Pasar Tradisional, Pasar Modern, dan Dualisme Ekonomi

traditional_market_by_harnowo-d5cq93g

Apa itu pasar? Pasar itu menjelaskan 2 hal yaitu spasial dan aktivitas. Pasar dalam arti spasial itu menunjukkan pada sebuah tempat, ya tempat. Pasar jenis ini biasanya merujuk pada pasar tradisional ataupun pasar modern, di mana penjual dan pembeli bertemu secara langsung. Pasar dalam arti aktivitas adalah transaksi perdagangan. Maksudnya pedagang dan pembeli melakukan transaksi jual-beli, artinya tidak menuntut adanya spasial atau ruang. Dalam arti ini juga pasar juga melepaskan diri dari dimensi waktu, yang mana transaksi ini bisa terjadi kapan saja. Kamu bisa transaksinya tengah malam, pagi, habis bangun tidur.

Bicara tentang 3 hal ini (pasar tradisional, pasar modern, dan dualisme) memang tak menemukan titik pangkal di negara berkembang. Karena kesenjangan keduanya menyebabkan terlalu banyak perbedaan yang samar-samar dan penuh ketidakjelasan.

Pasar tradisional sendiri selalu dikaitkan dengan transaksi penjualannya yang bersifat tawar-menawar, di mana harga terbentuk dengan sistem sliding (harga luncur). Harga yang terbentuk dengan sliding inilah yang membuat persaingan terjadi antara penjual dan pembeli menentukan harganya terjadi. Faktor kedekatan membuat harga menjadi lebih murah, bahkan pedagang berani mengambil kerugian demi langganannya (pembeli). pasar ini biasanya menganut sistem ekonomi subsistem, di mana produksi hanya sebatas untuk memenuhi permintaan saja, tidak menyediakan kelebihan untuk di jual dengan jangkauan yang lebih luas.

Pasar modern selalu dikaitkan dengan transaksi penjualan yang harganya telah ditentukan sebelumnya. Dengan sistem label ini, maka faktor kedekatan antara pedagang dan pembeli tidak berpengaruh, namun karena ini pula persainga justru terjadi antar pedagang. Karena setiap toko klontong yang nama bekennya supermarket, mini market atau retailer yang populer dengan nama Hypermart, Giant, Robinson, Alfamart, Indomaret. Itu membuka persaingan antar penjual dengan menawarkan produk yang lebih murah daripada penjual lainnya.

Terus apakah pasar modern itu benar-benar modern? Jawabnya ya enggak, pasar modern dan tradisional itu cuma pengukur alias pembanding. Sesuatu yang ideal itu hanya imajinasi belaka. Misalnya begini: pasar modern itu menggunakan sistem label, sehingga harga tak bisa ditawar. Apakah benar begitu? Enggak, kalau kamu belanja di sebuah supermarket kamu akan menjumpai kartu anggota yang akan memberikan potongan harga. Artinya, faktor kedekatan menjadi penentu di mana langganan akan mendapatkan harga yang lebih murah bukan. Lalu apakah di pasar tradisional itu harga dibentuk oleh tawar-menawar? Enggak, saat kamu membeli barang A, misalnya mie. Kamu akan mendapatkan harga 2000 per bungkus, tak peduli kamu beli di langganan atau bukan langganan untuk produk yang sama. Barang sudah di label. Alasan kenapa barang yang dijual dengan label? Untuk efektivitas, karena kalau barang dijual dengan tawar menawar, maka akan semakin rumit dan panjang pembukuannya. Kebayangkan kan kalau ada 5 pembeli mie yang belinya cuma 3 bungkus pertransaksi, kamu harus tawar-menawar harga. Apa gak lucu,šŸ˜€

Dualisme ekonomi ini nampak di mana di sebuah pusat perbelanjaan, selalu dikepung oleh jenis usaha informal seperti pedagang kaki lima yang menawarkan produk yang lebih murah daripada di pusat perbelanjaan tersebut. Inilah ketimpangan ekonomi, yang mana satu pihak sudah mencapai tahap modern lalu bagian lainnya masih tertinggal. Alhasil,terciptalah dualisme di mana pasar tradisional membayangi pasar modern, dan pasar modern membayangi pasar tradisional. Apa yang salah kalau pasar tradisional jadi pasar modern? Asalkan tidak dimainkan oleh pedagang yang bermodal besar saja, seperti pendirian minimarket dengan jarak 1 km antar mini market yang sama dan 100 meter dengan mini market lainnya, dan 20 meter antar toko klontongan. Pasar tradisional di modernisasi, baik secara infrastruktur maupun tata pengelolaannya. Saya pikir, pasar tradisional pasti akan menuju pasar modern, di mana tawar-menawar akan mulai ditinggalkan. Generasi akan berubah, anak muda yang berpendidikan akan mulai menggantikan orang tuanya berdagang. Mungkin saja generasi saya ini merupakan generasi yang tak bisa melakukan tawar menawar, sehingga lebih suka dengan mencek label jika mahal tidak beli dan bila dinilai murah baru akan dibeli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s