Inggris angkat kaki dari Sumatra

 

Raffles landing site di Singapura

Raffles landing site di Singapura

Kehadiran Inggris di kawasan koloni Belanda di Hindia Belanda sudah terasa sejak abad 18, ketika Inggris mendapatkan pijakan di Bengkulu dengan membangun benteng Fort Marlborough di sana. Sejak itu Belanda merasakan intervensi Inggris di wilayah koloni Sumatra. Perdamaian Wina dan penyerahan kembali koloni Hindia Belanda dari Inggris kepada Belanda, tidak mampu menjadikan hubungan itu membaik. Gubernur Bengkulu Thomas Stamford Raffles tetap menunjukkan niatnya untuk memperluas pengaruh Inggris di Sumatra dan Hindia Timur pada umumnya. Pada 30 Januari 1819 untuk pertama kalinya Union Jack (bendera Inggris) dikibarkan di Pulau Tumasek yang dipilih Raffles. Sejak itu Raffles mengubahnya menjadi Singapore atau Singapura.

Bagi Inggris kemunculan Singapura ini menjadi kemenangan besarnya. Singapura muncul sebagai pangkalan militer dan perdagangan terkuat. Malaka ketika itu masih dikuasai Portugis, sementara itu Inggris masih terus menjadi suatu ancaman di Kepulauan Hindia Belanda.

Pusat intervensi Inggris di kawasan Sumatra tetap berada di Fort Marlborough. Raffles yang berkedudukan di sini menjadi momok bagi para petinggi Belanda. Tingkah Raffles yang semakin meresahkan ini, mendorong Gubernur Jendral Belanda saat itu van der Capellen melaporkan kepada Raja Willem II. Untuk mengakhiri ketegangan ini, Willem II melalui duta besar di London mengirim surat kepada Raja Inggris Goerge untuk membuka pintu perundingan untuk menyelesaikan ketegangan hubungan mereka di kawasan Asia Tenggara.

Pada 17 Maret 1824 kesepakatan di capai untuk merevisi Traktat London yang telah dibuat pada 13 Agustus 1814 di London tentang pengembalian Hindia Timur oleh Inggris kepada Belanda.

Staatsblad van Naderlandsch Indie over het jaar 1825 nommer 19. (Lembaran Negara Hindia Belanda Tahun 1825 nomer 19)

Artikel 9

De factorij wan fort Marlborough en al de bezettingen van Groot Britannje, op het eiland Sumatra, worden, bij dezen afgestaan aan Zijne Majesteit and Koning der Nederlanden, en Zijn Groot Britannische Majesteit belooft ,dat ap dat eiland geen Britisch kantoor zal worden opgerigt, noch eenig traktaat, onder Britisch gezag gesloten met eenige der inlandsche vorsten, opperhoofden of staten, op hetzelve gevestigd.

Pasal 9

“Loji Fort Marlborough dan semua koloni Inggris di Pulau Sumatra dengan ini diserahkan kepada Paduka Raja Belanda, dan Paduka Raja Inggris berjanji bahwa tidak akan ada pemukiman Inggris yang akan dibuka di pulau itu, atau suat perjanjian yang dibuat oleh penguasa Inggris bersama para raja, pemimpin atau negara pribumi yang berada di sana.”

Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa Bengkulu (tempat loji Fort Marlborough) menjadi fokus untuk dilakukan pertukaran wilayah antara kedua penguasa koloni. Dalam pasal ini juga mempertegas bawa Inggris tidak akan membangun pemukiman di wilayah ini (pulau Sumatra) hal ini menunjukkan bahwa Inggris harus angkat kaki dan semua perjanjian yang dibuat dengan penguasa lokal harus ditiadakan. Hal ini terkait dengan kedudukan yang mempertegas posisi Inggris di Sumatra.

Artikel 10

Destadt en vesting van Malakka, met derzelver onderhoorigheden, worden bij dezen afgestaan aan Zijne Groot-Britannische Majesteit, en Zije Majesteit de Koning der Naderlanden belooft, voor zich en voor Zijn onderdanen, nimmer op eenig gedeelte van het schiereland van Malakka, een kantoor te zullen oprigten, of traktaten te zullen sluiten met eenige der inlandsche vorsten of staten, op dat schiereiland gevestigd.

