.  Keputusan pemerintah Inggeris tersebut telah meningkatkan kekhawatiran di kalangan kaum kolonis yang baru saja membaca karya-karya orang Amerika mengenai arti penting kemerdekaan.

Salah seorang penulis Amerika  yang karyanya dibaca oleh ratusan ribu  orang Amerika adalah  Thomas Paine dalam tulisannya  Common Sense atau  Akal Sehat. Tulisan Paine menarik sekitar 150.000 pembaca antara bulan Januari – July 1776. Tulisan paine bulan hanya menyerang sistem kerajaan dan Raja Inggeris akan tetapi gagasan tentang hakekat kerajaan itu sendiri yang dianggapnya  tidak  cocok  bagi  orang-orang  Amerika.  Dia  meminta  orang-orang  Amerika  untuk berpikir lebih rasional untuk menentang bentuk kerajaan Inggeris dan mendirikan pemerintahan baru yang berbentuk republik yang diperintah oleh orang-orang Amerika sendiri. Oleh karena itu perlu segera diadakan pernyataan kemerdekaan. Kongres pada musim semi segera menjawabnya dengan  cara  membuka  pelabuhan-pelabuhan  Amerika  bagi  kapal-kapal  asing,  dan  pada  bulan Mei  1776  Kongres  jug  merekomendasikan  setiap  pemerintahan  provinsi  untuk  membentuk undang-undang dasar (konstitusi) negara bagian.

Pada  tanggal  7  Juni  Richard  henry  Lee  dari  Virginia  mengajukan  resolusi  yang menyatakan  persetujuan  atas  kemerdekaan  dari  Inggeris.  Kongres,  yang  menghendaki  adanya dukungan  dan  konsensus  yanbg  lebih  luas,  membentuk  sebuah  komite  yang  dipimpin  oleh Thomas  Jefferson  untuk  menyiapkan  langkah-langkah  rasional  menuju  pernyatan  kmerdekaan. Kongres  juga  menyepakati  usulan  Richard  Henry  Lee  tanggal  2  Juli  1776  dan  mengesahkan pembacaan  Deklarasi  Kemerdekaan  dua  hari  kemudian.  Deklarasi  kemerdekaan  yang dibacakan  oleh  Thomas  Jefferson  tersebut  berisi  dua  bagian.  Pada  pembukaannya,  Jefferson menyatakan  bahwa  pada  dasarnya  pemberontakan  atau  gerakan  merupakan  hak  alamiah  umat manusia untuk mendirikan pemerinthan baru yang didasarkan atas keinginan warganya. Bagoian kedua  yang  lebih  panjang  berisi  tuduhan  terhadap  Raja  Inggeris  yang  mngabaikan  hak-hak khusus  kaum  kolonis,  dan  memprotes  ikut  campurnya  pemerintahan  raja  dalam  pemerintahan kolonial di Amerika.

Perang Kemerdekaan AS (1776-1783)

Perang  kemerdekaan  AS  yang  berlangsung  selama  enam  tahun  membuktikan  bahwa kekuatan baru yang ditunjang oleh semangat kemerdekaan telah menang terhadap kekuatan lama Imperium  Inggeris.-  Kemenangan  militer  awal  dalam  pertempuran  di  Lexington,  Charleston, Concord  dan  Bunker  Hill  telah  memperkuat  optimisme  orang-orang  Amerika.  Pada  awal meletusnya  perang,  Inggeris  berusaha  memaksakan  kemenangan  militernya.  Ditunjang  dengan angakatan bersenjata yang besar, kekuatan ekonomi serta angkatan laut terkuat di dunia, Inggeris ternyata memiliki banyak kelemahan. Pasukannya  dan perlengkapan perang dalam jumlah besar hams  diangkut  dari  jarak  sekitar  3000  mil  dan  tidak  mengenal  medan  tempur  Amerika. Sebaliknya pasukan Amerika dapat sembunyi dan melakukan serangan dimanapun di daerahnya.

