Mitologi Burung Enggang dan Tambon dalam masyarakat Banjar

ab_rhinoceros_mouse_c1

Burung Enggang

Di Kalimantan pada umumnya dan Kalimantan Selatan khususnya menempatkan Burung Enggak dalam konsep makrokosmos. Tambon masuk ke dalam konsep mikrokosmos. Kepercayaan seperti ini dapat dimasukkan ke dalam jenis totemnisme dalam antropologi. Konsep kepercayaan terhadap binatang tertentu merupakan bentuk totemnisme. Kepercayaan terhadap totem ini paling mudah kita jumpai pada masyarakat India. Disana hewan sapi merupakan hewan yang paling dihormati. Ingat peristiwa The Indian Mutiny? Peristiwa pembantaian tentara India oleh Panglima Inggris. Jadi peristiwa ini didasarkan pada perintah untuk menjilat ujung peluru oleh sang panglima sebelum digunakan dengan tujuan untuk menghilangkan lemaknya. Tentara India yang Hindu menilai itu adalah lemak sapi, hewan yang sangat dihormati sehingga menolak perintah itu. Bagi tentara India yang Islam, menilai itu lemak babi sehingga menolak. Akibat penolakan itu terjadilah pembantaian.

Saya hanya menggambarkan bagaimana hewan dalam kepercayaan totem ini sangat dihormati. Kembali ke konsep makro dan mikro kosmos dalam kepercayaan orang Banjar. Konsep ini berkaitan dengan legalitas penguasa untuk mengklaim kekuasaan yang dimiliki. Menunjukkan bahwa dia bukanlah manusia biasa seperti rakyat yang dipimpinnya. Dalam konsep makro ini, atau lebih mudah kita sebut dengan dunia atas. Dunia atas atau langit inilah yang pada waktu raja Banjar pada masa legenda yaitu Pangeran Suryanata. Surya alias matahari merupakan bentuk perwailan dari dunia atas. Sementara itu perwakilan dunia bawah yaitu tambon atau kerbau yang memiliki sayap. Namun sejumlah referensi menyebutkannya sebagai naga. Jika enggang dinilai hidup di tempat yang tinggi atau langit maka tambon merupakan hewan mitologi yang hidup di air. Perwakilan dari dunia bawah ini kemudian kita kenal dengan Putri Junjung Buih. Salah satu hewan yang cukup terkenal dalam mikrokosmos ini adalah hewan buaya kuning yang memiliki legenda tersendiri.

Pernikahan dari dunia atas bawah inilah yang kelak menjadi pemimpin dari dunia manusia. Penggambaran mitologi ini dapat dilihat dari rumah Banjar yang memiliki bumbungan tinggi dan tongkat untuk tiang penyangga dari rumah tersebut. Sehingga bisa dikatakan bahwa tempat manusia berada dan beraktivitas adalah di dalam rumah, yang merupakan kehidupan duniawi dari manusia itu sendiri.

Kepercayaan terhadap konsep enggang dan tambon ini merupakan kepercayaan yang melekat bagi masyarakat Banjar. Semenjak era Kerajaan Banjar zaman legenda hingga masuk ke zaman Islam dan sekarang ini, maka kita masih menjumpai pelaksanaan upacara adat Manyanggar atau Sampir Besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s