Upacara Kematian Rambu Solo di Tana Toraja

upacara rambu solo

Upacara Kematian Rambu Solo dok: http://www.antarafoto.com

Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi.

  1. Upacara Kematian

Budaya merupakan hasil adaptasi manusia dengan alam dalam usahanya mempertahankan diri. Kebudayaan yang merupakan hasil perwujudan dari ide maupun gagasan ini kemudian dituangkan dalam sebuah aktivitas sosial yang kemudian diriwayatkan dari generasi terdahulu kepada generasi sekarang dan diteruskan untuk generasi di masa depan.

Kebudayaan ini menurut J.J. Hoenigman memiliki wujud 3 jenis yaitu:

  1. Gagasan (mentifact). Wujud budaya dalam dimensi berupa gagasan, nilai-nilai, norma, peraturan yang tidak dapat diraba ataupun disentuh. Budaya ini hanya ada dikepala masing-masing anggota masyarakat.
  2. Aktivitas (Sociofact). Wujud budaya ini nampak pada kegiatan yang berpola di dalam sebuah masyarakat, atau lebih dikenal dengan sistem sosial yang dapat berupa adat atau tata kelakuan yang ada dalam sebuah kelompok.
  3. Artefak atau benda. Wujud budaya ini merupakan benda fisik yang dapat disentuh dan merupakan buah dari gagasan dan aktivitas sosial yang dilakukan di dalam masyarakat.

Setiap masyarakat memiliki kebudayaan yang berbeda, namun unsur-unsur yang melekat di dalam kebudayaan ini memiliki persamaan yang bersifat universal. Unsur kebudayaan yang bersifat universal:

  1. Kesenian
  2. Sistem Teknologi dan peralatan
  3. Sistem organisasi masyarakat
  4. Bahasa
  5. Sistem mata pencarian hidup dan sistem ekonomi
  6. Sistem pengetahuan
  7. Sistem religi

Upacara Kematian dapat digolongkan dalam sistem religi atau kepercayaan. Dimana di dalam masyarakat tertentu Kematian memiliki tempat yang khusus di dalam kepercayaan mereka. Kematian merupakan siklus kehidupan yang berperan besar dalam kehidupan seseorang. Kepercayaan akan adanya kehidupan setelah Kematian, di mana roh yang berpisah dari jasad manusia akan hidup di sekitar mereka dan mempengaruhi kehidupan mereka.

Dalam masyarakat Dayak yang berada di luar Kalsel, upacara Kematian merupakan sebuah ritual keagamaan yang diselenggarakan dengan besar-besaran di dalam masyarakat. Berbeda dengan suku Dayak yang ada di Kalsel di mana justru upacara syukur atas panen yang melimpah justru menjadi ritual yang diselenggarakan dengan besar-besaran seperti Pesta Panen atau Aruh Ganal. Hal serupa juga terjadi di Sulawesi Utara di mana Upacara Kematian mendapatkan porsi yang besar di dalam masyarakat Toraja.

Upacara Kematian di Tana Toraja kita mengenal tradisi “Rambu Solo” yang merupakan upacara pemakaman kedua dalam kepercayaan Suku Toraja yaitu Aluk Todolo.

  1. Letak Kabupaten Toraja

Kabupaten Tana Toraja merupakan salah satu dari 23 kabupaten yang ada di propinsi Sulawesi Selatan yang terletak diantara 2º20´sampai 3º30´ Lintang Selatan dan 119º30´ sampai 120º10´ Bujur Timur. “Ibukota” Tator yakni kota kecil Rantepao adalah kota yang dingin dan nyaman, dibelah oleh satu sungai terbesar di Sulsel yakni sungai Sa’dan, sungai inilah yang memberikan tenaga pembangkit listrik untuk menyalakan seluruh Makasar. Secara Sosio linguistik, bahasa Toraja disebut bahasa Tae oleh Van Der Venn. Ahli bahasa lain seperti Adriani dan Kruyt menyebutnya sebagai bahasa  Sa’dan. Bahasa ini terdiri dari beberapa dialek , seperti dialek Tallulembangna (Makale), dialek Kesu (Rantepao), dialek Mappapana (Toraja Barat).