Lebih lanjut, di Inggeris tidak teradapat kesepakatan di antara warganya mengenai pengiriman pasukan  ke  Amerika  terlebih-lebih  pengiriman  tersebut  telah  menimbulkan  permusuhan  dari Spanyol  dan  Perancis.  Konflik  strategi  juga  terlihat  anatara  Jenderal  William  Howe,  sebagai komandan militer dan Admiral Richard Howe sebagai komisaris perdamaian. Sebaliknya  pasukan  Amerika  juga  memiliki  kelemahan.  Pasukan  Kontinental  yang dibangun  dalam  waktu  singkat  dan  sebagian  besar  terdiri  dari  kalangan  sipil  tidak  prnah mencapai lebih dari 20.000 dalam satu kesatuan tempur. Mereka juga tidak memiliki pengalaman tempur.  Kelemahan  tersebut  merupakan  tugas  utama  bagi  George  Wahington  untuk mengatasinya.

Disamping  masalah  militer,  Amerika  juga  dihadapkan  pada  konflik  kepentingan  antara yang  masih  tetap  mendukung  Inggeris  dengan  yang  pro-kemerdekaan  Sebagian  besar  orang Amerika tidak suka dengan adanya perubahan status quo dan oleh karena itu mereka ikut serta dengan  pasukan  Inggeris  untuk  melawan  kaum  revolusioner  (pro-kemerdekaan).  Mereka  yang masih pro  Inggeris disebut sebagai kaum  Loyalist dan menjadi anggota Partai Tory. Kekuatan mereka sekitar 20 persen yang berasal dari berbagai kelompok sosial dari seluruh daerah kolory. Seseorang  yang  menggantungkan  diri  pada  pemerintahan  Inggeris  di  Amerika  untuk meningkatkan  status  biasanya  memilih  partai  Tory.  Mereka  seringkali  meminta  perlindungan dari  Inggeris  ketika  berhadapan  dengan  kaum  kolonis  yang  pro-kemerdekaan  Sedangkan kelompok  minoritas  ystog  sebenarnya  telah  menjadi  “Inggeris”  (seperti  orang-orang  Belanda yang telah berbahasa” Inggeris) cenderung  mendukung revolusi. Sedangkan kelompok minoritas lain  yang terisolasi secara budaya  cenderung pro-Raja  Inggeris. Di beberapa kawasan,  Loyalis memenunjukkan adanya ketegangan dalam struktur sosial daerah provinsi. Di New York, banyak petani penyewa menjadi anggaota partai  Tory  atau  Royalis  karena tuan tanah  (landlord)  mereka mendukung  kaum  revolusioner  pro-kemerdekaan.  Untuk  alasan  yang  sama,  warga  kulit  hitam (negro)  sering  mendukung  tentara  Inggeris  dan  bekerja  sebagai  tentara  sularela.  Setelah  tahun 1776, kaum revolusioner berusaha menyingkirkan kaum Royalis. Sekitar 30.000 tentara Amerika berperang  di  belakang  pasukan  Inggeris.  Sedangkan  sekitar  80.000  –  100.000  orang meninggalkan Amerika pada akhir perang (1783).

Peta Amerika Serikat yang diakui Inggeris tahun 1783:

 

Peta Amerika 1783

Peta Amerika 1783

 

Selain  adanya  perpecahan  dalam  bidang  politik,  Amrika  juga  menghadapi  kesulitan dalam bidang perekrutan pasukan serta pembiayaan perang. Untuk mengatasi masalah kuangan, Kongres meminjam uang sebesar US $ dan warga dengan menggunakan bon hutang. Selain itu musuh tradisional Inggeris, Perancis, juga memberikan bantuan keuangan, selain bantuan militer di medan tempur.

