Perjalanan Menuju Mancatur: Perjalanan yang Panjang

ini bukan cerpen, tapi sebuah perjalanan.

not strory, this my journey

Foto-0010

Balai Mancatur, merupakan Balai yang terletak di Kundan. Bukan Kundan, tapi kampung yang berada di sebelah atasnya lagi. Balai ini mungkin dicapai sekitar 4-5 jam perjalanan kaki. Di daerah ini yang paling terkenal bukan balai itu, tapi air terjun.

Sejenak aku teringat, kalau ke air terjun disini sepertinya aku sudah pernah pas SMA. Aku menyelesaikan SMA di SMANSA Barabai. Disana ada ekskul yang namanya KSI atau Kelompok Studi Islam, tunggu dulu. Saya bukan anggota KSI, saya cuma pengen ikut aja. Sementara itu sebenarnya saya aktif di KIR atau Kelompok Ilmiah Remaja, sehingga mungkin saja saya lebih dikenal disana.

Balai Mancatur, saya tidak tahu kenapa tempat itu di beri nama Mancatur. Satu hal yang pasti, itu adalah nama kampung. Lebih baik kita bicara tentang Balai saja dulu. Apa itu Balai? Mungkin bagi sebagian orang menilai itu adalah nama ruangan yang besar, dengan atap. Tak salah, Balai merupakan sebuah bangunan yang berbentuk rumah, di sini tempat diselenggarakan berbagai kegiatan yang bersifat ritual oleh Suku Dayak Meratus. Walaupun definisi saya ini tidak bisa dikatakan benar.😀

Masyarakat di sini mempunyai usaha yaitu menanam banih (padi) di gunung yang disebut dengan manugal. Hulu Sungai Tengah memang penghasil karet, tak salah lambang daerah kabupaten ini adalah pohon karet. Hutan yang kami lalui semua didominasi oleh hutan karet. Memang tidak di budidayakan, pohon-pohon tumbuh simpang siur. Salah satu pendapatan warga sinipun adalah menurih, harga sekilo getah karet disini berkisar 9 ribu.

Pkl ke Mancatur, sore itu aku bergegas. Diluar hitungan, aku sampai di Kundan (desa terakhir) sudah tidak ada lagi mahasiswa yang bersiap berangkat. Setelah menitip motor metik ke puskesmas di Kundan, aku dan seorang teman segera meluncur menyusul. Kami melalui jalur yang baru, dari besarnya jalannya Nampak jalur ini bias dilalui oleh roda 4.

Kami berjalan, tiba disebuah jembatan kami duduk istirahat. Deru sepeda motor menanjak, “hadang, bajak…. Haha.” Kata ku ke teman.

Kami berdiri di tengah jalan, “napang ikam, umpat jua kah?” Sapa ku.

(terjemahan. napang : Kenapa. Ikam: Kamu. Umpat: ikut. Jua: juga.)

“Aku mairingi buhannya mulai Banjar.”

(terjemahan. mairingi: mengikuti, mulai: dari)

“Kami bakirim tas.”

(Bakirim: menitip/mengirim)

“Aku kada sampai ke lokasi, kaena ku tinggal di simpangan.”

(terjemahan. Kada: tidak. Kaena: nanti.)

“Ayuha, bawakan. Yang panting, kami kada membawa tas dulu. Haha.”

(terjemaha. Ayuha: iya.)

“Sippp,,,” Setelah ngobrol sebentar, sebelum dia berlalu.

Kami lalu berjalan santai, setelah berjalan cukup lama. Kami, melihat tas di pinggir. Tepat disimpangan, perjalanan dilanjutkan dengan mendaki. Tepat diatas bukit kecil, rombongan terakhir kami temukan.

Dosen ku, berserta rombongan sedang istirahat. Ku tertawa, “akhirnya ketemu juga.” Sebelumnya aku berpikir, kami gak bakal ketemu rombongan yang lain lagi.