Batas-batas Kabupaten Tana Toraja adalah

–          Sebelah Utara : Kabupaten Luwu, Kabupaten Mamuju, Kabupaten Mamasa

–          Sebelah Timur : Kabupaten Luwu

–          Sebelah Selatan : Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang

–          Sebelah Barat : Kabupaten Polmas

Luas wilayah Kabupaten Tana Toraja tercatat 3.205,77 km² atau sekitar 5% dari luas propinsi Sulawesi Selatan, yang meliputi 15 (lima belas) kecamatan. Jumlah penduduk pada tahun 2001 berjumlah 404.689 jiwa yang terdiri dari 209.900 jiwa laki-laki dan 199.789 jiwa perempuan dengan kepadatan rata-rata penduduk 126 jiwa/km² dan laju pertumbuhan penduduk rata-rata berkisar 2,68% pertahun.

  1. Suku Toraja dan Aluk Todolo

Suku Toraja adalah suku pendatang yang kini menjadi penduduk asli pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.

Pada awalnya, imigran tersebut tinggal di wilayah pantai Sulawesi, namun akhirnya pindah ke dataran tinggi. Proses adaptasi yang cukup ekstrim bagi para pendatang, tentunya membuat mereka secara rasional lebih memilih untuk pindah dari pesisir menuju dataran tinggi di utara lalu menetap di gunung Kandora, dan di daerah Enrekang. Orang-orang inilah yang dianggap merupakan nenek moyang suku Toraja.

Ada yang mengira bahwa tempat asal suku Toraja dari Teluk Tonkin yang terletak antara Vietnam utara dan Cina selatan. Sebetulnya, orang Toraja hanya salah satu kelompok penutur bahasa Austronesia. Jika dilihat dari Suku Tana Toraja yang pada hari ini masih mendiami daerah pegunungan, mereka masih mempertahankan gaya hidup Austronesia yang asli dan cenderung memiliki kemiripan dengan budaya yang ada di Nias.

Nama Toraja sendiri sebenarnya merupakan kata dari Bahasa Bugis yaitu to riaja yang mana berarti “orang yang berdiam di negeri atas”. Identitas mereka yang kita kenal bernama Toraja merupakan pemberian dari perintah kolonial Belanda yang memberikan nama itu pada tahun 1909. Versi lain menyebutkan bahwasannya kata Toraja awalnya bernama toraya. Kata tersebut merupakan gabungan dari dua kata yaitu “to” yang berarti orang dan “raya” yang berasal dari kata maraya yang berarti besar. Artinya jika digabungkan menjadi suatu padanan makna orang-orang besar atau bangsawan. Seiring dengan berputarnya roda kehidupan lama-lama penyebutan nama Toraya berubah menjadi Toraja. Sementara itu kata Tana yang berada di depan kata Toraja memiliki arti sebuah negeri. Sehingga pada hari ini tempat pemukiman Suku Toraja dinamai Tana Toraja atau negeri tempat orang-orang besar berada.

Pada masa kolonial Belanda, Tana Toraja dibagi menjadi lima daerah, yang dipimpin oleh bangsawannya masing-masing. Daerah-daerah Makale, Mengkendek, dan Sangala dipimpin masing-masing oleh seorang bangsawan yang bergelar Puang. Daerah Rantepao dipimpin bangsawan yang bergelar Parengi, sedangkan .daerah Toraja Barat dipimpin bangsawan bergelar Ma’dika.

Dalam hubungan sosial, masyarakat Suku Toraja di Tana Toraja mengenal pembagian kasta seperti yang terdapat di dalam agama Hindu-Bali. Kasta atau kelas ini dibagi menjadi 4 (empat): Kasta Tana’ Bulaan, Kasta Tana’ Bassi1, Kasta Tana’Karurung, Kasta Tana’ Kua-kua.

