Makan Siang

Ini Cerpen

Ilustrasi

Ilustrasi

Kali ini aku berlari sendiri untuk menghabiskan pagi Minggu. Hari bebas kendaraan bermotor memang memanjakan pejalan kaki. Aku berlari dari rumah, menuju gubernuran tempat car free day dilaksanakan. Perjalanan ku kali ini harus menembus pasar pagi untuk mencapainya.

Sudah banyak orang yang berkumpul, mengelilingi masjid raya. Aku berjalan sendiri, entah kenapa aku lebih suka untuk sendiri. Ku berlari-lari kecil, menyusuri jalanan. Tiba-tiba, seorang membawa keranjang melintas tepat di depan ku. Alhasil ku menabrak, walau tidak membuatnya jatuh. Namun cukup membuat isi keranjang terhambur, oleh hantaman lutut ku.

“Maaf mbak.” Dia sudah memasang muka marah, sementara aku hanya diam.

Aku lalu mengambil kantong plastik, segera memungut makanan yang tumpah tersebut. Ada resoles, lumpia, dan pastel yang berantakan di pinggir jalan. Beberapa orang memperhatikan ku, namun ku mengambaikannya. Ada sekitar 7 makanan yang ku ganti.

“Sambalnya mbak.” Ujar ku meminta. Dia yang awalnya tercengang saja, akhir mengambilkan permintaan ku.

“Berapa mbak? Aku minta maaf sudah menabrak.”

“25 ribu. Iya mas, sama-sama. Kalau jalan itu lihat-lihat.” Ujarnya ketus.

“Hehehe, maaf-maaf.” Ku melanjutkan untuk berlari.

Sudah dua putaran aku berlari, ku duduk di muka masjid raya tersebut. Menghadap kearah air mancur yang menghiasi, ku mengambil makanan tadi. Ku duduk sambil menikmati, mengoleskan sambal yang diberikan. Mata ku menatap ke penjual tadi, dia memasukan keranjang jualannya ke dalam mobil.

Setelah menghabiskan kedelapan makanan tadi, ku lalu berjalan pulang ke rumah. Sudah jam 9, kalau lebih siang lagi mungkin harinya akan lebih panas. Handphone dalam saku ku berdering.

“Ko, di mana?” Mama ku menelpon.

“Di Masjid Raya, ada apa ma?”

“Kebetulan, ntar singgah di pasar. Mama nitip timun satu kilo, wortel dan kentang setengah kilo. Sawi dan kembang kol sekilo ya. Ayam sekilo juga, daun sop. Ini Tante Mira datang, jadi mau masak bareng.”

“Iya-iya…” Ujar ku sambil tak habis pikir. Sudah tampil show on untuk lari, malah disuruh belanja.

“Nanti diganti di rumah uang mu.” Aku lalu menutup telepon, mama ku memang hobi masak. Aku berjalan pulang, ada sekitar 3 km lagi aku baru sampai di rumah.

“Eh Eko, mau beli apa?” Acil yang berjualan menyapa ku, aku memang sudah biasa untuk membeli sayur-sayuran di sini.

“Titipan mama, timun sekilo. Daun sop, kentang dan wortel setengah kilo. Sawi 3 ikat, sama kembang kol setengah kilo cil.” Dengan cekatan wanita paruh baya itu mengambilkan pesanan ku.

“Cil ayam satu ekor.”

“Potong berapa?” Tanya penjual tersebut.

“Potong 18 cil.” Ujar ku sekenanya saja. dari bahan yang dikirimkan ini, sepertinya mama akan membuat ayam bistik dengan acar.

Aku memang sudah biasa untuk berbelanja ke pasar. Mungkin karena pengaruh mama ku, aku juga cukup mahir untuk memasak. Sebenarnya, aku berpikir lelaki yang istimewa itu lelaki yang jago masak.

“Berapa semuanya cil?” Tanya ku sambil menyambut beragam sayuran yang ada.

“55 ribu.” Aku merogoh uang yang ada di dompet.

“Ada acara dirumah?” Tanya acil tersebut.

“Gak tahu, tapi kayanya ada. Aku aja baru tadi ditelpon cil.” Ku menjelaskan sekena nya saja.

