Bahasa Cinta: Bahasa Sederhana yang Rumit

Ini Cerpen

5-bahasa-cinta

Ilustrasi

Langit sore ini berwarna jingga mirip dengan warna jahe kalau gak salah juga. Kuningnya seperti kuning telur yang diberi pakan jagung. Ku duduk di sebuah taman kota, menikmati senja memang menyenangkan di tengah hiruk pikuk deru mesin kendaraan yang lalu lalang. Lampu taman mulai menyala, sementara aku duduk menunggu dan bimbang apakah dia akan datang sore ini. Tak seperti biasanya dia datang telat, dia selalu bilang “lebih baik datang 3 jam lebih awal, daripada telat 1 menit.”

Sudah jam 6 lewat 10, 10 menit sudah menghilang begitu saja. “Halloooo…” Ujarnya memecah kesunyian, walau sebenarnya gak sunyi-sunyi banget sih. Karena cukup banyak kelompok hobi berkumpul di sini. Bicara tentang datang lebih awal, dia sudah telah 30 jam kalau begini. Bagi ku tak masalah dia telat, asalkan dia datang. Kadang kita juga tak selalu telat, karena hidup juga dituliskan oleh takdir yang Kuasa.

“Akhir datang juga yang ditunggu.” Ujar ku melirik ke arah wanita yang penuh senyum simpul.

“Maaf-maaf, tadi macet di jalan. Gak apa-apa ya.” Senyumnya menghilangkan kemuraman ku. Entah kenapa, melihat senyum dan mata itu aku takkan sanggup merelakan diri ini menghapusnya.

“Iya, gimana tadi di kantornya?”

“Ya kaya biasa aja, sibuk ngentri aja.” Dia menyandarkan bahu. “Ehhh…” Dia hampir terjatuh, karena ini merupakan sebuah bangku yang tak memiliki sandaran. Ku berjalan membelakanginya untuk duduk. Kini dia bersandar di punggung ku, kami saling bersandar.

“Kamu capek?” Ujar ku ke dia.

“Iya.”

“Di sebelah mu ada minuman, minum aja.” Ku memandang lepas ke angkasa walau terhalang oleh bangunan-bangunan bertingkat.

“Makasih… Coklatnya.” Dia menghirup cokelat yang ku seduh setengah jam yang lalu tersebut. Setidaknya seteguk cokelat lebih baik untuk menghilangkan stres dan lelah yang menggelayut diwajahnya.

“Iya… Aku masakin kamu tadi, kita makan sama-sama ya.” Aku lalu beranjak berdiri, untuk duduk di sebelahnya. Melihat wajah dan senyumnya, sinar matanya memberikan kebahagiaan tersendiri. Entah kenapa senyum itu selalu membuat ku kuat. entah berapa senja yang kami habiskan hanya untuk duduk bersama saja. Dia bekerja di sebuah stasiun televisi lokal sementara aku petugas administrasi di sebuah harian pagi.

Kami bertemu di sebuah acara yang melibatkan media kami. Sebuah kerja sama media, dia dari media elektronik sementara aku dari media cetak. Dia mewakili bagian keuangan televisi lokal sementara aku bagian administrasi yang kebetulan diberi tugas untuk mengurus jalannya acara. “Mie goreng sosis, favorit ku.” Katanya menatap makanan itu.

“Sebenarnya pulang kantor tadi aku pengen buatkan yang lain, cuma sempatnya bikin itu aja.” Dia menyuap mie tersebut ke dalam mulutnya. Aku seperti bicara kepada boneka, dia sama sekali tidak menggubris ku.

“Gak apa-apa, ini lebih dari cukup. Walau kamu cuma bisa bikin mi goreng.”

“Haha, kamu harus belajar masak. Masa kalah sama aku, untuk mengalahkan mi goreng terenak ini kamu mungkin butuh kursus selama setahun.” Balas ku.

“Jiah…” Balasnya singkat.

“Gak makan?” Tanyanya lagi.

“Entah kenapa, cuma mandangin kamu aja jadi senang begini. Tiba-tiba lapar jadi hilang.”