“Bah, Rismi. Katanya di Barabai tapi kada ada koordinasi.” Aku Cuma senyum-senyum, soalnya gak ada nomor kontak rekan yang katanya survei.

Tak lama ada yang menawari, “kopi kak?” Adik tingkatan menawarkan, sambil memberikan.

Foto-0007

“Iya, makasih.” Kami lalu duduk-duduk, sementara mereka sibuk istirahat. Ini merupakan tim penyapu, yang jalan paling belakang untuk memastikan tidak ada mahasiswa yang tertinggal.

Aku ketika itu ketawa-ketiwi, melihat ading tingkatan. “Sampai jua kah itu?” hohoho ku membatin, soalnya aku kasihan overweight, ini pasti membuatnya sangat capek.

Disepanjang jalan yang kami lalui, saya menjumpai sejumlah mahasiswa yang terbaring “pingsan”. Sebenarnya, kalau ada yang pingsan begini pertolongan pertamanya adalah jangan dikerumuni, soalnya si pingsan akan sulit bernafas. Baru longgarkan pinggangnya, atau yang melekat yang menyebabkan ketat. Berikan kayu putih, atau teh hangat manis. Istirahat sejenak, sebelum kembali menuju lokasi. Saya saat itu berlalu, bukan karena tidak perduli. Tapi, jika terus disana saya juga tidak banyak membantu karena sudah banyak rekan-rekannya.

Kami berjalan, jalan lebar sudah menyempit jalur perlahan berubah menjadi kecil untuk dilalui. Hari menuju malam, hujan mengguyur. Sejenak aku tertegun, “dulu, aku pernah begini.” Ku mengenang PKL terdahulu. Kami tak singgah, perjalanan terus berlanjut.

“Turunan, lokasi jauh lagi. Belum ada separuh.”  Teriak rekan kami yang membawa tas tadi.

“Gimana?” Kami bertahan dijalan mendaki yang licin, becek.

“Stop dulu, kita berunding.” Ujar ku yang paling tua diantara 7 orang junior yang masih baru.

“Maju apa mundur?” Kataku.

“Maju aja kak?”

“Ayooo, masa anak Sejarah mundur.” Sementara yang dibelakang sudah turun, kami memutuskan untuk maju. Hari hujan, dan jalan yang licin. Turunan maka akan menjadi sangat berbahaya. Saat itu kami terus maju, hingga bertemu lagi kelompok yang turun.

“Kami tetap naik.” Ujar seseorang dari kelompok kami.

“Bukannya di suruh turun?”

Dua kelompok yang mau naik dan turun bertemu. “Kayapa kak?” Aku disuruh menengahi.

“Sial, giliran begini aja aku yang disuruh.” Ku ketawa sendiri.

“Kami naik, karena jarak turun dan kelokasi sama jauhnya. Kalau turun, besok juga melalui jalur ini.” Kata junior ku.

“Siapa yang tanggung jawab? Disana kada ada dosen, kada ada yang tanggung jawab.”

“Bujur jua dia.” Ku ketawa kecil.

(terjemahan. Bujur: benar)

“Kami turunan.” Seorang wanita dengan tegas dan penuh perasaan berjalan turun.

“Keputusan kalian apa?”

“Turunan…” Ujar yang satunya, “kekeke, itu keputusan mu bukan kami.” Ku masih ketawa pelan sendiri, ne anak-anak kok kebawa emosi apa lagi yang cewe itu tadi hoho.

“Kalian tahukan, kalau turun itu licin, naik aja susah apalagi turun.” Ku coba mempengaruhi.

“Kami turunan…” Ucap tegas seorang perempuan.

“Buat yang turunan hati-hati ya…” Ku berdiri melihat sekitar 15 orang turun.

“Kam kenapa kada maksa buhannya naik?” Tanya rekan.

“Mau lah aku memaksa, dia punya pertimbangan sendiri. Kita tetap naik, kita juga punya pertimbangan sendiri.”