Suku Toraja menarik garis keturunan dalam kelas sosial melalui ibu atau matrilinear. Mereka tidak diperbolehkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih tingi, ini bertujuan untuk meningkatkan status pada keturunan berikutnya.

Dalam hal kepercayaan, mereka memiliki kepercayaan asli suku Toraja yaitu Alukta atau kita kenal sebagai agama kepercayaan Aluk Todolo yang kemudian ditetapkan pemerintah menjadi salah satu sekte dalam agama Hindu Bali.

Mayoritas penduduk suku Toraja masih memegang teguh kepercayaan nenek moyangnya, Aluk Todolo (60 %) maka adat istiadat yang ada sejak dulu tetap dijalankan hingga hari ini. Hal ini terutama pada adat yang berpokok pangkal dari upacara adat Rambu Tuka’ dan Rambu Solok. Dua pokok inilah yang merangkaikan upacara-upacara adat yang masih dilakukan dan cukup terkenal.

Masyarakat Suku Toraja memiliki pegangan dan arah hidup untuk menjadi manusia (manusia=”tau” dalam bahasa toraja) sesungguhnya dalam konteks masyarakat toraja. Pandangan tersebut memiliki empat pilar utama yang mengharuskan setiap masyarakat toraja untuk menggapainya, antara lain: Sugi’ atau Kaya, Barani atau Berani, Manarang atau Pintar, dan Kinawa dalam artian memiliki nilai-nilai luhur, agamis, bijaksana.

  1. Rambu Solo

Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman bahkan selalu diajak berbicara.

Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.

Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

Puncak dari upacara Rambu solo ini dilaksanakan disebuah lapangan khusus. Dalam upacara ini terdapat beberapa rangkaian ritual, seperti proses pembungkusan jenazah, pembubuhan ornament dari benang emas dan perak pada peti jenazah, penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan, dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.

Selain itu, dalam upacara adat ini terdapat berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, diantaranya adu kerbau, kerbau-kerbau yang akan dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum disembelih, dan adu kaki. Ada juga pementasan beberapa musik dan beberapa tarian Toraja.

adu kerbau dalam upacara Rambu Solo dok: http://hasanuddin-airport.co.id

Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam “masa tertidur”. Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.

Pemotongan Kerbau pada acara Rambu Solo dok:http://hasanuddin-airport.co.id

Kerbau yang disembelih dengan cara menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan, ini merupakan ciri khas masyarakat Tana Toraja. Kerbau yang akan disembelih bukan hanya sekedar kerbau biasa, tetapi kerbau bule “Tedong Bonga” yang harganya berkisar antara 10 – 50 juta per ekornya.

Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.

  1. Jenis-Jenis Upacara Rambu Solo

Berdasarkan status sosial orang atau tingkat ekonomi keluarga yang diupacarakan, aluk rambu solo’ dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:

  1. Silli’, yakni upacara pemakaman untuk kasta paling rendah, yaitu kasta kua-kua atau budak. Upacara jenis ini tidak ada pemotongan hewan sebagai persembahan dan dibagi dalam beberapa bentuk, seperti dedekan (upacara pemakaman dengan memukulkan wadah tempat makan babi) dan pasilamun tallo manuk (pemakaman bersama telur ayam).
  2. Pasangbongi, yakni upacara yang hanya berlangsung satu malam. Yang termasuk jenis ini antara lain bai a’pa’ (persembahan empat ekor babi), si tedong tungga (persembahan satu ekor babi), di isi (pemakaman untuk anak yang meninggal sebelum tumbuh gigi dengan persembahan seekor babi), dan ma’ tangke patomali (persembahan dua ekor babi).
  3. Di batang atau di doya tedong, yakni upacara untuk kasta tana’ basi (bangsawan menengah) dan tana’ bulan (bangsawan tinggi). Selain kerbau, upacara jenis ini juga mempersembahkan babi dan ayam. Upacara biasanya digelar selama 3-7 hari berturut-turut. Pada akhir acara, dibuatkan sebuah simbuang (menhir) sebagai monumen untuk menghormati orang yang wafat.
  4. Rapasan, yakni upacara khusus bagi golongan tana’ bulan (bangsawan tinggi) yang digelar selama 3 hari 3 malam. Termasuk upacara jenis ini, antara lain rapasan diongan (rapasan tingkat rendah hanya memenuhi syarat minimal persembahan 9-12 kerbau), rapasan sundun (rapasan lengkap persembahan 24 ekor kerbau dan babi tak terbatas), dan rapasan sapu randanan (rapasan simbolik dengan persembahan yang diandaikan 30 ekor kerbau).
  1. Tingkatan dalam Upacara Rambu Solo

