Aceh, daerah Penyangga antara Inggris dan Belanda

Posisi strategis Aceh

Posisi strategis Aceh

Belanda yang datang ke Indonesia untuk berdagang dan mencari rempah-rempah belayar ke timur. Mereka sampai di India, namun mereka menyadari bahwa rempah-rempah yang mereka peroleh tersebut tidak berasal dari India. Perjalanan mereka terus berlanjut hingga mencapai Timur Jauh yang kemudian dikenal dengan Hindia Belanda (Indonesia).

Untuk memasuki wilayah Indonesia ketika, Belanda harus berlayar dan menjadikan Aceh sebagai lokasi transit untuk memasuki kawasan Malaka. Posisi Aceh yang menjadi gerbang untuk masuknya perdagangan maupun armada militer dari laut inilah yang menjadikan Aceh sangat penting. Pada Traktat London tahun 1824, Aceh dianggap sebagai wilayah yang netral sebagai penyangga hubungan Inggris dan Belanda di Sumatra. Inggris tidak menyukai dominasi Belanda di Aceh karena akan mengancam posisinya di Penang dan Singapura. Penang dan Singapura merupakan wilayah Inggris di Asia Tenggara. Ini disebabkan ketika, Perang Amerika berkecamuk antara Inggris dengan Amerika. Belanda ikut campur dengan mendukung Amerika. Kondisi yang memanas di Amerika ini ikut terasa di Indonesia. Para pedagang Inggris kemudian meminta sebuah wilayah untuk mereka kuasai terutama untuk mengisi perbekalan, mereka menjalin kesepakatan dengan negara-negara yang berada dikawasan Semenanjung Malaya. Alhasil, mereka mendapatkan Pulau Penang tersebut. Hal ini terutama untuk mengantisipasi kondisi serupa di masa mendatang. Aceh yang begitu agresif untuk melakukan penaklukan di Sumatra dan kawasan Semenanjung Malaya menjadi ancaman bagi posisi Belanda di Sumatra Timur.

Ada dua Peristiwa yang mendorong perubahan hubungan antara Inggris dan Belanda di Sumatra. Pertama, pembukaan perkebunan tembakau di pantai timur Sumatra pada 1869 oleh pengusaha Belanda Nienhuys. Potensi ekonomi kemudian terhambat karena kuatnya pengaruh Kesultanan Aceh. Kedua, aktivitas perompakan di sepanjang Selat Malaka dan pantai barat Sumatra yang kebanyakan dilakukan oleh orang-orang Aceh. Mereka yang melarikan diri ke perairan Aceh, armada angkatan laut tersebut tidak bisa melakukan penumpasan perompakan karena akan menimbulkan konflik dengan Inggris. Namun, saat kapal dagang Inggris ini di bajak, kedua negara sepakat melakukan penumpasan dengan bekerja sama. Bertolak dari kesepakatan ini, kedua negara kemudian setuju untuk menyusun kesepakatan baru yang kita kenal dengan Traktat Sumatera.

Pemerintah Belanda sudah lama menilai bahwa Aceh merupakan sebuah ancaman karena menjadi simbol bagi perlawanan pribumi kepada penguasa. Titik temu kedua kepentingan ini terjadi pada 2 November 1871 di London, ketika utusan kedua negara tersebut membuat kesepakatan dalam pembagian pengaruh mereka di Asia Tenggara. Kesepakatan ini dikenal dengan Traktat Sumatra. Utusan Belanda terdiri atas Joseph Lodewijk Hendrik Alfred Baron Gericke van Herwijnen dan Pieter Philip van Bosse, sementara Inggris adalah Laksamana Edward Alfres John Harris.

Artikel 1

Hare Britsche Majesteit diet af van alle vertoogen tegen de uitbreiding van het Nederlandsch gezag in eenig gedeelte van het eiland Sumatra, en mitsdien van het voorbehoud in dit opzigt voorkemende in de nota’s door de Nederlandsche en Britsche gevolgmagtigden uitgewisseld bij het sluiten van het traktaat van 17 Maart 1824.

“Paduka Raja Inggris melepaskan semua keberatan terhadap perluasan kekuasaan Belanda di bagian daerah pulau Sumatra dan dengan ini melepaskan syarat yang dimuat dalam nota-nota yang saling dipertukarkan oleh utusan Inggris dan Belanda pada saat pembuatan Traktaat tanggal 17 Maret 1824.

Dari isi Traktat ini menunjukkan bahwa Inggris secara de facto menguasai wilayah kekuasaan Belanda atas Kepulauan Hindia Belanda atas traktat tersebut. Belanda diberikan peluang untuk menguasai satu-satunya Kerajaan yang masih merdeka yaitu Aceh. Hal terpenting dari Traktat Sumatra ini adalah merubah batas wilayah yang selama ini hanya pada Singapura dengan Batam, melainkan menjadi di sepanjang pantai timur dan utara Sumatra dan semenanjung Malaya. Dengan adanya traktat ini pula, maka Selat Malaka terbagi menjadi dua.

2 thoughts on “Aceh, daerah Penyangga antara Inggris dan Belanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s