Kekuatan  dan  kelemahan  tersebut  terlihat  dengan  jelas  setelah  Kongres  mengesahkan kemerdekaan.  Pada  tanggal  2  Juli  1776,  pasukan  Inggeris  yang  dipimpin  Jenderal  Howe didaratkan di Pulau  Staten. Washington yang mengantisipasi serangan bergerak ke selatan dari New  England.  Dalam  Pertempuran  di  Long  Island,  pasukan  Inggeris  berhasil  mengalahkan Pasukan Kontinental bulan Agustus 1776 dan disusul dengan kemenangan lainnya di New York,

Dartaran  Herlem  dan  White  Plain.  Walaupun  mengalami  kekalahan  di  beberapa  tempat,Washington mencoba mengkonsolidari pasukannya pada musim gugur tahun 1776 dan mundur melalui  New  Jersey.  Ketika  pasukan  Howe  memasuki  musim  dingin,  pasukan  Washington memukul  pangkalan  Inggeris  di  Trenton  pada  Natal  1776.  Setelah  kemenangan  kecil  di Princeton, pasukan Washington istirahat pada musim dingin. Pertempuran  awal  tersebut  merupakan  rahasia  awal  kemenangan  Wahington.  Pasukan Inggeris  berusaha  memperoleh  wilayah  strategis  seluas-luasnya  seperti  New  York,  sedangkan Washington  berusaha  memperoleh  kemenangan  pasukan.  Seperti  halnya  pada  perang  gerilya moderen,  pasukan  revolusioner  Amerika  mengorbankan  wilayah  sambil  tetap  memelihara konsolidari  pasukan,  dan  sepanjang  pasukan  tetap  terpelihara,  Inggeris  tidak  bisa  mengklaim kemenangan. Sikap tegtuh George Wahington telah memberi waktundan pelung kepada pasukan Amerika unruk memperkuat din. Kemenangan di New Jersey telah meningkatkan moral pasukan negeri baru tersebut.

Pada musim gugur Inggeris memulai serangan baru ke pusat-pusat perlawanan pasukan Amerika.  Serangan  dilakukan  melalui  tiga  pusat  penyerangan.  Dari  utara,  Jenderal  John Burgoyne  melakukan  serangan  dari  Kanada  ke  Albany.  Pasukan  lain  dipimpin  oleh  Barry  St Leger  bergerak  dari  Danau  Ontario  ke  Albany.  Sedangkan  pasukan  Howe  bergerak  dari  New York  menuju  Sungai  Hudson  lalu  menuju  selatan  dan  mengalahkan  pasukan  Washington  di Brandywine  (September  1777),  dan  selanjutnya  menduduki  Philadephia,  markas  Kongres Kontinental Amerika. Dalam waktu yang sama Burgoyne bergerak ke arah selatan dari Kanada dan merebut Fort Ticonderoga. Setelah itu, pasukan Inggeris mulai dihadapkan pada kesulitan. Dukungan kaum Loyalis tidak bisa dibuktikan, sedangkan para patriot lokal mulai berpartisipansi dalam merintangi pasukan Inggeris dengan cara menebangi pohon dan menempatkannya di jalan raya  yang  dilewati  pasukan  Inggeris.  Ketika  laju  pasukan  Burgoyne  mandeg,  pasukan  kecil Amerika  yang  dipimpin  oleh  Bennedick  Arnold,  mengalahkan  pasukan  St  Leger  di  Oriskany, dan memaksa pasukan Inggeris menarik din dari Fort Oswego di Danau Ontario. Burgoyne yang terhenti di hutan New York dan dikepung oleh para patriot Amerika, mencoba menghancurkan kekuatan kaum kolonis di Saratoga. Ternyata Burgoyne tidak mampu memaksakan kekuatannya dan akhirnya menyerah pada pasukan Amerika pada bulan Oktober 1777.

