Sejarah Bank Syariah di Indonesia

Pembiayaan dalam Islam dilakukan melalui akad yang sesuai dengan Syariah. Praktik perbankan yang kita kenal dewasa ini telah menjadi bagian dalam tradisi umat Islam yang semenjak zaman Nabi Muhammad SAW sudah diterapkan. Menerima titipan harta, memberikan pinjaman baik untuk kegiatan produktif maupun konsumtif, pengiriman uang, sudahlah lazim digunakan semenjak zaman Rasullullah.

Fungsi perbankan pada zaman Rasullah dilakukan oleh perorang, serta peranan ini semakin penting semenjak zaman Dinasti Abbasyiah. Hal itu tidak lepas dari tingginya transaksi dan banyaknya mata uang yang beredar. Sehingga diperlukan orang yang khusus untuk mengenali semua mata uang yang ada. Walaupun pada dasarnya orang perorang tersebut belum bisa dikatakan menjalankan fungsi perbankan secara penuh seperti dewasa ini (menerima penyimpanan, menyalurkan dana, dan pemindahan transfer dana). Orang-orang yang memiliki keahlian khusus ini dikenal dengan nama naqid., sarraf, dan jihbiz.

Istilah Jihbiz sendiri sudah dikenal semenjak zaman Muawiyah (661-680M). Semakin populer zaman Abbasyiah yaitu pada masa Khalifah Mutadir (908-932M). Pada masa itu setiap wazir (mentri) memiliki bankir sendiri. Peranan bankir ketika meliputi tiga aspek yaitu, menerima simpanan, menyalurkan dana, dan melakukan pengiriman uang. Pengiriman uang pada masa itu dari satu negeri ke negeri lain dilakukan tanpa melakukan pemindahan fisik uang. Ini sama seperti saat kita melakukan transfer dana dari satu bank ke bank lainnya dewasa ini. Pengiriman dana hanya mengubah catatan saja, sementara fisik uangnya belum berpindah. Sehingga ada bank yang bertindak layaknya penalang dana bagi nasabah jika antar cabang, dan bank sentral jika antarbank.

Rintisan perbankan Syariah di Indonesia di mulai pada tahun 1980. Di mana pada masa awalnya perbankan Syariah di rintis dalam skala kecil dengan berdirinya Bait Al-Tamwi Salman di Institut Teknologi Bandung dan Koperasi Ridho Gusti di Jakarta. Usaha pembiyaan non-bank ini menerapkan konsep bagi hasil. Melihat hal ini, MUI kemudian menindaklanjuti aspirasi masyarakat memperdalam konsep tentang keuangan syariah termasuk perbankan syariah.

18-20 Agustus 1990 dilakukan lokakarya mengenai Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Hasil lokakarya tersebut kemudian dibahas mendalam dalam Musyawarah Nasional Keempat MUI di Jakarta pada 22-25 Agustus 1990 yang menghasilkan amanat untuk pendirian Bank Islam pertama di Indonesia. Hasil kerja dari tim perbankan MUI ini adalah berdirinya PT. Bank Muamalat Indonesia (BMI). Akta pendirian BMI ditandatangani pada 1 November 1991 dan mulai beroperasi pada 1 Mei 1992. Pionir lain perbankan syariah yang lain adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Dana Mardhatillah dan BPR Berkah Amal Sejahtera yang didirikan pada tahun 1991 di Bandung atas prakarsa Institute for Sharia Economic Development (ISED).

Dukungan pemerintah dalam perbankan syariah ditunjukkan dengan menurunkan Undang Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan PP N. 772 tahun 1992. Hal ini menandai sistem perbankan ganda di Indonesia yaitu beroperasinya sistem perbankan konvensional dan syariah. Selanjutnya dilakukan penggantian dengan Undang Undang No 10 tahun 1998. Bank umum diperbolehkan melakukan usaha dengan prinsip syariah yaitu melalui pembukaan Unit Usaha Syariah (UUS). Pada undang-undang ini, untuk pertama kali istilah Bank Syariah menggantikan istilah “Bank Bagi Hasil” yang dipergunakan semenjak tahun 1992.

Pada tahun 1999, dukungan terhadap semakin berkembangnya perbankan syariah ditunjukkan dengan berdirinya disahkannya UU No 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang disahkan pada 17 Mei 1999. Bank Indonesia dimungkinkan untuk dapat menjalankan tugas dengan mengembangkan instrumen moneter berdasarkan prinsip syariah. Semenjak tahun 2000 Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan terkait perbankan syariah serta menciptakan instrumen-instrumen yang dapat dimanfaatkan oleh perbankan syariah seperti aturan mengenai kliring, pembukaan rekening giro pada Bank Indonesia bagi unit usaha syariah, giro wajib minimum (GWM) bagi bank umum syariah, pasar uang antarbank berdasarkan prinsip syariah (PUAS), Sertifikat Wadi’ah Bank Indonesia (SWBI), dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) berbasis syariah.

Bank umum syariah merupakan bank yang secara penuh beroperasi secara syariah dan bukan merupakan unit usaha. Bank pertama syariah adalah Bank Muamalat Indonesia yang beroperasi pada tahun 1992. Hingga lima tahun kedepan perkembangan bisnis syariah berlangsung lambat, hal ini ditandai dengan baru bertambahnya Bank Syariah pada tahun 1998 yaitu Bank Syariah Mandiri yang merupakan anak usaha dari Bank Mandiri. Pada tahun 2001 barulah berdiri PT. Bank Mega Syariah, tahun 2009 berdirilah Bank Bukopin Syariah dan BRI Syariah. Baru sekitar tahun 2014 berdiri BCA Syariah. Hampir semua bank konvensional Indonesia memiliki anak usaha Bank Syariah yang berdiri secara independent.

Satu respons untuk “Sejarah Bank Syariah di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s