Upacara ini adalah semua upacara keagamaan yang mempersembahkan babi dan kerbau untuk arwah leluhur atau untuk orang yang meninggal dunia seperti upacara pemakaman secara adat, upacara ma’nene’. Upacara ma’nene’ adalah upacara memotong babi atau kerbau untuk orang yang sudah dikuburkan bertempat di pemakaman liang batu.

Kematian membawa malapetaka, penderitaan batin keluarga yang ditinggalkan dan bukan itu saja, tetapi membwa konsekuensi tanggung jawab solider seluruh anggota keluarga dan persyaratan agama dan adat yang harus dipenuhi agar jiwa seseorang akan damai dan selamat meninggalkan dunia yang fana ini menuju ke dunia yang tentram di Puya.

Dengan memberikan segala pengorbanan materi yangs anggup disediakan, anggota keluarga merasa menunaikan kewajiban dan tanggung jawab yang tidak dapat dielakkan selama anggota keluarga itu masih bersedia mengikuti tradisi adat, agama, dan persentase keluarga di mata orang di kampung.

Hampir seluruh kehidupan masyarakat Toraja difokuskan untuk upacara sesudah meninggal dunia, namun dalam melaksanakan upacara pemakaman secara adat dan terbuka, bergantung dengan kedudukan dalam masyarakat dan kemampuan seseorang.

Tingkat – tingkat upacara pemakaman dalam aluk todolo :