Pasal 10

“Kota dan benteng Malaka dan taklukkannya dengan ini diserahkan kepada Paduka Raja Inggris dan Paduka Raja Belanda berjanji bagi dirinya dan rakyatnya tidak akan pernah mendirikan sebuah kantor di semenanjung Malaka, atau akan membuat perjanjian dengan raja-raja atau negara-negara pribumi, yang bermukim di semenanjung tersebut.”

Belanda secara jelas menyerahkan Malaka kepada Inggris. Ini juga menunjukkan bahwa Malaka aman dari penetrasi dan intervensi Belanda baik secara langsung maupun melalui penguasa pribumi.

Artikel 11

Zijne Groot-Britannische Majesteitziet af van alle vertoogen tegen het bezetten van het eilang Billiton en deszelf onderhoorigheden, door de agenten van het Nederlandsch Governement.

Pasal 11

“Paduka Raja Inggris melepaskan semua keberatannya terhadap pendudukan atas pulau Belitung dan jajahannya oleh agen-agen pemerintah Belanda.”

Apa yang menarik di sini? Persoalan yang selama ini mengganggu kedua hubungan negara ini diselesaikan dalam satu kalimat saja. Pada perjanjian Wina, Bengkulu diserahkan kepada Belanda dan Singapura kepada Inggris. Namun, Raffles sudah menjalin kerja sama dengan penguasa lokal. Hal inilah, ketika pertukaran itu terjadi pulau Belitung tidak termasuk didalamnya. Pulau-pulau yang berada di selatan Singapura menjadi sumber konflik terutama Belitung yang masih di klaim oleh Inggris. Belanda merasa keberadaan Inggris seperti duri dalam daging.

Artikel 12

Zijne Majeisteit de Koning der Nederlanden ziet of van alle vertoogen tegen het bezetten van het eiland Sinkapoer door de onderdanen van Zijne Groot-Britannische Majesteit. Daarentegen belooft Zijne Groot-Britannische Majeisteit dat geen Britsch kantoor zal worden opgerigt op de Carimons-eilanden of op de eilanden Battam, Bintang, Lingin, of eenigder andere eilanden, liggende ten zuiden van straat Sinkapoer, en dat met derzelver Opperhoofden geen traktaten, onder Britsch gezag, gesloten zullen worden.

Pasal 12

“Paduka Raja Belanda akan mencabut semua keberatan yang dibuat terhadap penduduk pulau Singapura oleh rakyat Paduka Raja Inggris. Sebaliknya Paduka Raja Inggris berjanji bahwa tidak ada kantor Inggris yang akan dibuka di Pulau Batam, Bintan, Lingin atau di bagian pulau-pulau lain yang terletak di selatan Singapura, dan tidak akan ada perjanjian yang dibuat oleh penguasa Inggris dengan para penguasa pulau-pulau itu.”

Pasal ini menunjukkan bahwa Belanda mengakui Singapura sebagai wilayah Inggris dengan syarat bahwa Inggris tidak melakukan intervensi terhadap pulau-pulau yang disebutkan tersebut. Hal ini juga mengakhiri semua ketegangan yang terjadi selama ini. Traktat London ini mendorong Singapura tumbuh menjadi pelabuhan yang ramai sebagai wadah transit utama semua perdagangan dan perkapalan di Asia Tenggara. Singapura menguasai dua pertiga dari perdagangan ekspor produk koloni Belanda di luar Jawa dan menjadi saluran impor dari luar yang akan memasuki pasar Hindia Belanda.

Traktat London ini menjadi hitam putih di mana Inggris angkat kaki dari Kepulauan Sumatra. Namun juga menandai awal dari kemajuan pesat Singapura dalam perdagangan, perkapalan, dan penempatan angkatan laut terbesar Inggris di Asia. Pemilihan Singapura sebagai pangkalan militer ini tak terlepas karena Inggris tak bisa menempatkan pasukannya di Hongkong. Pemerintah Cina tentu akan menilai Inggris sebagai ancaman bagi mereka. Hampir 2/3 perdagangan di Asia Tenggara melalui Singapura sebagai pusat perdagangan dan mengisi perbekalan mengalahkan Batavia. Tak mengherankan walaupun sudah disepakati, tetap saja Belanda menaruh curiga dan rasa tidak senang terhadap Inggris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s