Menepis Bias Subjektivitas melalui Arsip

dokumentasi di Depo Arsip Kalimantan Selatan

Naskah Proklamasi yang di pajang di Depo Arsip Banjarbaru (Dok: Pribadi)

Menurut undang-undang tahun 2009 nomor 43 tentang kearsipan. Arsip merupakan rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat diterima oleh lembaga negara, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Mengutip isi undang-undang ini, maka arsip tidak hanya berupa naskah-naskah melainkan juga berbagai media yang sesuai dengan perkembangannya. Hal ini juga menunjukkan bagaimana cara kita melakukan verifikasi atas arsip yang kita gunakan dalam menuliskan sebuah sejarah.

Arsip memang terbagi menjadi 2 yaitu arsip yang dinamis dan statis. Arsip dinamis ini, data yang berada dalam arsip itu masih mungkin mengalami perubahan seperti mengenai rekaman kegiatan yang masih berjalan. Arsip statis merupakan data yang sudah tidak lagi mengalami perubahan. Biasanya ini disimpan di Badan Arsip, misalnya kita jumpai pada cetak biru pembangunan sebuah pasar.

Arsip ini penting, dalam penelitian sejarah pada umumnya menempatkan posisi arsip sebagai sumber rujukan pertama. Hal ini tak terlepas dari peranan arsip yang menjadi dokumentasi resmi, walaupun terkadang dokumentasi ini juga masih sangat subjektif untuk kita lihat. Setidaknya, kita menghindari subjektivitas dari diri kita sendiri. Hal ini mengingat, objektivitas adalah subjektivitas orang lain yang kita pergunakan.

Ambtenaren Binnenlands Bestuur tijdens de feestelijkheden ter gelegenheid van koninginnedag te Barabai

Ambtenaren Binnenlands Bestuur tijdens de feestelijkheden ter gelegenheid van koninginnedag te Barabai (sumber: media-kitlv.nl)

Misalnya saja: pada zaman Belanda kita lebih sering menemukan dokumentasi para pejabat Belanda, sementara untuk pribumi kita jarang menemui yang berposisi sebagai pejabat. Kebanyakan merupakan buruh atau pekerja rendahan semata. Ini tentu merupakan subjektivitas bukan.

Apakah setiap arsip bisa kita gunakan dalam penelitian sejarah? Tentu saja tidak, begitu banyak arsip. Tentu kita perlu melakukan penyaringan, untuk menentukan arsip mana saja yang kita perlukan. Ini juga terkait dengan apa yang kita teliti, kalau kita meneliti tentang pasar maka arsip yang kita gunakan tentu terkait dengan pasar seperti pendapatan asli daerah dari sektor retribusi pasar.

Beberapa hal yang menjadi acuan dalam memverifikasi sebuah arsip:

  1. Otensitas,

Arsip dibuat oleh orang yang menyaksikan sendiri peristiwa yang terjadi apakah dia adalah pelaku ataukah dia seorang saksi. Misalnya: anda mengemuka sebuah arsip, apakah arsip anda otentik. Apakah pihak yang mengeluarkan ini bisa dipertanggungjawabkan? Jika anda mendapatkan arsip mengenai data pendapatan retribusi, anda harus memverifikasi apakah yang mengeluarkannya adalah Dinas Pendapatan atau pihak lain yang tidak berkaitan. Contoh lainnya, foto dokumentasi sebuah kegiatan. Apakah foto yang dikeluarkan itu merupakan dokumentasi si pemilik atau diambil dari pihak lain untuk kemudian dimanipulasi.

Cetak Biru Pasar Barabai (Murakata) yang disimpan di Depo Arsip Kalsel

Cetak Biru Pasar Barabai (Murakata) yang disimpan di Depo Arsip Kalsel dari Dinas PU Propinsi Kalsel (dok: pribadi)

  1. Originalitas

Originalitas ini biasanya ditunjukan dengan apakah arsip itu dibuat sezaman dengan peristiwa yang terjadi. Kita bisa melihat ini pada jenis kertas atau bahasa yang dipergunakan. Arsip yang berasal dari tahun 60-an, tentu bahasanya bukan bahasa EYD. Bila dokumentasi itu sudah berbahasa EYD, patut dicurigai bahwa dokumentasi itu tidak berasal dari tahun 60-an. Namun, lebih muda dari waktu yang diklaim.

  1. Kredibiltas

Bobot kualitas dari informasi tersebut benar-benar jujur atau sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu. Informasi tersebut memiliki tingkat kebisaan untuk dipercaya cukup tinggi atau tidak. Tidak mungkin kita menggunakan arsip yang informasinya tidak bisa dipertanggungjawabkan walaupun otentik dan original. Misalnya: kita menggunakan arsip untuk menelaah bagaimana survey pilpres ini berjalan, untuk mengetahui bagaimana tingkat akurasi sebuah lembaga. Kita ingin menggunakan data arsip dari pihak yang hasil survey banyak keliru karena memuat kepentingan untuk memenangkan pihak tertentu. Tentu saja tindakan kita keliru, karena lembaga itu sama sekali tidak akurasi.

Formulir Diskripsi Arsip Kartografi dan Keaksekturan

Formulir Diskripsi Arsip Kartografi dan Keaksekturan (dok: Pribadi)

  1. Integritas

Hal ini lebih menekankan pada kelengkapan dari arsip tersebut. Ini penting, mengingat sebuah arsip tidak mungkin berdiri sendiri bukan. Arsip A ada karena ada Arsip B. Bagian yang tak terpisahkan ini harus kita lihat untuk menilai kebenaran, sehingga kita tidak ragu-ragu dalam mengambilnya sebagai rujukan dalam menarik kesimpulan.

Arsip di UPTD Pasar Murakata ini mengkonfirmasi cetak biru bahwa bangunannya terdiri 2 lantai

Arsip di UPTD Pasar Murakata ini mengkonfirmasi cetak biru bahwa bangunannya terdiri 2 lantai (dok: Pribadi)

Arsip merupakan salah satu bentuk cara untuk menepis bias subjektivitas. Makin banyak arsip yang digunakan untuk mengkonfirmasi maupun tidak mengkonfirmasi apa yang menjadi subjek penelitian kita. Maka akan semakin baik, semakin banyak titik temu dari banyak sumber maka tingkat kebenaran dari arsip tersebut akan semakin baik. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s