Proses Lahirnya Sekte di India

Arca Budha

Agama Hindu yang ditafsirkan oleh para kaum Brahmana dengan membagi menjadi 4 kasta yang berbeda yang kemudian mendarah daging dalam kehidupan masyarakat India. Sistem ini lama-lama kelamaan mendapatkan penolakan dari masyarakat India yang terpinggirkan.

Pembagian kasta yang dilakukan oleh kaum Brahmana ini, menyebabkan hanya kaum ini yang mendominasi dalam masalah keagamaan seperti: upacara dan pembacaan doa. Monopoli bidang keagamaan ini, membuat kaum Brahmana semaunya dalam menetapkan upah atas setiap acara kenegaraan yang dilakukan. Ketamakan kaum Brahma ini menimbulkan pertentangan dimasyarakat. Masyarakat terpecah menjadi beberapa aliran (sekte). Pertama aliran Jabali, aliran ini mirip komunis. Aliran ini tiak mengakui adanya hari pembalasan, syurga dan neraka tidak ada. Hidup hanya sementara, jadi harus dilalui dengan senang-senang, tidak ada samsara, dan tidak mengenal dosa. Aliran ini mengejak kaum Bramana, yang mereka nilai hanya membodohi masyarakat. Aliran ini banyak diikuti oleh kaum Paria yang dipinggirkan dalam masyarakat.

Selanjutnya ada aliran Jaina yang dipimpin oleh Mahavira. Aliran ini beranggapan untuk mencapai kebahagian maka seseorang harus mengikuti peraturan hidup yang keras. Tidak boleh berbuat jahat, berbuat baik pada siapapun, tidak boleh membunuh binatang lebih kecilpun mereka hindari. Menyiksa diri dengan berbagai tarikat untuk mencapai keselamatan hidup yang akan datang. Membinasakan dri atau membunuh diri, merupakan jaminan untuk hidup bahagia dialam baka.

Diantara kedua aliran tersebut, ada aliran yang menjadi penengah. Aliran ini dibawa oleh Sidharta Gautama yang menyebarakan agama Budha. Menurut aliran ini, kebahagian bisa dicapai tidak hanya karena bersenang-senang atau mematuhi aturan hidup yang keras.

Ajaran ini dapat diterima, dan mendapatkan sambutan di Magadha dan dataran sungai Gangga. Setelah 45 tahun melakukan penyebaran, agama Budha berkembang di Asia. Ajaran ini juga melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan masyaakat. Tak mengherankan bila dalam beberapa mazhab, pemeluk agama Budha ada memuja dewa seperti di agama Hindu. Didalam Budha, tidak mengenal adanya Tuhan yang dipuja.

Pemahaman tentang agama Budha ini, kemudia terbagi menjadi dua aliran. Aliran pertama kita kenal dengan Hinayana, aliran beranggapan bahwa ajaran Budha hanya untuk pribadi sendiri. Perjalanan menuju nirwana hany bisa ditempuh sendiri. Aliran ini menganalogikan diri sebagai kerta kecil, sebuah kereta yang hanya bisa dimuati sendiri untuk menuju nirwana. Aliran kedua, dikenal dengan Mahayana. Aliran ini beranggapan bahwa seseorang bisa masuk surga dengan bantuan para dewa. Padahal Gautama tidak pernah menyebut nama-nama Tuhan dalam mengajarkan Budha kepada pengikutnya. Aliran ini menganalogikan diri sebagai kereta besar. Didalam kereta tersebut dapat dimuati beberapa orang, ini menunjukkan bahwa dalam menuju nirwana. Jadi, ajaran Budha lebih terbuka bagi masyarakat. Seperti agama Hindu, agama Budha dinodai oleh ulamanya yang lupa daratan karena terlalu banyak menerima hadiah. Lama kelamaan, penganut Budha di India semakin sedikit, dan agama Budha lebih bayak d anut di Tibet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s