Kemenangan  di  Saratoga  mampu  menarik  perhatian  negara  lain.  Raja  Perancis,  Louis XVI,  segera  mengakui  negara  baru  Amerika  Serikat.  Menlu  Perancis,  Conte  de  Vergennes, segera  mendesak  Raja  Louis  untuk  mengirimkan  makanan  dan  perlengkapan  militer  dengan tujuan untuk melemahkan pasukan Inggeris. Pada tahun 1778, Inggeris dan AS menandatangani perjanjian  dagang  dan  disusul  dengan  perjanjian  formal  mengenai  aliansi  kedua  negara  untuk berperang  bersama  melawan  Inggeris  jika  negra  tersebut  belum  mengakui  kemerdekaan  AS. Disamping untuk melemahkan Inggeris, Perancis juga berharap akan memperoleh daerah West Indies  di  Karibia.  Pengumumam  aliansi  tersebut  mendorong  Inggeris  menyatakan  perang terhadap    Perancis.  Kebijaksanaan  tersebut  disusul  dengan  konsentrasi  pasukan  Inggertis  di dalam negeri. Perancis segera mengirimkan bantuan uang, perlengkapan militer dan pasukan ke Amerika. Selain itu Perancis juga mengirimkan pasukan sukarelawan, antra lain yang dipimpin oleh Marquis de Lafayette. Secra resmi Perancis mengirimkan 6000 pasukan yang dipimpin oleh Comte de Rochambeau. Sekutu  Perancis,  Spanyol,  juga  bergabung  dengan  Francis.  Spanyol  semula  enggan menyatakan perang terhadap Inggeris, sebab negara ini menganggap gerakan revolusi Amerika bisa menyebar ke daerah koloninya di Amerika Latin. Akhirnya Spanyol ikut dengan Perancis setelah  Vegennes  menawarkan  Spanyol  bantuan  militer  untuk  merebut  Gilraltar  dan  Inggeris. Pada  bulan  Juni  1779  terbentuk  aliansi  antara  Perancis  dan  Spanyol  yang  ditujukan  terhadap Inggeris di Amerika dan Eropa.

Musuh  Inggeris  bertambah  banyak  setelah  negara  ini  berselisih  dengan  Denmark  yang menganggapnya telah mengganggu pelayaran di Laut Baltik. Akhirnya Denmark, Sewdia, Rusia, Belanda  dan  Portugal  menandatangani  League  of  Armed  Netrality  (Liga  negara-negara  yang netral secara militer) pada tahun 1780 untuk melindungi hak netral mereka. Inggeris yang merasa terganggu dengan sikap Belanda yang memanfaatkan  situasi perang Inggeris segera menyatakan perang  terhadap  Belanda  bulan  Desembr  1780.  Belanda  membantu  kaum  kolonis  Amerika dengan cara menjual kebutuhan perang melalui pembayaran kredit.

Pembentukan  aliansi  internasional  tidak  menjamin  sepenuhnya  kemenangan  Amerika terhadap Inggeris. Namun demikian, bantuan internasional tetap memiliki peran besar terhadap tumbuhnya semangat juang pasukan kontinental Amerika., Sejak tahun; 1780, pasukan Inggeris mulai mengalami kekalahan di berbagai medan tempur Amerika. Dalam pertempuran di Lembah Ohio  mereka  kalah.  Demikian  juga  usahanya  untuk  menyerang  daerah  Selatan  tidak  berhasil. Walaupun  Karolina,  Charleston  dan  Virginia  sempat  dikuasai,  pada  pertempuran  berikutnya pasukan  Inggeris tidak bisa mengalahkan pasukan gabungan Amerika dan Perancis. Gabungan pasukan  Washington  dan  Rochambeau  yang  berjumlah  15.000  berhasil  mengalahkan  pasukan Lord Cornwallis di Yorktown, pantai Virginia. Akhirnya pada tanggal 19 Oktober 1781, pasukan Cornwallis menyerah dan Parlemen Inggeris segera memutuskan untuk menghentikan perang.Setelah mengalami kekalahan perang, Inggeris sepakat untuk berunding pada bulan Maret 1782.