“Berapa cil?” Aku menagih ke acil-acil penjual ayam.

“24 ribu.” Ku merogoh kocek lagi. Setelah itu aku berjalan membawa belanjaan, dengan gaya olahraga ku mengangkut belanjaan. Hampir sejam aku dijalan, akhirnya sampai juga di rumah. Nampak ada sebuah mobil yang parkir.

Ku berjalan masuk, nampak penjual yang ku tabrak tadi sedang asyik ngobrol dengan mama ku bersama tante mira. Ku berjalan ke dapur, menaruh belanjaan tadi. Aku kembali berkumpul ke ruang keluarga. “Ini Eko Setiawan.” Mama ku memperkenalkan.

“Kenalin Ko, ini Nacita Swarsani.” Tante Mira memperkenalkan.

“Salam kenal.” Aku berjabat tangan.

“Tadi kami tabrakan tan.” Ku membuka obrolan.

“Oh kamu toh orangnya yang tadi diceritakan sama Cita.” Tante mira menanggapinya.

“Maaf tadi ya, aku benar-benar gak lihat.” Aku yang lalu duduk bergabung.

“Mending kamu sama Cita ke dapur, masakin belanjaan Eko tadi. Tante dan mama mu, mau ngobrol. Ini bukan obrolan anak-anak.” Tante Mira berujar, aku tersenyum kecut untuk menjauh. Nampak Cita mengiringi ku.

***

“Mau dimasak apa?” Cita menanggapi.

“Kamu ada ide, aku cuma disuruh mama ku buat beli ini.”

“Gak ada, aku gak bisa masak.” Cita duduk di kursi meja makan.

“Gimana kalau bikin ayam goreng dengan sayurnya cap cay aja?”

“Boleh lah.” Responnya.

“Kamu bersihin ayam tadi, aku bersihin sayur sambil nyiapkan bumbu.” Aku membagi tugas dengannya.

“Kamu kuliah?” Ku mengajaknya mengobrol.

“Kuliah, aku ngambil Ilmu Komputer.”

“Hebat ya, pasti kamu pintar banget ya.” Ku membersihkan sayur yang ada ini. Sudah diputuskan, bahwa tidak semua belanjaan ini akan dimasak, sebagian akan disimpan di dalam lemari pendingin.

“Ini sudah ku bersihin, di apakan lagi?”

“Di bagi 2, 9 potong di masukan dalam kulkas. Sisanya kita masak.”

Sementara itu aku mengulek sejumlah bumbu, aku mau membuat bumbu presto. Ayam-ayam ini akan ku presto terlebih dulu, sebelum ku goreng. Dia hanya melihat apa yang ku kerjakan. Sebagian bumbu aku sisihkan untuk membuat adonan cair untuk menggoreng ayam tadi.

“Tolong kupaskan wortel, kentang, dan timun ya.” Aku menyiapkan sayur-sayur yang akan dibersihkan kulitnya. Sementara itu aku menyiapkan sawi dan kembang kol tadi. Setelah siap, aku lalu duduk memperhatikan Cita yang tampak kesulitan.

“Kentangnya di potong dadu ya.” Aku memberi contoh, sementara itu aku aku membereskan wortelnya. Ku memotongnya dengan cepat, karena sebagian dari wortel akan ku jadikan acar bersama timun.

“Kamu sudah biasa masak?” Tanya Cita.

“Gak juga hehe.” Ujar ku disela memotong-motong.

“Kamu sudah punya pacar tanya ku?”

“Menurut mu?”

“Belum sih, harapan ku.” Ku tersenyum menyeringai padanya.

“Sudah.”

“Sayang sekali.” Jawab ku santai, bukanya pertanyaan sudah punya pacar atau belum itu pertanyaan yang standar aja.

“Sayang kenapa?”

“Gak apa-apa, lagian aneh. Wanita semandiri kamu, secantik kamu, kalau belum punya pacar ya aneh. Pasti beruntung pacar mu, kamu kan mandiri gitu.”

“Bisa aja, menurut mu begitu. Kalau aku belum punya pacar gimana?”

“Aku pasti pengen kenal kamu lebih dekat aja, kalau ada peluang aku mau masuk ke hati kamu.”

“Kamu ini jujur ya ke cewe?”

