Take a song, mereka sering menyebutnya dengan Takisung.

IMG_20151007_111147Salah satu pantai yang populer di Tanah Laut

Udah lama gak ngepost tentang travelling, kali ini karena ada teman yang bisa diajak ngetrip akhirnya jalan juga. Sudah setahun semenjak saya kerja, saya belum ada travelling. Namun, kali ini saya luangkan waktu. Gak akan ada kesempatan, jika gak dibikin. Jika dulu aku sering pulang ke kota yang jaraknya sekitar 180KM. Kota yang ku pikir hanya persinggahan sebentar saja.
Seperti biasa, perjalanan selalu dimulai di pagi hari. Sebelum matahari meninggi, alasannya biar gak kepanasan dijalan. Rencana awalnya mau ke Bukit Rimpi yang familiar dengan sebutan Bukit Teletubis. Namun, siapa kuasa? Musim kemarau menggersang, akhir perjalanan mengantarkan kami ke Takisung. Awalnya memang rame-rama dalam ngeplaning eh tau-taunya cuma berdua. Sesuai dengan semboyan, “jalan terus, walau apapun yang terjadi.”
Saya tinggal di Banjarmasin Utara, pagi itu perjalanan ini melintasi daerah gambut. Ya, nama daerah ini memang bernama Gambut. Disini aku terkejut, asapnya mengurangi visibilitas (jarak pandang-red) ku. Padahal ditempatku, kabut asap malah tidak ku jumpai. Memang kadang, bau asap kadang menyapa di pagi hari masuk ke rumah atau ruang kantor.
Walaupun sempat ke sasar, akhirnya sampai juga di bukit yang ingin kami tuju. Namun, saat itu gersangnya lebih mirip dengan gurun pasir daripada bukit berbunga (:D). “Gak jadi deh, mending kita balik ke Kota aja. Kita mau refreshing, bukan menikmati polusi debu. Haha.” Kami lalu mutar balik. Sampai di kota ini (Pleihari), kami memutuskan untuk ke Batakan. Berhubung gak tau jalan, akhirnya sampai di Takisung.
Dengan tagline, “weekend itu dimulai hari ini” akhirnya kami sampai di pantai yang sepi. Sudah hampir 4 tahun dari aku masa kuliah terakhir ke sini. Berbeda dengan dulu, di sini sudah berbeda. Pantainya tidak landai karena pembangunan siring untuk menahan abrasi laut. Memangsih masih ada bagian yang landai, namun nampaknya batuan disiapkan untuk memecah ombak.
“Dulu pas kita SMA ke sini, gak kaya gini.”
“Iya, dulu gak ada tenda-tenda. Kira-kira tenda-tenda ini untuk yang kemah, kalau dulu paling mentok orang jualan makanan sama souvenir.”
“Kira-kira.”
Kami lalu duduk disalah satu warung, memandang lepas ke pantai. Memandang langit dan laut yang birunya berbeda. Bercerita tentang yang telah lalu. Dulu setelah kami lulus, dia kabur ke Yogyakarta untuk study. Sementara aku menuju Banjarmasin untuk hal yang sama. Dia pulang dengan gelar, Sarjana Ekonomi Islam. Saya bergelar Sarjana Pendidikan dengan bidang studi Sejarah. Sekaran dia sedang studi master hukum ekonomi Islam. Sementara saya, lebih suka bekerja sambil menikmati saat-saat lepas dari dunia akademik.
Kami bercerita banyak hal, banyak hal termasuk kisah cintanya yang dilema. Entah kenapa dia belum menikah, padahal dia sudah memiliki pacar.

