Marlong, Animar, dan Barabai

Rubbermarkt te Barabai dokumentasi oleh media-kitlv.nl tahun 1927

Rubbermarkt te Barabai dokumentasi oleh media-kitlv.nl tahun 1927

Karet bukan merupakan tanaman khas yang ada di HST, namun dibawa oleh orang Belanda dan kemudian ramai di tanam oleh masyarakat di seluruh HST. Keberadaan Pasar Barabai tak bisa dijauhkan dari penjualan karet. Di zaman Belanda, Karet diperdagangkan dengan cara di bawa ke Pasar untuk ditunjukan kemudian dijual kepada calon pembeli. Berbeda seperti sekarang, dimana penjual karetnya menawarkan kepada pengepul yang kemudian menjualnya kembali.

Tahun 1970-an merupakan masa jayanya dimana melahirkan banyak animar[1]. Mereka bertampilan necis dengan sepatu bersih mengkilap, memakai topi lebar ala koboi. Kebanyakan dari mereka menggunakan kendaraan roda jenis DKW dan DSA. Mereka berbelanja tanpa melakukan penawaran dan langsung jadi. Produksi karet tertinggi saat itu setelah Kab. Tabalong, Kab. Banjar, dan Kab. H S U.

Satu kilogram marlong[2], cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama seminggu. Bayangkan jika setiap petani mampu menjual 20 kg Marlong. Pada masa itu pengepul atau tengkulak belum banyak. Pada masa itu pemerintah bangga melihat kemakmuran, hidup berkecukupan, dan damai. Pemerintah melalui Departemen Perdagangan kemudian membangun Pasar Lelang Karet Barabai (PLKB) pada tahun 1985. Hal ini dimaksudkan agar petani tidak dibodohi oleh tengkulak pada saat itu, serta Petani mengetahui harga karet sebenarnya.

Pembeli di PLKB merupakan eksportir karet dari Kalsel dan Kalteng. Pasar Lelang ini dibuka setiap Jumat petang, yang datang kesini bukan hanya petani karet dari HST, tapi juga dari HSS, Tabalong, dan berbagai daerah lainnya. Perminggu tak kurang dari 230 Ton Marlong terjual, separuh diantaranya dihasilkan oleh Petani dari HST.

Kegiatan di PLKB ini tidak berlangsung sampai 10 tahun. Tengkulak yang pada awalnya tidak masuk PLKB mulai menguasinya. Petani yang menyadarinya mulai kecewa, karena para Tengkulak tersebut justru yang menjual langsung kepada eksportir. Kekecewaan ini mendorong Petani berhenti menjual karetnya di PLKB dan memilih menjual langsung entah kepada tengkulak ataupun pedagang supaya mendapatkan uang lebih cepat.

Zaman keemasan dari produksi dan penjualan karet mulai memudar. Hasil penjualan satu kilo gram marlong tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Satu kilogram marlong dihargai Rp. 3.600 sementara harga satu kilogram gula Rp. 4.500. Peremajaan karet yang dilakukakan secara swadaya oleh masyarakat, sementara peranan dari pemerintah cendrung kurang membuat produksi karet semakin turun. Pohon karet yang tua kemudian di potong dan dijadikan kayu bakar.


[1] Sebutan untuk petani karet yang kaya

[2] Sebutan untuk SIR (Standart Indonesia Rubber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s