Pasar dan Sungai di Kalimatan Selatan

Foto-002

dimuka Pasar Kalindo Banjarmasin

Hai jumpa lagi di artikel yang berbau sejarah dan ekonomi ya. Di sini aku nulis berdasarkan pengamatan ku semata ya,😀 gak ada referensi selain pengamatan saja,😀 plus pemikiran yang dibangun selama kuliah aja.😀

Pasar merupakan tempat di mana penjual dan pembeli bertemu untuk melakukan transaksi jual-beli. Sungai merupakan daerah aliran air. Jadi apa hubungannya?

Pasar merupakan tempat di mana masyarakat memenuhi kebutuhannya. Sehingga faktor lokasi menjadi penting. Hasil pengamatan saya, di beberapa tempat ada pasar yang mendekat ke konsumen. Artinya, pasarnya itu ada karena faktor ekonominya. Misalnya, pasar-pasar sore yang mingguan, pasar pagi di depan gang. Terus ada pasar yang secara tradisional ada di situ dari masa ke masa gitu. Kayak pasar-pasar induk atau utama yang ada di kota-kota.

Baiklah, di Kalsel ini masalah pasar dan sungai itu sepertinya berkaitan erat. Kita berangkat dari Banjarmasin ya.

Pasar Lama dan Pasar Sudimampir. Perhatikan deh pasar ini, pasar lama itu ada di pinggir sungai Martapura. Terus ada juga yang namanya Pasar Sungai Lulut yang letaknya dipinggir sungai, terus Pasar Cemara di Kayu Tangi. Pasar ini pun ada di pinggir sungai loh. Nah, ini menunjukkan bahwa sungai penting bagi masyarakat banjar dalam mendistribusikan barang. Di Pasar Sudimampir, tepat di bawah jembatan arah menuju Ramayana. Di situ banyak kapal-kapal yang berasal dari Hulu Sungai dan Kalimantan Tengah untuk mengangkut barang.

Selanjutnya kita ke Martapura ya. Untuk Banjarbaru, kayaknya gak ada Pasar yang di pinggir sungai. Karena daerah ini baru, maksudnya baru dibangun gitu tidak dari dulu ada bisa dikatakan tidak masuk dalam kota tua yang lahir di Kalimantan Selatan gitu.😀 Pasar Batuah di Martapura ini kalau diperhatikan, dia berada di pinggir sungai yang membelah kota. Lanjut ke Hulu Sungai, di sini lokasi pertamanya adalah Kabupaten Tapin, Pasar Rantau itu tepat di samping Sungai Rantau. Lanjut ke Hulu Sungai Selatan, kita akan menjumpai Pasar Kandangan yang berada di sebelah Sungai Amandit. Lalu kita ke Hulu Sungai Utara, nah Pasar Amuntai berada di sebelah Sungai Nagara. Kita lanjut ke Hulu Sungai Tengah, maka Sungai Benawa yang melintasi kota Apam ini akan membuat kita menjumpai Pasar Murakata. Lanjut ke Kabupaten termuda di Kalimantan Selatan yaitu Balangan. Maka Pasar Paringin berada disisi Sungai Balangan. Pasar Tanjung berada di tepi sungai Tabalong yang melintasi Kabupaten Tabalong.

Jukung yang ditambatkan didekat Pasar Barabai. Sumber: kitlv.nl

Jukung yang ditambatkan didekat Pasar Barabai. Sumber: kitlv.nl

Nampaknya, kota-kota tua yang lahir pada masa Belanda yang dulunya merupakan afdeling berubah menjadi pusat perekonomian dan pemerintahan. Kota-kota ini dibangun di sepanjang sungai, hal ini tentu tak lepas dari peranan sungai yang sangat besar bagi masyarakat. Tidak hanya menjadi sarana transportasi namun juga menjadi sarana untuk mendistribusikan barang kebutuhan.