“Ah gombal, lapar itu di sini, cinta itu di sini.” Dia menunjuk perut dan dada ku.

“Kamu gak tahu, cinta itu bukan dari hati. Tapi dari Tuhan, dia takdir hidup kita.” Aku menghirup cokelat itu. Setelah ku letakkan, dia mengangkat untuk meminumnya. Kami hanya duduk, membisu menikmati senja yang berganti malam. Sementara dia menikmati mi itu, bagi seorang tukang masak. Saat yang paling menyenangkan itu adalah saat makanan yang kita makan di nikmati dengan lahab. Waktu berubah dan mulai banyak pedagang asongan, pentol, kacang rebus, bahkan pengamen lalu lalang.

Kami diam membisu, namun lidah seperti kelu karena terlalu banyak bicara. “Kenapa kita diam-diaman?” Ujarnya memecah kesunyian di antara kami. “Dikira orang nanti kita lagi marahan.” Tegasnya.

“Duduk di samping mu aja membuat ku merasa senang, memandang mu saja aku seperti telah banyak bicara.”

“Dasar aneh.” Ujarnya sedikit ketus.

“Ayooo…” Aku bangkit setelah merapikan bekas makannya.

“Sekarang aku seperti berjalan bersama seorang ratu. Aku mau memamerkan orang yang menjadi kesayangan ku ke seantero taman ini.” Ku tersenyum sambil mengajaknya mutar-mutar.

“Haha…” Dia terkekeh sebentar.

“Aku mau makan gorengan dulu ya, kamu tadi ngabisin jatah mi ku. Hohoho…” Aku berdiri di sebuah gerobak penjual. Diapun berdiri, aku tahu ini baru pertama dia makan di pinggir jalan. Entah kenapa, aku merasa dia tanpa canggung mengikuti ku, saat aku menusuk-nusuk gorengan yang ada di hadapan ku. Aku memandangnya, ada sesuatu yang berbeda di wajahnya. Wajah itu seperti masuk ke dalam ingatan ku dan aku seperti terlempar ke masa depan. Kamu adalah paparan kebahagian yang tak terjelaskan, sama persis bagaimana ilmu pengetahuan tak bisa menjelaskan dengan pasti kenapa segitiga Bermuda merupakan lokasi yang penuh misteri.

“Kadang aku berpikir, apakah kita bertemu secara kebetulan.” Dia menatap ku.

“Iya, kita menyebut nya secara kebetulan untuk menyatakan kehadiran Tuhan secara anonim dalam hubungan ini. Tuhan mengirimkan takdir hidup, untuk ku menghabiskan sisa takdir itu bersama mu.”

“Bisa kah bicara dalam bahasa yang sederhana. Cinta tak terlalu rumit.”

“Tatap mata ku, ingat mata dan tatapan ini. Ini cinta yang hadir bersama hati ku, inilah cinta yang melihat jejak tanpa bekas.”

“Maksudnya?”

“Lihatlah melampaui penglihatan fisik, melihat ketidaknampakan, dan menjadikan kita selalu terhubung sayang.”

“Apa? Tadi kamu ngomong apa?”

“Mendengarlah tanpa suara, kau tahu aku tak perlu mengulang. Suara itu sudah teriang-iang di telinga mu.” Kami sampai di tempat parkiran.

“Besok pagi, antarin aku ke kantor ya.”

“Kok cewenya yang ngantar?”

“Kantor mu masuk jam setengah 9 gak masalah, ditempat ku jam 8 harus sudah diruangan.” Dia menjulurkan lidahnya, sebelum kami berpisah malam itu. Malam harus dilalui untuk menjumpai pagi yang penuh harapan. Pagi kadang berarti sebuah simbol bahwa kebaikan akan selalu hadir, tak perduli sedingin apa malam yang mencekam, seribut apa hujan menumbangkan pepohonan, atau sebanyak apa air meratakan perkampungan. Pagi akan datang dengan pengharapan, bahwa Tuhan akan selalu menjaga dan melindungi kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s