  1. Disilli : upacara pemakaman yang paling sederhana. Dulu, orang miskin dari tingkatan budak sering dikuburkan dengan cara yang menyedihkan, misalnya dengan hanya membekali mayat dengan  telur ayam, tetapi sekarang rata – rata keluarga menguburkan orang mati dengan memotong seekor babi. Upacara penguburan disilli adalah aluk golongan masyarakat budak, terutama untuk menguburkan anak yang belum dewasa.
  2. Anak yang lahir dan meninggal ditanam bersama urihnya tanpa upacara keagamaan. Sedangkan, anak yang meninggal sebelum giginya tumbuh, dimasukkan ke dalam pohon kayu besar dengan upacara sederhana dan tanpa pembalut kain.Pohon tempat penguburan ini disebut LIANG PIA atau PASSILLIRAN. Kedua cara penguburan ini, berlaku bagi semua golonga, baik golongan bangsawan maupun golongan rendahan.
  3. Dipasangi Bongi. Upacara penguburan orang mati yang acaranya hanya satu malam di rumah dan hanya seekor kerbau dipotong dan beberapa ekor babi. Upacara ini bagi orang tua dari golongan terendah atau golongan menengah yang tidak mampu ekonominya.
  4. Dipatallung Bongi. Upacara penguburan ini berlangsung selama tiga malam di rumah. Empat ekor kerbau dipotong dan babi sekitar sepuluh ekor. Hari kedua, tamu datang membawa sumbangan berupa babi, tuak, dan umbi – umbian. Beberapa tempat nasi tidak boleh dimakan di tempat itu dan semua keluarga terdekat mempunyai kewajiban untuk pantang makan nasi selama berlangsungnya upacara dan beberapa hari sesudah upacara. Selama tiga malam berturut – turut diadakan acara ma’badong.
  5. Dipalimang Bongi. Upacara pemakaman yang berlangsung selama lima hari lima malam. Hari ketiga adalah hari penerimaan tamu. Tamu atau kenalan mendapat kesempatan membawakan sumbangan berupa minuman tuak, buah – buahan, umbi – umbian, kerbau, rokok ataupun  gula pasir.
  6. Sembilan ekor kerbau dan puluhan ekor babi dipotong. Patung orang yang meninggal itu dibuat dari bamboo. Patung itu disebut TAU – TAU LAMPA. Tau – tau ini dihiasi dengan pakaian adat tetapi pada waktu hari penguburan, pakaian dan perhiasan diambil kembali. Tidak semua kampung mengadakan pemakaman seperti ini. Upacara pemakaman ini merupakan upacara tingkat yang paling tinggi.
  7. Pada malam terakhir diadakan persiapan untuk satu acara khusus yang disebut acara MA’PARANDO, dimana semua cucu almarhum yang sudah gadis, diarak pada malam hari, duduk diatas bahu laki – laki dengan perhiasan semacam pakaian penari yang terdiri dari perhiasan emas goyang dan kandaure. Mereka dibawa keliling rumah tiga kali dengan memakai obor. Para penonton memuji kecantikan gadis, namun adapula yang mencemoohnya. Orang yang mencemooh tidak dimarahi selama masih dalam batas – batas norma kesusilaan. Sepanjang lima malam selalu dilakukan ma’badong. Seluruh anggota keluarga berpantang tidak makan nasi sampai seluruh embel – embel acara selesai.
  8.  Dipapitung Bongi. Upacaranya 7 hari 7 malam. Setiap malam dan setiap hari ada acara pemotongan kerbau dan babi. Keluarga terdekat pantang makan nasi selama acara berlangsung. Acara hari penerimaan tamu lebih meriah banyak babi dipotong, kerbau 9 sampai 20 ekor. Kepala kerbau diperuntukkan bagi rumah tongkonan dan daging kerbau diberikan kepada tamu dan penduduk desa.
  9. Dirapai. Upacara penguburan orang mati yang paling mahal ialah mangrapai karena dua kali diupacarakan sebelum dikubur. Upacara pertama diadakan di rumah tongkonan dan kemudian diistirahatkan satu tahun, baru upacara kedua diadakan. Upacara pertama dalam bahasa daerah disebut dialuk pia. Pada upacara kedua, orang mati diarak dengan pikulan ratusan orang dari rumah tongkonan ke rante (tempat upacara kedua). Upacara ini disebut ma’paolo / ma’pasonglo’. Orang mati dibungkus kain merah dilapisi emas, diikuti oleh tau-tau dan janda almarhum dalam usungan yang dihiasai emas serta diiringi oleh puluhan ekor kerbau jantan yang berhias yang siap untuk diadu satu lawan satu. Setelah tiba dir ante, mayat dinaikkan ke satu bangunan tinggi khusus tempat orang mati itu (lakkian). Acara – acara lain menyusul, seperti acara adu kerbau, acara sisemba, dan acara tari – tarian.
  10. Dirapai dibagi menjadi tiga :
    1. Rapasan dilayu-layu dengan target terendah dua belas ekor kerbau.
    2. Rapasan sundun dengan target minimum 24 ekor kerbau yang dipotong.
    3.  Rapasan sapurandanan dengan jumlah kerbau yang dipotong paling rendah 30 ekor.
    4. Ketiga tipe rapasan ini memotong babi ratusan ekor dan puluhan kerbau belang yang mahal harganya.
    5. Pada rapasan sapurandanan, kerbau yang dipotong terdiri dari semua warna bulu kecuali warna kerbau putih (tedong bulan). Jenis kerbau dan tingkatan nilanya :
      1. Tedong bulan (kerbau putih), tidak termasuk penilaian.
      2. Tedong sambao’ (kerbau abu – abu), dinilai paling rendah.
      3. Tedong todi’, berwarna putih sediikit di antara dahi dan tanduk.
      4. Tedong pangloli, berwarna putih pada ujung ekor.
      5. Tedong pudu’, berwarna hitam.
      6. Tedo bonga sori dan kapila, berwarna belang pada bagian kepala.
      7. Tedong bonga dan saleko, berwarna belang, bernilai paling tinggi.