Namun, semenjak majunya jalur transportasi darat sekitar tahun 70an dan mencapai puncaknya pada tahun 90an. Maka, jalur angkutan sungai yang menggunakan kapal mulai menurun walau tidak benar-benar hilang setidaknya masih kita jumpai di Amuntai, Nagara, Marabahan. Kapal masih menjadi sarana angkutan barang dan orang yang murah. Angkutan darat secara umum membuat biaya distribusi barang dan jasa menjadi semakin efisien secara waktu dan ekonomi. Efesisensi ini penting, mengingat harga sebenarnya sangat ditentukan oleh faktor distribusi. Walaupun harga suatu produk itu murah, namun bila biaya distribusinya mahal maka harga jualnya pun menjadi mahal. Menjaga keseimbangan antara hulu dan hilir ini penting dan juga paling sulit karena ini untuk memastikan produk dapat mencapai ke konsumen secara efisien dan murah.

Jika anda memperhatikan, beberapa alasan kenapa pasar dan sungai bisa tumbuh bersamaan:

1. sungai menjadi media transportasi yang murah. Pada masa itu, penggunaan perahu maupun kapal masih lazim digunakan untuk mengangkut barang dan dipakai berjualan.

2. karena pasar yang berada di tepi sungai, maka perahu/kapal pedagang bisa menjadikannya dalam rute perdagangan. Jadi misalnya, berdagang di Kandangan dulu baru ke Barabai. Namun ini masih belum bisa dipastikan karena, apakah hari pasar ketika itu berurutan sehingga pedagang bisa melakukan itu.

3. pasar pada umumnya berada dalam kontrol pemerintah, sehingga kota yang memiliki pasar ini tidak tampil sebagai kota pemerintahan namun juga sebagai kota ekonomi. Ini penting, untuk mengatur pendapatan melalui pajak maupun aktivitas yang terkontrol oleh pemerintahan.

4. kota-kota yang menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi memiliki daya beli yang tinggi sehingga menguntungkan pedagang.

5. orientasi masyarakat masih ke sungai. Semenjak perang banjar dinyatakan selesai, maka pemerintahan Belanda yang mendirikan pemerintahan yang menggantikan Kesultanan Banjar. Untuk memadamkan gejolak perjuangan ini, pemerintah kemudian merelokasi rumah-rumah penduduk ini tidak lagi dibangun menghadap sungai namun menghadap jalan-jalan yang dibangun dari Banjarmasin sampai dengan ke Muara Uya. Hal ini tidak lepas, untuk mempermudah kontrol terhadap masyarakat.

Lalu, bagaimana dengan penyebab kemunduran sungai?

1. transportasi darat berkembang, media angkutan lebih efektif menggunakan jalan darat karena efisien secara waktu dan berbiaya murah.

2. terjadi pendangkalan sungai sehingga sungai yang dulunya bisa dilalui kapal sekarang sulit. Kalau masalah ini jadi keingatan dulu pernah ada cekcok sama anak geografi gara-gara pendangkalan ini.

Ceritanya itu begini: “sungai itu semakin tahun membesar.” Katanya.

“kenapa?” balas ku.

“kan terjadi erosi tanah, tanahnya mengikis kemudian sungai membesar.”

“Gak ada, sungai itu menyempit setiap tahunnya.”

“kok bisa?” dia balas bertanya.

“coba lihat prasasti era zaman kutai Kartanegara, kapal-kapal besar bisa lalu lalang darimana-mana. Sekarangkan gak bisa.”

Nah ceritanya segitu aja ya,😀

3. orientasi masyarakat sekarang ini ke darat. Berbeda dengan dulu masyarakat yang cenderung untuk menggunakan sungai dalam beraktivitasnya. Contoh konkretnya aja, kebanyakan rumah yang dibangun di pinggiran sungai itu arahnya menuju jalan raya. Hal ini menunjukkan bahwa sungai hanya dijadikan halaman belakang dari rumah mereka.

Artikel ini belum selesai, masih akan di update dan direvisi bila ditemukan ide dan fakta baru yang segar.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s