Sejarah dan Filsafat Sejarah-Sejarah Intelektual

ilustasi

 

Apa yang dipikirkan manusia dimasa silam, hanya merupakan suatu releksi ideologis.

Para ahli menjadi sadar bahwa struktur-struktur dalam alam pikiran manusia kadang-kadang lebih lama bertahan daripada struktur-struktur sosio-ekonomis. Sebagai contoh, pemikiran rasionalitas mampu bertahan hingga sekarang ini, namun pemikiran sosi-ekonomis seperti cara perdagangan dengan sistem barter tidak relevan lagi mengingat perkembangan zaman sekarang ini.

Pendekatan sosio-ekonomis dalam upaya mengenal masa silam, tidak begitu menjulang lagi, dan dengan demikian, Sejarah inteletual mendapatkan posisi terhormat dalam pengkajian sejarah.

Hal ini melahirkan konsekuensi: (1) Sejarah Intelektual atau sejarah alam pikiran manusia harus diberikan tempat tersendiri didalam seluruh pengkajian sejarah. menurut Karl Mannheim (2893-1947), konteks sosial merupakan satu-satunya kunci untuk memahami sistem intelektual yang dikembangkan dalam konteks itu. Apa yang dipikirkan manusia pada masa itu, merupakan refleksi pemikiran pada zaman tersebut. (2) bila kita mempelajari masa silam dengan harapan adanya guna untuk orientasi bagi masa sekarang ini, maka untuk menaruh harapan tersebut ialah penelitian sejarah alam pikiran menjadi jawabannya. Dalam sistem intelektual tersebut terdapat sebuah unsur universal, sehingga ratusan tahun sesudah dikembangkan, masih merupakan titik pangkal yang berguna, bahkan mutlak perlu untuk diperhatikan dalam diskusi-diskusi mengenai hubungan antara manusia dan masyarakat.

Sering dibedakan antara sejarah intelektual dengan sejarah ide-ide. (1) Sejarah intelektual menyusun kembali perbekalan intelektual pada satu kurun waktu, misalnya ini ditunjukkan dengan karya sastra, keberlakuan umum pada saat itu (misalnya: tatatertib alam semesta yang mempengaruhi seni bangun di Perancis pada abad ke-17). Bisa dikatakan, ide-ide tersebut menjad ciri khas dalam kurun waktu tertentu, sejarah intelektual melihat hal tersebut dari “luar pagar.” Bagaimana aspek-aspek yang beraneka ragam dalam suatu lingkungan kebudayaan dapat diterangkan dengan ide-ide tersebut.  (2) sejarah ide-de melihat hal tersebut dari “dalam pagar.” Hal ini menunjukkan bagaimana sebuah ide dapat berkembang dari abad ke abad, bagimana sebuah ide menyesuaikan diri, memperoleh bentuk dalam berbagai keadaan sejarah tanpa kehilangan identitasnya, sehingga kita bisa mengenalnya kembal. Ide lalu diposisikan sama seperti “konsep” (Seperti “Tuhan” atau “alam”), maupan pernyataan-pernyataan singkat (“dalam alam segala sesuatu serba teratur”)

Dalam usaha untuk mendekati masa silam dari sudut-sudut psikologi, sosiologi, atau ekonomi condong menggunakan metode-metode penelitian itu dalam bidang penelitian sejarah.

Q. Skinner: pengkritikan mengenai sejarah intelektual dalam dua aspek yaitu: pertama, kontektualisme merupakan usaha-usaha untuk memahami konsep-konsep politis dan filsafatis, dari kondisi sosio-ekonomis politis dan historis yang meliputinya, pada waktu konsep itu dilahirkan. Terkadang orang yang memahami konsep tersebut, melebihi dari apa yang dipahami oleh penulisnya itu sendiri. Kedua, tekstualisme merupakan sebuah penelitian terus menerus mengenai sejumlah teks filsafat politik tersohor dari masa yang silam, tetap dengan sebuah kepastian bahwa teks tersebut memberikan jawaban yang jelas atas sejumlah pertanyaan yang jelas. Pengkritikan dilakukan, karena terkadang jawaban yang disodorkan tidak sesuai dengan konteks jamannya, karena tidak ada pertanyaan-pertanyaan yang abadi disepanjang masanya. Karena pertanyaan lahir berasarkan perkembangan jamannya semata, bila tidak ditemukan jawabannya. Maka seorang peneliti sejarah intelektual cendrung untuk memeras teks tersebut untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Hal ini tidak terlepas dari anggapan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu abadi.

J.G.A. Pecock: menurutnya bahasa dan peritilihan yang digunakan pada masa silam merupakan objek historis yang dapat dan harus diteliti. Sejarawan intelektual tidak hanya berurusan dengan dengan ide-ide filsuf, melainkan juga dengan bahasa dan terminologi yang mereka pakai untuk mengungkapkan ide-ide

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s