“Ayo kita terus maju.” Rombongan yang turun sudah berlalu, kami kembali berlanjut. Tak lama kami ketemu dengan orang menggunakan trail yang baru saja memperbaiki digital (receiver parabola).

“Jauhkah lagi man?”

“20 menit lagi.”

“Makasih man.”

“Man, lihatikan yang turun, tolongin man.” Ku bertitip pesan sejenak, beliau lalu tersenyum.

Benar kata beliau, kami berjalan hanya 30 menit sebelum sampai di balai tempat rest. Tak lama, 5 orang muncul. Benar saja, beliau menyuruh anak-anak itu naik. Mereka adalah 5 orang anak-anak yang turun, saat kami memutuskan naik tadi.

Setelah bersih-bersih di balai, kami duduk makan. Ada aja mahasiswa mengantarkan nasi dan mie, buat kami berdua. Saat itu kami makan sambil ngobrol, membicarakan mereka yang memutuskan turun, dan kira-kira mereka bermalam dimana aja.

“Kak, kawan kami ada yang hilang.” Deg, aku yang duduk makan sedikit.

“Ceritakan, gimana ceritanya bisa hilang.” Ketua angkatan dari mahasiswa yang baru itu bercerita.

“Buhannya ada yang laju, kada basinggahan. Buhannya sudah duluan, bajalan 2-3 orang.”

(terjemahan: buhan: mereka. Basinggahan: mampir/istirahat/stop.)

“Kapan?”

“Tadi 2 jam-an yang lalu.”

“Hah, kenapa gak langsung nyusul.” Mereka hanya diam.

“Sekarang jam 9an, kita susul. Sampai jam 10, kalau gak ketemu kita bulik daripada nambah yang hilang.”

“Tadi sudah ngomong ke kaka yang mapala? Tapi katanya nanti, tahunya sidin turun sudah.”

(terjemahan. Sidin: beliau/kamu (sapaan buat yang lebih tua))

“Sudah bilang ke orang disini?”

“belum kak?” ku cuma geleng-geleng, lah kok kawan hilang gak langsung nyari ataupun nanya kependuduk sekitar, buat nyari info.

“Didalam ada penduduk sini?” Soalnya aku ada di dapur, belum ada masuk ke ruang tengah.

“Ada… kita bicara minta pertimbangan.” Kami berjalan menuju tengah balai.

“Permisi pak.”

“Ya, ada apa?”

“Ini pak, kalau jalan ini diteruskan, itu sampai mana?”

“Ke Mancatur.”

“Kalau terus lagi sampai mana?”

“Jauh, gak ada kampung lagi.”

“Oh, gini man. Kawan kami ada yang terus, gak singgah disini.”

“Kapan?”

“2 jam-an yang lalu.”

“Mereka sudah sampai di mancatur.”

“Ulun khawatir, mereka kada dibukakan pintu lah sama warga disana. Kami suah PKL, pas ditengah hutan sawit, warganya kada ada yang membukakan pintu. Ditambah siapa tahu dia, malah gak ada nanya-nanya kependuduk lainnya jadi tetap terus jalannya.” Ku bercerita, sebenarnya sich biar mereka mau membantu mencari, selain mau berbagi pengalaman ke mahasiswa baru ini agar kedepannya kalau PKL bias lebih baik. Jangan jalan duluan, kada mengikuti rombongan banyak.

“Kira-kira man, kawalah mengantar kami ke Mancatur. Mamastikan haja, mereka sampai disana. Kada nyaman man, baganangan. Apalagi mereka ini masih baru-baru aja masuk kuliah.”

(terjemahan. Kawa: bisa)

“Kawa aja, mancatur itu cuma sekitar setengah jam aja, kada sawat mungkin.” Akhirnya 2 orang penduduk mau mengantarkan kami ke Balai tujuan, sementara sekitar 30 mahasiswa bertahan di balai yang berada sebelum mancatur.