Jadi, dia itu orang Barabai dan pacarnya orang padang. Maklum ketemu di tanah rantau selama pendidikan. Alhasil, cinta bersemi diantara mereka dengan indahnya. Berbeda dengan ending yang indah, endingnya masih menggantung. Salah satu diantara mereka tak ada yang bisa mengalah, yang satu gak bisa ke Banjarmasin karena adat keluarga (orang padangkan terkenal dengan kuatnya adat. Ingat dengan Perang Paderi.) yang satu gak bisa ke Padang karena orang tua nya tidak bisa ditinggalkan karena sudah uzur.
“Hahaha, ada-ada aja cerita cinta yang kaya gitu.” Ujar ku melirik sambil tertawa.
“Mau gimana lagi?”
“Udahlah baik kita berkeluarga?”
“Hah?!?”
“Maksudku, aku sama kemenakan mu. Jadi kamu adalah acil ku. Kita jadinya berkeluarga, hahaha.”
“Maksud loe? Mana mau juga dia pacaran.”
“Bilang ke kemenakan mu, ada lelaki baik yang ingin menyukainya. Beritahu bapaknya, aku siap melamarnya. Kalau dia gak mau pacaran.” Ku tertawa lepas.
“Nanti aku kasih tau lah.” Ujarnya sedikit melirik.
Pasir yang kecoklatan ini, gak sebersih yang sering kita jumpai di televisi. Tapi biarkan saja, mungkin indahnya itu ada di sini. Walaupun pantai nya kotor gak, you know lah, di mana sih orang buang sampah?
Memang ada beberapa hal baru yang kita jumpai di sini. Seperti adanya mpv, ataupun kabar yang bilang ada banana boat. Tentu saja itu ada dihari libur, bukan di hari rabu seperti saat ini aku datangi. Seperti perjalanan santai, kami kemudian pulang ke Banjarmasin. Ya, kali ini aku singgah di Gapura Tanah Laut karena aku punya teman semasa kuliah yang membuka usaha rumah makan lesehan di sini.
Sepanjang jalan aku menjumpai motor-motor yang membawa kayu (entah kayu apa, jati, ulin, atau apa) ukurannya cukup besar entah digunakan untuk apa juga. Berbentuk balok persegi panjang berukuran besar. Tiap motor membawa 4 balok pada sisi kiri, dan 4 balok disisi kanan. Sayangnya saya belum sempat untuk memfoto. Soalnya ada tagline di kampus dulu, “no fact, no story.” Motor yang kuat ku pikir, tapi tentu ada hal yang dikorbankan untuk itu.
Perjalanan kami kemudian sampai di tempat tambal ban. Yap, motor yang kami gunakan bannya bocor. Disini sambil menunggu bannya selesai ditambal kami mengobrol sedikit.
“Eh kemenakan ku ngajak nonton teather di kampusnya.”
“Masih ada gak tiketnya?” Tanya ku.
“Dia beli 2 aja.” Ujarnya.
“Lah dua, gini aja cil. Acil istirahat aja, biar aku aja yang menemaninya. Mengganti acil, gak baik anak perempuan keluar malam berdua. Paling gak ada cowo yang menemaninya.” Ujar ku dengan tersesenyum.
“Hahaha… Biar gak.”
“Haha, acil istirahat aja. Percayakanlah kepada saya, semuanya akan baik-baik saja acil. Saya bukan penjahat, hahaha.”
“Mauk-mauk, diam-diam sudah kamu.”
“hahaha…”
Sebagian orang yang mengenal saya sebagai orang yang serius, kaku, dan prosedural. Namun, sebagian lagi mengenal saya sebagai sosok yang enak diajak jalan, asik, dan sebagian lagi mengenal saya sebagai orang yang humoris. Tentu saja, saya tidak kesemua orang bersikap yang sama.

IMG_20151007_130057
“Ini ketemu, ini foto gaya “girleatworld” yang aku ambil pake kerang tadi. Coba aku udah nikah, mungkin gaya yang narik tangan pacar itu.”
“Haha… Ini tangan…”
“Hahaha, gak baik, narik tangan peacilan. Aku memikirkan perasaan kemenakan mu. Hahaha… Itu tadi kardus mi yang ditulis namanya.”
“Hahaha, kok tahu.”
“Lah kamukan mahasiswa, kotak apalagi yang diharapkan.”
“Hahaha, emang ya mahasiswa itu identik dengan mie.”
“You know lah, makanan pokok mu…” Setelah mengantarkannya balik. Saya beranjak pergi, melintasi senja yang beranjak malam. Pulang untuk berisistirahat. Weekend itu dimulai hari ini. Ya catatan perjalanan ini berakhir di sini. Mungkin kamu bisa mengunjungi Pantai Takisung jika ada waktu libur. Rutenya sih gampang, kamu cukup menuju Pleihari. Ntar kalau udah sampai kotanya, ikuti saja petunjuk arahnya. Namun setahuku, kamu cukup jalan aja terus jangan belok-belok, jadi sampai kotanya kamu lurus aja. Jalannya bagus, ya walau ada sedikit ada lubang. Namun tidak banyak.
Di Tanah Laut ini ada sejumlah objek wisata, mungkin yang familiar sudah diantaranya Pantai Takisung, Pantai Batakan, Bukit Rimpi, Pantai Jorong, Gunung Kayangan, Taman Labirin. Tunggu saja episode kunjungan ke lokasi-lokasi. Saya lebih suka nulis gaya cerpen, daripada gaya artikel. Soalnya kesannya gak original, kita banyak mengutip dari sumber. Sementara pengalaman langsung yang kita rasakan itu lebih enak diceritakan.😀 Yap, week end itu dimulai hari ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s