Perundingan  damai  yang  diselenggarakan  di  Paris  dihadiri  oleh  delegaasi  dari  AS,  Inggeris, Perancis,  Spanyol  dan  negara-negara  yang  berkepentingan  dengan  daerah  koloni  di  Amerika. Hasil perjanjian-Paris ditandatangani secara formal tanggal 3 September 1783. Raja George III dari Inggeris mengakui kemerdekaan AS,mengakui  perbatasan  AS  yang  terbentang  dari  utara  (Great  lakes),  barat  (Sungai Mississippi)  dan  Selatan  hingga  31  derajat  LU.  Selain  itu  disepakati  juga  bahwa  orang-orang Amerika  diijinkan  untuk  menangkap  ikan  di  perairan  Kanada,  kedua  negara  berhak  melayari Sungai  Mississippi;  dan  Kongres  AS  harus  mengembalikan  hak  milik  kaum  royalis  yang dirampas pada masa perang. Perubahan Struktur Sosial politik. Dengan  adanya  Deklarasi  kemerdekaan  1776  dan  perang  kemerdekaan  sampai  tahun 1783, bangsa Amerika mulai mengubah struktur sosial politiknya. Pada bulan Mei 1776 Kongres Amerika  merekomendasi  berdirinya  negara  bagian  dan  menggantikan  pemerintahan  provinsi yang  didasarkan  atas  prinsip-prinsip  pemerintahan  republik.  Setiap  negara  bagian  segera membuat  undang-undang  dasar  (konstitusi)  yang  disahkan  oleh  Kongres  provinsi  dan persetujuan rakyat. Parlemen negara-negara bagian terdiri dari dua kamar (majelis)  –  kecuali di Pensilvania  yang  memiliki  multim-majelis  –  yang  terdiri  dari  majelis  rendah  yang  mewakili rakyat  dan  majelis  tinggi  yang  terdiri  dari  senator  negara  bagian  meliputi  golongan  aristokrat.

Dalam  prakteknya  semua  golongan,  terutama  golongan  kaya,  dapat  saja  duduk  dalam  majelis tinggi. Konstitusi negara bagian menjamin melindungi kebebasan sipil warganya terutama dari kemungkinan meluasnya pengaruh kekuatan legislatif.  Revolusi  Amerika  juga  berpengaruh  terhadap  perubahan  sikap  orang-orang  kulit  putih terhadap  budak  negro.  Sebelum  terjadinya  revolusi,  walaupun  golongan  kult  putih  mengakui kebebasan  dan  hak  warga  sipil,  mereka  masih  mengakui  rendahnya  status  orang-orang  kulit  hitam, Selama perang kemerdekan, banyak orang Amerika yang menentang penggimaan orang kulit  hitam  sebagai  tentara.  Namun  demikian,  karena  kebutuhan  akan  tenaga  kerja,  akhirnya orang  hitam  juga  diangkat  menjadi  tentara  dan  setelah  itu  dijanjikan  akan  dibebaskan  dari perbudakan.  Pengaruh  revolusi  kemerdekaan  terhadap  perbudakan  juga  cukup  penting. Masyarakat anti-perbudakan muncul di mana-mana seperti New York, Pensylvania dan negara-negara  bagian  utara.  Beberapa  negara  bagian  akhirnya  melarang  perdagangan  budak  dan berusaha membebaskan para budak. Namun demikian, sebagian negara bagian lainnya terutama di Selatan masih tetap mempertahankan sistem tersebut.

Sampai pertengahan abad ke-19 bangsa Amerika masih memandang pemerintahan negara bagian  (state  government)  lebih  penting  daripada  pemerintahan  nasional.  Konstitusi  negara bagian  yang  didasarkan  atas  prinsip-prinsip  republik  menjamin  perlindungan  terhadap  hak kebebasan warganya. Adanya kekhawatiran terhadap munculnya kekuatan baru .yang tidak dapat dikontrol  mendorong  sebagian  besar  kaum  revolusioner  untuk  menentang  terbentuknya pemerintahan nasional yang kuat Namun menyadari akan pentingnya koordinasi pusat, Kongres membentuk  sebuah  panitia  yang  dipimpin  oieh  John  Dickinson  untuk  menyusun  rencana pembentukan  sebuah  union  atau  kesatuan  tahun  1776.  Karena  adanya  perselisihan  mengenai prwakilan dan masalah perluasan wilayah ke arah Barat, Kongres menunda keputusan tersebut hingga bulan  November 1777. Akhirnya Kongres tahun 1777 mengeluarkan Artikel Mengenai Konfederasi  terhadap  negara-negara’bagian  untuk  diretifikasi  atau  disahkan.  Selama  150  tahun negara-negara  bagian  Amerika  –  tetap  menolak  pemikiran  ke  arah  terbentuk  kesatuan kontinental.  Mereka  lebih  suka  memilih  diperkuatnya  negara-negara  bagian  dengan  pembenan hak otonom yang luas kepada pemerintah negara bagian serta kebebasan kepada warganya.

di pelabuhan

di pelabuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s