Foto-0031 (FILEminimizer)

Sepanjang jalan mulai naik dari desa Kundan sampai ke Mancatur, kaki sudah keram tak bisa bergerak. Beberapa kali terpleset, kali ini harus berjalan lagi. “Kamu aja yang tulak.” Ujar ku. Dia hanya diam, akhirnya aku juga berangkat.

(Terjemahan. Tulak: berangkat)

Perjalanan kesana memang kurang setengah jam, andai aku sama lajunya. Sayangnya aku tertinggal di belakang ketika sampai Balai Mancatur yang menjadi tujuan.

“Gimana?”

“Mereka lengkap, kita pulang. Cuma yang ketua angkatannya aja bertahan disana.”

“Ne kekanakan kenapa kada turun? Bukan masalahnya kamu sampai disini duluan, hujan begini pastinya diluar rencannya. Diluar sana, pasti kebagi beberapa rombongan lagi nginap sepanjang jalan. Kalian kira kita gak ngeluarkan uang buat memberi tuan rumah.” Ku membatin, hal senada sudah ku beritahu kepada ketua angkatannya.

“Seenggaknya, di Mancatur kada tahitung mulai malam ini.” Ku berujar tanpa seorangpun mengerti.

Akhirnya kami sampai ke Balai sebelumnya, setelah berganti baju yang penuh tanah. Aku dan kawan duduk di pinggir dapur. “Kayapa nasinya tadi?”

“Haha, kada masak. Kada ada yang bisa masak saku ne kekanakan.”

(terjemahan. Saku: kalau.)

“Masa?”

“Lihat tu, mana ada yang habis.” Ku menunjuk kea rah tumpukan piring.

“Iya.”

“Aku tadi lihat yang sholat?”

“Kenapa?”

“Ibaratnya ini, kita ini sedang di gereja. Masa sholat didalamnya, tu kekanakan kenapa kada cari kamar atau pindah ke dapur. Kesannya kaya kada menghormati.”

“Wkwkwk, maklum masih hanyar.”

“Kenapa kada ikam tagur?”

“Ya elah, mana mereka meherani kecuali ada yang hilang. Hoho.”

“Haha… kita gabung ke dalam yuk.”

“Ayooo…” Kami menuju keorang kampung sini yang berkumpul, bermain kartu. Mereka tampak kalem-kalem aja bermain.

Mereka asyik main domino, tampaknya ada satu orang master yang hafal kartu lawan. “Kayapa?” Kawan saya nanya.

“Ambil, kekanakan disini kada ada nyurung wadai atau maulah banyu. Coba ku bawa, ku ulahakan. Mau pang white koffee sebungkus gasan batujuh wkwkwkw.” Ku setengah berbisik, sementara itu dia ketawa-tawa.

Setelah membawa makanan, suasana menjadi sedikit cair. Tampak obrolan ringan, ku berjalan ke dapur. “Makanan kak.” Ada yang menawari ku.

“Kalian ada bawa kopi lah, kalau ada buatkan kopi gasan yang disana.”

“Kada ada, kak.”

“Pian maukah?”

Ku melihat dari bungkusnya, Good Day Ice Cold. “Kada…” Ku jadi ketawa-ketawa, gimana ya kalau orang tua disana dibuatkan good day yang seperti itu wkwkwk.

Tak lama, suara genset mati. Balai menjadi gelap, ya malam ini nampaknya menemui waktu untuk melelapkan mata. Aku masih duduk dan mengobrol dengan kawan tadi, hingga jam setengah 1 aku baru terlelap. Tidur ku terlalu lelap untuk menyadari semua keganjilan yang terjadi. Jam 5 mata ini otomatis terbangun, sebelum kembali tidur lagi wkwkwkwk.

Foto-0039 (FILEminimizer)

2 thoughts on “Perjalanan Menuju Mancatur: Perjalanan yang Panjang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s