Selain itu,  kerbau dinilai dari bagusnya tenduk dan kegemukan badannya. Kerbau belian dan kerbau sambo ra’tuk termasuk yang mahal harganya. Balian ialah kerbau yang dikebiri dan panjang tanduknya. Sedangkan kerbau sambo’ ratuk berwarna putih bintik – bintik di seluruh badan.

  1. Penutup

Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya. Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau, Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya.

Bagi masyarakat Tana Toraja, orang yang sudah meninggal tidak dengan sendirinya mendapat gelar orang mati. Bagi mereka sebelum terjadinya upacara Rambu Solo’ maka orang yang meninggal itu dianggap sebagai orang sakit. Karena statusnya masih ’sakit’, maka orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, seperti menemaninya, menyediakan makanan, minuman dan rokok atau sirih. Hal-hal yang biasanya dilakukan oleh arwah, harus terus dijalankan seperti biasanya.

Sedangkan penggunaan musiknya yaitu Musik suling, nyanyian, lagu, puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah. Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman dalam “masa tertidur”

Daftar Pustaka

Admind. Selasa, 12 April 2012. “Kebudayaan Toraja yang sangat unik”. situs: www.kebudayaantoraja.blogspot.com diakses pada: 16 Februari 2014 pada 12:04 WITA.

Admind.-. “Pengertian Budaya Menurut Koentjaraningrat”. situs: www.bimbingan.org diakses pada: 16 Februari 2014 pada 12:31 WITA.

Admind. 29 Oktober 2013. “Rambu Solo, Pemakaman Khas Tana Toraja”. situs: www.wisata.kompasiana.com diakses pada: 16 Februari 2014 pada 13:10 WITA.

Ariyanto Bakti Panggala. 2012. Adat dan Budaya Toraja. Barana: SMA Kristen Barana.

Cahaya Intan dkk. Sabtu, 3 Nopember 2013. “Makalah Antropologi: Kebudayaan Toraja”. situs: www.farid-wuz.blogspot.com diakses pada 16 Februari 2013 pada 12:24 WITA.

Contributor.-. “Aluk Todolo: Agama Kepercayaan Suku Toraja”. Situs: www.kebudayaanindonesia.net diakses pada: 16 Februari 2014 pada 12:06 WITA.

Contributor.-. “Suku Toraja: Suku Toraja Bangsawan yang Berdiam di Tanah Atas”. situs: www.kebudayaanindonesia.net. diakses pada: 16 Februari 2014 pada 11:46 WITA.

David Dwi Marta. 2010. Wisata Murah Sulawesi. Yogyakarta: Kata Buku.

Kompas. Jumat, 20 Desember 2013, 08:35 WIB. “Kebudayaan Toraja Ditampilkan dalam Festival Internasional”. situs: www.nationalgeographic.co.id diakses pada: 16 Februari 2014 pada 12:10 WITA.

Redaksi. Jumat, 14 Juni 2013. “Rambu Solo, Adat Pemakaman Toraja yang Masih Terjaga”. Situs: www.frontroll.com diakses pada: 16 Februari 2014 pada 13:31 WITA.

Rotua Tresna Nurhayati Manurung. 2009. Upacara Kematian di Tana Toraja: Rambu Solo. Medan: Fakultas Sastra Universitas Sumatra Utara.

Samsuni. 23 Februari 2008. “Upacara Adat Rambu Solo”. situs: www.wisatamelayu.com diakses pada: 16 Februari 2014 pada 13:24 WITA.

Yanu Irdianto Priandana. 10 Maret 2013. “Pengertian Kebudayaan, Unsur-Unsur Kebudayaan, Wujud Kebudayaan dan Perubahan Kebudayaan”.  situs: www.yanuirdianto.wordpress.com diakses pada: 16 Februari 2014 pada 12:34 WITA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s