“Haha, gak juga. Aku belajar menaklukan wanita, tapi aku gagal. Terlatih patah hati, membuat ku yakin kalau jodoh itu sejujur apapun pasti ketemu.” Sementara itu bunyi panci presto bersiul-siul.

“Menurut mu cinta itu apa?” Cita bertanya, sementara itu aku mematikan panci tadi.

“Aku tak tahu.”

“Kenapa kamu mencari apa yang tidak kamu tahu?”

“Nah itulah yang ku bingungkan, aku ini gak ngerti tapi kenapa aku mencari itu.”

Ku membuka tutup panci, sambil menikmati aromanya. Ku melirik jam, sudah menunjukkan pukul setengah 12.

Ku panaskan panci yang berisi air, “masukan sayuran tadi ke sini, sekitar 2 menit aja. Habis itu angkat.” Ku memberi tahu.

“Kamu mau kemana?”

“Aku mau mandi dulu Heze bau asem.” Ku beranjak meninggalkannya.

***

Setelah 5 menit aku kembali ke dapur, “kita mulai masak.” Ku berujar, dia sibuk dengan hapenya.

“Ayo…” Jawabnya.

Ku menaruh wajan di atas kompor sambil memanasi minyak. Sebelum digoreng dicelupkan dulu ke adonan cair itu ya. Sementara aku mulai memasak capcay, setelah memanasi minyak. Ku masukan bawang putih yang di geprek, menimbulkan aroma yang membuat lapar. Perlahan ku memasukan sayur-sayur tadi untuk ku tumis, sejumlah bumbu aku masukan bersamaan.

“Gaya mu masak kaya paman-paman yang jualan di pinggir jalan itu.”

“Bisa aja.” Kataku sambil menuangkan kaldu ayam yang diikuti dengan air tepung meizena untuk mengentalkan saus. Tak seberapa lama, masakan yang ku buat selesai. Sementara itu Cita masih menggoreng ayam. Aku menaruh hidangan di atas meja. Selanjutnya aku membuat sambal untuk makan siang ini.

Aku mengambil pandal, “mau kamu apain ayamnya?”

“Aku mau cincang.” Ujar ku memotong-motong ayam tersebut. Setelah itu ku kembalikan ke atas piring, ku buatkan saus asam manis untuk ku tumpahkan di atas ayam tadi.

“Akhirnya masak juga.” Ujar ku duduk bersandar.

“Coba kamu panggil mama dan tante, kita makan. Mumpung masih panas.” Dia mengikuti perkataan ku. Sementara itu aku membersihkan peralatan masak tadi.

“Bikin sirup kah ma untuk minumnya?”

“Iya…” Ku lalu membuat satu teko sirup.

Cita sibuk menyiapkan peralatan makan, saat aku duduk kami semua bersiap untuk makan. “Cari pacar itu yang kaya Eko, biar bisa makan enak setiap hari Cit.” Tante Mira.

“Tan, kenapa aku gak pernah lihat Cita?”

“Cita ini anak yang terbuang.” Wajah Cita berubah.

“Gak, enggak. Tante becanda, Cita ini anak dari ade Tante kebetulan dia kuliah di sini. Jadi ikut tante, sebelumnya dia mengkost tapi mulai seminggu ini dia ikut tante.” Aku mengangguk mengerti.

“Kita jodohin aja gimana?” Tante Mira ke Mama ku.

“Ah ibu ini, bisa aja. Gak usah dijodohin, lihat aja kedua-duanya malu-malu kucing.”

“Iya ya…” Tante Mira membenarkan, sementara itu aku dan Cita cuma diam.

“Masakan apa ini Ko, kok enak?”

“Tante ini bisa aja, ini masakan Cita.” Ku meliriknya, dia tersenyum kecil.

“Ayam ini kok dicincang Ko?”

“Biar enak ngambilnya, trus disiram pake asam manis biar berasa segarnya tan. Jadi kalo dipadukan dengan sambalnya, jadi mantab tan.” Aku menjelaskan.

“Kamu ini, bagusnya buka rumah makan aja.”

“Ah tante bisa aja. Aku butuh orang yang jago ngitung tan, biar gak rugi.” Aku sedikit melirik.

***

Iklan

2 respons untuk ‘Makan Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s